Banner

Tampilkan postingan dengan label FILM INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILM INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Selesai (2021) : Sedikit berbeda, Sedikit kompleks

|

padapanik.com - Ternyata bisa juga tidak ke bioskop selama 1 tahun, pandemi di Indonesia yang tadinya  bikin resah, sekarang mulai terbiasa. Salah satunya adalah tidak ke bioskop. Meskipun kemarin sempat dibuka, tapi sekarang malah lebih ke males, bukan karena pengen tetap di rumah aja. Kebiasaan menonton bioskop pelan-pelan mulai digantikan dengan menonton dirumah. Apalagi, banyak pilihan nonton platform legal yang murah meriah mulai masuk ke Indonesia. Meskipun jumlah penonton nya tidak sebanyak ketika dulu bioskop buka. 

Sambil menunggu beberapa film Indonesia yang menunda penayangannya, ada satu film baru lagi yang sudah sejak lama di promosikan di media sosial dan akhirnya rilis juga. "Selesai" jadi film karya kedua dari Tompi setelah "Pretty Boys" (2019) tayang di bioskop. Film keduanya juga tayang di bioskop tapi bioskop online. Dengan berani mematok harga 40ribu (dimana ini sudah seharga satu tiket bioskop di weekend) di websitenya. Film ini ternyata berhasil mencapai 100ribu penonton. Lumayanlah yah, semoga balik modal.

Rumah tangga Ayu (Ariel Tatum) dan Broto (Gading Marten) diambang perceraian karena perselingkuhan nya dengan Anya (Anya Geraldine) selama 2 tahun sudah tidak bisa lagi ditahan oleh Ayu akhirnya meledak juga. Ditengah pertengkaran mereka, situasi pandemi memaksa mereka tidak bisa kemana-mana. Ditambah lagi, ibu dari Broto (Marini Soerjosoemarno) malah ikut mengungsi ke rumah mereka. Hal ini bikin Ayu dan Broto menyembunyikan pertengkaran nya dan menunda perceraian. 

Tompi kembali mempercayai Imam Darto sebagai penulis film nya. Duo ini kembali menciptakan film drama yang berbeda. Jika di bandingkan dengan film sebelumnya, Penulisan Imam Darto jauh lebih kompleks disini, berani mengambil resiko dan bisa dibilang cukup liar. Meskipun ada beberapa dialog explicit yang berlebihan dan menurut saya tidak perlu sebanyak itu. 

Film khas pandemi dimana tidak banyak cast yang terlibat namun semuanya cukup tepat porsinya, sayangnya film ini tidak berhasil menggambarkan situasi pandemi covid-19 seperti yang ia ceritakan dalam filmnya. Jika cerita dari film ini lebih baik dari Pretty Boys, secara teknis, Pretty boys lebih baik. Demi mengulang kesuksesannya menghasilkan gambar-gambar yang cantik dalam film pertamanya, Tompi terkesan terlalu memaksakan menambahkan banyak elemen color grading yang terkesan tidak sesuai dengan suasana film yang ingin di bangun. Malah terkesan seperti film-film horor luar negeri. Ke-tidak-singkron-an antara proses produksi dengan post production nya membuat warna dari film ini berubah-ubah atau bisa dibilang tidak konsisten. 

Secara cerita, film ini mengangkat isu yang menarik. Seorang wanita yang hanya diam bertahun-tahun mengetahui suaminya selingkuh namun ia memilih untuk memendam demi tetap bisa membahagiakan mertua nya yang sudah ia anggap seperti mama kandung nya sendiri. Sungguh dilema yang menarik, ia tidak bisa memilih, harus bersama keduanya. Iblis dan Malaikat dalam kehidupannya yang sendiri. Akting Ariel Tatum harus mendapat apresiasi disini, kebimbangan, dan emosi nya yang berubah-ubah menjadi daya tarik sendiri dan menjadi alasan kenapa film ini tidak tertebak twistnya. Untuk Gading Marten sepertinya tidak perlu diragukan lagi. Pengembangan karakternya sangat menarik Broto sangat menarik dimana ia bisa panik sekaligus tenang dalam satu scene. Dalam proses tertekannya, ia berusaha tetap menyebalkan dengan malah mencari celah untuk melawan balik. 2 Karakter yang kontra jadi satu membuat karakter Broto begitu menarik sekaligus mempermainkan emosi penonton. Kekayaan karakter keduanya membuat rasanya menjadi berbeda dari drama lainnya. Hal yang cukup mengejutkan karena sebelum menonton film ini, isu tentang jeleknya film ini sudah beredar dimana-mana dan itu hampir saja membuat saya tidak jadi nonton. Faktanya, film ini cukup menarik untuk ditonton dan lebih dari itu, film ini sedikit berbeda. 

7/10

Penulis :

 Ashari @arhieashari

Jalan Satu Arah di New York, Kisah yang biasa saja - Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

|

padapanik.com - film baru Indonesia lagi yang tayang di Netflix. Untung saja tayang di OTT satu ini, kalau enggak, mungkin saya gak nonton film ini. Soalnya, sampai hari ini masih aja belum kembali ke bioskop. Dari yang tadi nya parno sampai sekarang lebih ke udah males. Mungkin nanti aja deh pas ada film super keren yang gak bisa ditolak, saya akan melepas selimut mager ini dan kembali ke bioskop. 

Ali & Ratu ratu Queens adalah salah satu film yang menarik saat melihat trailer nya. Meskipun premis ceritanya tidak begitu menarik, tapi sepertinya cukup ringan dan seru untuk ditonton dirumah. Ditambah lagi, komposisi Cast nya sangat menarik. Iqbal Ramadhan, Marissa Anita, dan Ibnu Jamil adalah komposisi keluarga yang menarik. Selain itu ada komposisi geng Ratu Queens yang gak kalah gokil. Tika Pangabean, Asri Welas, Nirina Zubir dan Happy Salma. Baru liat trailer nya saja, saya sudah bisa membayangkan keseruan geng satu ini. 

Ali (Iqbal Ramadhan) sejak kecil ditinggal oleh Ibu nya (Marissa Anita) ke Amerika untuk mengejar cita-cita nya yang tertunda sebagai seorang penyanyi. Sayangnya, sang ayah (Ibnu Jamil) tidak pernah setuju dengan rencana itu, dan lebih memilih membesarkan Ali sendirian. Hingga akhirnya, Ayah Ali meninggal. Ali dewasa akhirnya memutuskan untuk pergi ke New York sendirian, mencari ibu nya. Ali beruntung, di perjalanan nya yang buta arah itu, ia bertemu Party (Nirina Zubir) dan geng nya. Ali yang harusnya bisa saja menjadi gembel di Amerika malah tinggal bersama geng Queens yang seru sembari tetap berjuang mencari ibunya. 

Film ini banyak menggunakan pengambilan gambar yang unik, seperti handheld jadi kesannya raw gitu. Sayangnya konsep tersebut pada akhirnya tidak mendukung berbagai suasana dalam filmnya. Dalam beberapa scene yang seharusnya emosional malah terkesan hambar. Divisi Music Scoring juga harusnya bertanggungjawab penuh akan hal ini. Sayang sekali kesan emosional nya tidak tersampaikan dengan baik. 

Beberapa dialog pun cukup aneh, mungkin bukan cuma dialog, tapi penyampaiannya. Saat Mia (Marissa Anita) menangis dan berbicara kepada anaknya Ali. Rasanya aneh. Iya itu yang saya rasakan saat mencoba menonton scene ini dan saya ulang 2x. Lebih aneh lagi kalau tau penulisnya script nya adalah Gina S. Noer yang juga menulis untuk "Dua Garis Biru" (2019) dan "Keluarga Cemara" (2019). 

Sama rasanya seperti menonton film "The Guys" (2017), Pertemanan atau Kebersamaan yang coba di highlight di akhir masih kurang kena. Masalahnya sama, yaitu kurang banyak scene yang menjelaskan tentang kedekatan Ali dan Geng Queens nya. Karakter yang diciptakan juga sebenarnya biasa saja kecuali karakter yang diperankan Happy Salma dan Nirina Zubir. Dalam dialog kelima nya juga sangat minim komedi yang membuat kedekatannya lagi-lagi biasa saja. Scene favorit saya adalah ketika Ali dan tante Ance (Tika Panggabean) curhat sambil maskeran. Mungkin ini scene yang paling menggambarkan kedekatan Ali dengan geng queens. 

Yang paling berhasil dari building character dari film ini hanya Mia, Mama dari Ali. Ketika menonton saya merasakan gundahnya hati seorang ibu yang merasa bersalah namun tidak bisa berbuat apa-apa. Scene saat ia di foto oleh Ali, ekspresi nya sangat bagus. Canggung tapi tetap dengan tatapan kasih sayang mencoba mengikuti apa yang anaknya inginkan, keren banget. Oh iya, saya lupa menghighlight Eva (Aurora Ribero), scene lain yang menurut saya pesannya nyampe adalah ketika Ali datang menemui Eva diakhir film. Penonton diingatkan kalau Ali tidak tau harus kemana lagi kecuali Eva, baru deh kita bisa merasakan rasanya menjadi Ali. Jauh lebih tepat daripada scene beradu mulut dengan ibunya.


Penulis :

Ashari @arhieashari

REVIEW : JUNE & KOPI (2021)

|

padapanik.com -  Indonesia bikin film tentang anjing? Menonton trailernya pertama kali saja sudah bikin saya kaget sekaligus takjub. June & Kopi menjadi satu dari sekian film Indonesia yang akhirnya gagal tayang di Bioskop karena pandemi, dan akhirnya memilih ditayangkan di layanan OTT (Over The Top) seperti Netflix atau Disney+. Padahal film sangat potensial untuk dinikmati di bioskop saat libur lebaran. Tapi setidaknya, June & Kopi menjadi salah satu dari daftar list film Indonesia yang persahabatan manusia dan anjing terakhir kali ditahun 1974 dengan judul "Boni dan Nancy". Sedangkan film tentang Anjing yang ada dalam daftar film yang pernah saya tonton hanyalah seri Air Bud. 


Sebelumnya padapanik mau ngajak kalian untuk ikut terlibat mengulas film "June & Kopi" di website terbaru padapanik yaitu ulas.id Caranya gampang, tinggal daftar, bikin username kamu, lalu pilih film yang ingin kamu ulas (pastikan kamu mengulas film yang sudah kamu tonton yah). Tentuin rating filmnya versi kamu, lalu tulis ulasan singkat kamu tentang film nya. Terimakasih sudah ikut #bantufilmindonesia 

Aya dan Ale adalah pasangan suami istri yang tadinya hanya memiliki seekor anjing bernama Kopi. Lalu suatu hari, Aya mengadopsi anjing jalanan dan diberi nama June. Sayangnya, June seekor anjing yang tidak suka dengan anak kecil. Hal ini membuat Ale deg-degan ketika Aya mengandung dan bersiap punya anak pertama. 

Saya sendiri tidak begitu familiar dengan sutradaranya, Noviandra Santosa. Karya terakhirnya, Pintu Merah (2019)  juga belum pernah saya dengar sebelumnya. Padahal June & Kopi terasa sangat matang, ditambah lagi, bukan cuma manusia yang harus di-direct, tapi juga dua ekor anjing. Pastinya kesulitan di lapangan jadi double. Mungkin ini juga yang menjadi alasan Ryan Delon dipilih untuk memerankan Ale yang notabene adalah pencinta anjing. Padahal Ryan sudah cukup lama tidak bermain film layar lebar. 

Alur June & Kopi disusun sangat rapih, sehingga setiap karakter nya menjadi sangat kuat. Bahkan karakter Kopi yang menjadi supporting character bagi June. Tadinya saya merasa, Kopi sepertinya adalah anjing yang tidak begitu spesial seperti June. Tapi ternyata, ia memainkan karakter yang tepat dan pelan-pelan saya dibuat paham dengan karakternya. Alur ceritanya berjalan apa adanya, tanpa usaha plot twist, meskipun ceritanya pelan-pelan semakin tertebak dan terasa biasa, namun kuatnya kelima karakter utama dan kokohnya premis membuat ceritanya tetap menyenangkan bahkan untuk di tonton berulang-ulang. June & Kopi harusnya masuk dalam daftar list film yang tayang di TV saat libur nasional. 

Sepertinya saya sangat terbawa suasana dengan persahabatan June & Karin yang saya rasa harusnya bisa dilanjutkan. Petualangan seru keduanya bisa menjadi salah satu film anak-anak yang diingat hingga dewasa, bahkan sangat berpotensi dibuat sekuelnyal. Kisah Heroik Anjing yang bikin karakter June dan Karin menjadi idola baru anak-anak. Sayangnya, Penulis film ini lebih memilih mengakhiri film dengan drama menguras air mata yang mungkin akan memenangkan piala citra dan mendapat ulasan positif dari orang dewasa, dibandingkan menciptakan hype baru dikalangan anak-anak yang jadi lebih ingin memelihara anjing atau ikut menolong anjing liar layaknya kucing liar di Indonesia. Mungkin juga penulis sadar, bahwa konflik yang diciptakan di akhir masih sangat umum dan biasa saja.

Bagaimana yah menjelaskan nya? Yang jelas endingnya sangat disayangkan meskipun scene Karin di tangga menjadi scene yang tepat untuk mengakhiri filmnya. 

8/10 


Penulis : 

Ashari @arhieashari 

Story of Kale (2020) : Toxic Relationship dengan dialog yang kompleks.

|


padapanik.com - Buat kalian yang sudah menonton film "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini" (2020) pasti cukup terkesan dengan penampilan Ardhito Pramono di film debut nya sebagai Kale, seorang manager band yang sangat menarik perhatian dengan segala persona dan pembawaannya yang menyenangkan. By the Way, Kenapa Kale di film itu menolak untuk berhubungan serius dengan Awan? Ah Fakboi aja itu mah. Eh atau ada sosok wanita sebelum Awan yang menbuat Kale masih trauma untuk menjalani hubungan serius? 

Sudah lama tidak mengulas film, kali ini padapanik mau mengulas film terbaru dari Angga Dwimas Sasongko. Sebuah Spin off atau Prequel dari NKCTHI universe yaitu "Story of Kale". Kenapa disebut NKCTHI unverse? Karena sudah dikonfirmasi akan ada NKCTHI 2 dan "Story of Dinda" di tahun depan. Kira-kira sejauh mana IP NKCTHI ini berhasil untuk terus dikulik? 

Sebelumnya Padapanik mau ngajak kalian juga ini untuk ikut terlibat dalam mengulas film "Story of Kale" ini di website terbaru padapanik yaitu ulas.id . Caranya gampang tinggal daftar, bikin username kamu, lalu pilih film yang ingin kamu ulas di halaman utama atau di kolom search. Tentuin rating nya lalu ceritain ulasan kamu setelah menonton film ini. Terimakasih sudah #bantufilmindonesia

Sebelum menjadi manager band Arah, Kale (Ardhito Pramono) adalah seorang additional player as keyboardist di band tersebut. Saat itu, Posisi Manager di band Arah adalah Dinda (Aurelie). Dibalik sosoknya yang penyayang dan perhatian dengan band nya, sosok Dinda ternyata memiliki masalah hidupnya sendiri dimana ia terjebak dalam Toxic Relationship dengan pacar nya, Argo (Arya Saloka) dimana karakter Argo ini cenderung kasar dan mendominasi hubungan keduanya. Kale yang merasa hal tersebut tidak benar, berusaha menyelamatkan Dinda dan akhirnya terjebak dalam sebuah hubungan baru yang diharapkan akan lebih sehat dan menjadi jalan keluar untuk Dinda.

Film ini adalah film baru, dalam artian syuting beberapa bulan terakhir sebelum film ini dirilis dengan standard protokol covid-19, dengan waktu yang terbatas, dan budget yang mungkin jauh lebih kecil dari NKCTHI sepertinya. Apalagi proyeksi film nya hanya untuk ditayangkan di sebuah website bukan untuk bioskop. Pastinya sudah ada perhitungan yang tepat untuk produksi nya.

Hal ini membuat Angga Dwimas Sasongko cukup cerdik mengakali film ini dengan hanya ada dua pemain yang intens di banyak scene, memaksimalkan lokasi-lokasi yang tidak terlalu sulit dan berulang, serta benang merah cerita yang sederhana. Tentunya tetap maksimal dengan sinematografi dan divisi art nya yang prima.  

Tapi sebagai orang yang tertarik dengan penulisan film, Takjub dengan pemilihan tema nya yang relate, unik dan pengembangan cerita nya yang bisa jadi satu kesatuan dialog yang Panjang. Skrip dan Cerita dari Story of Kale sangat menarik jika dibedah untuk belajar penulisan film. Script Dialog nya sendiri ditulis oleh Irfan Ramli. 

Jika NKCTHI mengambil tema besar “Masalah internal di keluarga”, Story of Kale mengambil garis besar “Toxic Relationship”. Dua-duanya masih soal trauma di masa lalu. Kalau di NKCTHI kita dibuat penasaran dengan karakter Kale, di film ini, karakter Dinda emang bikin greget dan penuh teka-teki.

Seperti yang penulis bilang tadi, kalau saja film ini sangat minimalis dengan tema dan alur cerita yang dinamis karena maju mundur nya itu. Yang disayangkan adalah 65% dari film ini adalah perdebatan Kale dan Dinda yang rumit dan Panjang. Setelah beberakali scene nya kembali kesitu, penulis pribadi merasa cukup bosen. Ditambah lagi, Akting keduanya yang cukup bisa dimaklumi karena bukan aktor senior. Jika di bandingkan dengan scene di film lain misalnya Dion Wiyoko dan Ardinia Wirasti saat di Cek Toko Sebelah mungkin emosinya jauh. Perbedaan jam terbang juga kali yah.

Ardito sangat cocok dengan peran seperti Kale, dengan cara bicara dan gaya Bahasa sehari-hari, apalagi memerankan anak band yang pastinya dia banget.  Sedangkan Aurelie, mungkin ini film yang paling menguji kemampuan acting nya dari sekian banyak film yang diperanin nya. Selain scene emosional kedua nya di rumah kontrakan, acting mereka cukup baik. Scene di kamar hotel misalnya.

Yang penulis tangkap dari film ini adalah kehadiran Kale dalam hidup Dinda yang seolah ingin menjadi pahlawan dan merasa bisa lebih baik ternyata tidak sesuai kenyataan. Bahkan Kale bisa saja dirasa lebih brengsek dari Argo, atau Cara Kale yang berlebihan kepada pasangan nya itu ngebosenin. Intinya balik lagi ke teka teki kepala Dinda atas segala keputusannya yang juga balik lagi pada kenyataan bahwa menebak kepala perempuan itu susah.

Padapanik ngasih 7.5/10 untuk film ini. Minimalis dengan garis besar cerita yang fresh, simple tapi pengembangan cerita dan dialognya dibuat kompleks. Bagi penulis pribadi yang kurang hanyalah pada durasi nya yang terlalu panjang dengan scene-scene yang sama terus mendominasi. Jadi rasanya cukup flat. Kita bahkan gak dikasih kesempatan untuk menikmati manisnya hubungan Kale dan Dinda karena sejak awal mereka udah adu argument sambil teriak-teriak. 

Penulis : 
Ashari @arhieashari


 

Review : 27 Steps of May

|

padapanik.com - Ditengah dominasi film Avengers : End Game yang menguasai hampir diseluruh studio bioskop Indonesia (bahkan dihari pertama di putar selama 24jam), ada dua film Indonesia yang menarik perhatian. Blunder sih memang, merilis film bertepatan dengan Avengers pasti akan di nilai sebagai pertaruhan yang sangat berani, atau mungkin mereka gak peduli filmnya bakal laku atau enggak. Dua film tersebut diantaranya adalah Kucumbu tubuh Indahku karya Garin Nugroho dan 27 Steps of May karya Ravi Bharwani. Keduanya diputar terlebih dahulu di festival-festival luar negeri sehingga bisa disimpulkan kalau keduanya dibuat bukan untuk komersil. Kali ini padapanik akan mereview salah satu dari kedua film tersebut, jelas bukan film yang pertama karena pemutaran nya di boikot di berbagai kota di Indonesia. 
May (Raihaanun), Gadis SMP berumur 14 tahun yang ceria dan aktif. Sepulang sekolah ia menyempatkan diri untuk bermain di sebuah pasar malam. Malam yang menyenangkan pastinya. Menuju pulang, May di sekap oleh beberapa pria dewasa. Ia di perkosa dan di siksa. May pulang kerumah nya saat larut malam, dengan pakaian yang berantakan dan tatapan kosong. Selama delapan tahun May menjadi trauma, ia bahkan tidak pernah berani keluar rumah. Di sisi lain, Ayah May (Lukman Sardi) juga terkena dampaknya. Menanggung rasa bersalah bertahun-tahun atas apa yang terjadi terhadap May dan dilampiaskan dalam arena bertarung. 
Padapanik pernah mereview film "Istirahatlah kata-kata"  sebuah film yang merepresentasikan rasanya hidup seorang diri. Film tersebut berhasil menvisualisasikan ketakutan, kegelisahan sekaligus kesepian dalam sebuah karakter. Sedangkan 27 Steps of May menvisualisasikan trauma yang sangat mendalam. Keduanya memiliki kesamaan, Tidak ada plot twist atau ending yang mencengangkan tapi berhasil menyampaikan rasa.

Film ini alur nya sangat lambat, buat yang gak biasa pasti akan bosan. Film ini mencoba menjelaskan perlahan-lahan kepada penonton tentang dampak yang dirasakan oleh May sebagai korban. Selama film, May nyaris tidak ada dialog. Bisa dibilang, Raihaanun sukses memerankan sebuah film bisu (atau nyaris bisu haha).

Hanya ada 3 latar atau cerita yang membangun film ini. Yang pertama adalah dunia May. Berlokasi di dalam rumah, kamar May dalam rentang waktu pagi hingga siang. Dimana hampir tidak ada warna dan kehidupan nya yang totally monoton. Hidup bersama ayah nya tanpa keluar satu patah kata pun selama delapan tahun.

Yang kedua adalah dunia Ayah May di arena bertarung, luapan rasa bersalah dan emosi dikepala dituangkan kepada lawan-lawan nya. Latar nya hampir selalu menunjukan malam hari.

Yang ketiga adalah siang hari, scene paling santai dalam film ini. Bisa dibilang jadi scene pemecah keheningan karena ada unsur komedi yang tidak kalah seru. Scene ini adalah saat dimana Ayah May berkomunikasi dengan satu-satunya sahabat nya. Karakter yang di perankan oleh Verdi Solaiman disini menjadi satu-satu nya karakter yang paling positif dalam film ini.

Ketiga bagian ini terus berulang sehingga penonton dibuat terbiasa dengan dunia May yang memang sangat lambat dan monoton. Lalu dalam proses pembiasaan nya kepada penonton, mulai dimasukan unsur-unsur kecil yang mengakibatkan perubahan-perubahan kecil terhadap hidup May. Setiap perubahan sederhana yang ditampilkan akan mengakibatkan penonton bioskop merespon.

Scene favorit saya adalah ketika May menggerakan sedikit piring berisi lauk untuk membantu Ayah nya. Scene se-simpel tersebut membuat satu bioskop bereaksi.

Film 27 Steps of May tidak tayang di semua bioskop, tapi cukup mengejutkan saat tahu film ini bertahan cukup lama penayangannya.

Formula 27 Steps of May mungkin cukup fresh untuk kalian yang belum terbiasa menonton film festival atau untuk kalian yang bosan dengan formula film yang sama.

8.5/10 

Film Keluarga Cemara : Drama keluarga yang berhasil menyentuh penonton

|

padapanik.com - Sejak beredar isu serial TV “Keluarga Cemara” akan diangkat ke layar lebar, film ini mungkin menjadi salah satu karya yang ditunggu para pecinta film tahun ini. Bagaimana tidak, serial TV yang diadaptasi dari buku karya Arswendo Atmowiloto dinilai sangat melegenda dan melekat di hati pemirsa di tahun 90’an berkat kekuatan cerita dan karakter yang ditampilkan. Serial ini pertama kali tayang pada 6 Oktober 1996 di stasiun televisi RCTI.

Keluarga Cemara berkisah tentang Abah, Emak, Euis, Ara (Cemara) dan Agil yang yang berjuang dalam menghadapi berbagai persoalan hidup dalam kesehariannya. Meski digambarkan sebagai keluarga sederhana, namun kekuatan cinta yang ditampilkan satu sama lain membuat Keluarga Cemara menjadi role model oleh mayoritas keluarga Indonesia kala itu.

Film Keluarga Cemara menjadi debut bagi Yandy Laurens, sutradara yang namanya melambung  berkat web series “Sore” dan “Mengakhiri Cinta Dalam 3 Epsiode”. Melalui film bergenre drama romantis tersebut, Yandy sukses menguras emosi penonton dan membuatnya digandrungi banyak orang. Yandy juga sempat memenangkan XXI Short Film Festival dengan film pendeknya berjudul Wan An pada tahun 2012Tak mengherankan jika Visinema Pictures akhirnya melirik Yandy Laurens untuk  menggarap film tersebut.

Keluarga Cemara dibintangi oleh banyak artis ternama. Namun, dalam adaptasi serial tersebut terdapat empat tokoh sentral yang dipercaya memerankan tokoh utama, yaitu Ringgo Agus Rahman (Abah), Nirina Zubir (Emak), Adhisty Zara (Euis), dan Widuri Puteri (Ara). Bagi sebagian orang nama Widuri dan Zara mungkin masih terdengar asing. Widuri merupakan putri dari pasangan selebrity Dwi Sasono dan Widi Mulia. Sementara Zara adalah salah satu member idol group JKT48 yang sebelumnya juga terlibat di film Dilan 1990. Film Keluarga Cemara menjadi debut keduanya dalam merambah dunia seni peran.


Film ini berkisah tentang satu keluarga yang terdiri dari Abah , Emak, Euis, dan Ara yang hidup bahagia dan berkecukupan. Namun, masa-masa tersebut rupanya hanya berlangsung sementara. Konflik bermula saat Abah mengalami musibah ditipu rekan kerjanya sehingga membuat usaha yang dibangunnya selama ini jatuh bangkrut. Di tengah perayaan ulang tahun Euis yang ke-13, keluarga tersebut harus rela dipermalukan dan diusir secara paksa oleh partner bisnis Abah untuk meninggalkan rumah mewahnya. Bangkrutnya Abah membuat Keluarga Cemara pindah dan menepi untuk sementara waktu ke sebuah perkampungan. Keharmonisan keluarga inipun diuji ketika kehidupan Keluarga Cemara berubah seratus delapan puluh derajat. Sebagai kepala keluarga, Abah memikul beban yang berat untuk memberikan pengertian kepada kedua anaknya yang terbiasa hidup mewah. Euis yang semasa sekolah berteman dengan remaja kalangan atas, kini harus berbaur dengan anak-anak kampung.

Tidak berbeda dari materi aslinya, film Keluarga Cemara mengulik kisah lain dari sebuah keluarga yang baru saja jatuh miskin. Banyak keterpurukan yang terjadi dalam kisah keluarga Cemara, namun diangkat tanpa mengeksploitasi penderitaan. Yandy Laurens sangat benar bagaimana mengemas kisahnya yang penuh akan problematika itu menjadi sesuatu yang berbeda. Film ini mengisahkan tentang bagaimana orang-orang yang kalah menemukan kemenangan dengan tumbuh bersama keluarga.

Keluarga Cemara garapan Yandy Laurens ini juga meremake beberapa bagian yang membuat film ini berbeda dari versi aslinya. Beberapa perubahan dibuat lebih kekinian sehingga lebih relevan dengan keadaan saat ini. Langkah yang dipilih Yandy Laurens dan Gina S. Noer sebagai penulis naskah mungkin dinilai sebagian orang bersiko. Namun, perubahan ini bukan hanya akan membangkitan memori pecinta serial TV Keluarga Cemara, tapi juga melahirkan penggemar baru dari generasi milenial yang sebelumnya belum pernah menonton sama sekali.

Meskipun berangkat dari serial TV, Yandy Laurens mampu mengemas cerita dengan durasi yang pas. Dengan durasi mencapai 115 menit, Yandy Laurens mampu mengembangkan karakter setiap pemain tanpa perlu tergesa-gesa. Dalam film ini kita diajarkan tentang bagaimana melihat suatu persoalan dalam persepektif berbeda. Film ini membukakan pandangan untuk selalu berada dalam pemikiran bahwa keluarga itu satu.

Hadirnya film  Keluarga Cemara, menjadi pembuka yang manis di awal tahun 2019. Saya yakin, film ini akan memborong banyak penghargaan pada ajang-ajang bergengsi tahun ini. Performa pemain dimainkan dengan sangat apik seakan meyakinkan penonton bahwa mereka adalah keluarga yang ada di kehidupan nyata. Didukung dengan musik-musik dari Ifa Fachir yang melantun indah mengiringi setiap adegan dalam film, dijamin akan membuat pabrik tisu kehabisan stock bulan ini. Keluarga Cemara tak sekedar dikemas menjadi film yang cengeng, melainkan menjadi sebuah film yang menghibur tanpa mengabaikan rasa emosional yang terkandung di dalamnya. (9/10)

Penulis :
Feari Krisna @fearikrisna 

Pengabdi setan, film horor kembali ke box office..

|

padapanik.com - Setelah cukup lama meredup, akhirnya film horror Indonesia kembali bangkit dan sukses menjadi perbincangan hangat di kalangan para pecinta film. Hal itu terbukti dari keberhasilan yang diraih beberapa film bergenre horror seperti The Doll 2 dan Danur yang kini bertengger di jajaran film Box Office Indonesia tahun 2017. Tak kalah mengejutkan, bahkan film Danur sendiri berhasil mencatatkan sejarah  dengan meraih jumlah penonton sebanyak 2,692.957 orang dan masuk ke jajaran delapan sebagai film terlaris sepanjang masa di Indonesia.

Kali ini, bioskop Indonesia kembali dihiasi oleh film horror yang tak kalah menyeramkan bahkan digadang-gadang akan meraih kesuksesan yang lebih dari film Danur. Tidak mengherankan memang, kalo spekulasi itu muncul, karena film garapan Joko Anwar selalu punya cita rasa yang khas di mata para penonton.

Me-reboot film dengan judul yang sama, Pengabdi Setan hadir dengan menawarkan suguhan plot berbeda. Mengangkat kisah tentang keluarga yang tinggal di hutan terpencil, keempat bersaudara Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Boni (Nasar Anuz), Ian (M. Adhiyat),hidup bersama Nenek, Ayah (Aditya Bront Palarae), dan Ibu (Ayu Laksmi) mereka. Keluarga tersebut mengungsi ke rumah tua milik sang Nenek karena beberapa tahun terakhir tengah mengalami kesulitan keuangan.
Berlatar belakang tahun 1981, sang Ibu diceritakan mengalami sakit misterius yang membuat dia hanya mampu terbaring di tempat tidur. Ibu sendiri sudah tiga tahun sakit parah hingga akhirnya meninggal dunia. Ibu diceritakan sebagai seorang penyanyi yang karirnya sudah meredup di masa akhir hayatnya. Hal itu juga yang membuat keluarga tersebut tak mampu merawat Ibu dengan layak di rumah sakit.

Di awal cerita, film ini memberikan persepektif Ibu yang dipandang berbeda oleh setiap anaknya. Sebagai kakak tertua, Rini dan Tony dinilai punya hubungan yang cukup baik dengan sang Ibu. Di kala sang Ibu membutuhkan bantuan, Rini selalu sigap menolongnya. Begitupun Tony yang memiliki kebiasaan menyisir rambut sang Ibu dan menemaninya sebelum tidur. Namun, hal tersebut berbanding terbalik dengan, Bondi dan Ian yang tak punya nyali untuk menemani atau sekedar masuk ke kamar Ibu. Di satu sisi mereka ingin sang Ibu sembuh tapi  di sisi lain mereka enggan untuk menatap paras Ibu yang semakin meyeramkan.

Berselang satu hari setelah kepergian Ibu, Ayah terpaksa merantau ke kota untuk mencari nafkah dan meninggalkan keluarga kecilnya di rumhauntuk sementara.  Dari sinilah konflik mulai muncul karena rupanya kematian sang Ibu telah mengundang hal-hal ghaib dan membuat suasana rumah menjadi mencekam. Siapa sangka pada akhirnya, keluarga tersebut harus menerima terror dengan kembalinya sosok sang Ibu yang kini kembali pulang untuk menjemput. Film ini pun mengisahkan tentang bagaimana Rini, melindungi Nenek dan adik-adiknya dari terror pasca sang ayah meninggalkan rumah.

Atmosfer mencekam dalam film ini sendiri sudah terbangun pada sepuluh menit pertama film di mulai. Dari awal sampai akhir film, berbagai adegan menyeramkan disuguhkan dengan sangat rapih. Mskipun beberapa adegan klasik seperti sosok hantu muncul di cermin masih dimainkan dalam film ini. Selain itu, jokes-jokes mengocok perut yang dihadirikan dalam film ini dihadirkan pada porsi yang pas sehingga tidak mengurangi  esensi seram dari film ini.

Pengambilan backround cerita dalam film ini juga nampaknya sedikit terpengaruh dari template horror James Wan, seperti cerita tentang keluarga yang begitu mudah disusupi kekuatan hitam karena kurangnya iman pada setiap anggota keluarga. Ditambah cerita tentang sekte yang tak kalah menarik dan menjadi salah satu twist dalam film ini.

Sekilas, film ini mengingatkan saya dengan film Jalangkung atau Kuntilanak yang sukses buat merinding dan seisi bioskop menjerit keras. Ditambah kepiawaian aktor dan aktris yang sangat natural dalam memainkan perannya. Satu kalimat yang terbesit setelah menonton film ini adalah “Sudah lama saya tidak melihat film horror Indonesia sekeren ini”. Jadi buat kamu yang masih penasaran, silakan datangi bioskop terdekat untuk mengenal sosok sang Ibu lebih dekat!

Penulis :
Feari Krisna @fearikrisna

FILOSOFI KOPI 2 : PENAMBAHAN DRAMA YANG TIDAK BERLEBIHAN

|

padapanik.com - Sekuel “Filosofi Kopi 2”: Ben & Jody” sendiri menceritakan tentang petualangan Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) setelah dua tahun berkelana menjajakan kopi keliling Indonesia. Setelah memutuskan untuk menjual kedai Filosofi Kopi, mereka berdua membuat keputusan besar untuk memulai misi untuk berbisnis membagikan kopi terbaik ke berbagai penjuru Indonesia menggunakan mobil Kombi mewahnya. Tapi  sayang, seiring berjalannya waktu rencana mereka sudah tak seirama lagi dengan barisan barista dan karyawan kedai yang telah lama mengabdi. Puncaknya masalah pun terjadi pada satu malam di Bali, saat Aga, Aldi dan Nana memutuskan untuk mengundurkan diri dengan alasan mereka masing-masing.

Melihat kondisi yang semakin memburuk, akhirnya Ben dan Jody-pun kini harus membuat mimpi baru. Bermodalkan tekad dan mimpi besar Ben sang idealis dan Jody yang sangat realistis,  akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta dan berikrar untuk membangun kedai Filosofi Kopi kembali seperti dulu. Namun, sayangnya langkah mereka tidak semulus itu. Masalah kembali lahir setelah belakangan mereka tahu, jika lokasi kedai  dulu rupanya kini harus mereka beli kembali dengan harga jual tinggi. Mau tidak mau, dengan alasan kekurangan modal tersebut akhirnya Ben & Jody memutuskan untuk mencari investor untuk bisa diajak bekerja sama membangun kembali Filosofi Kopi.

Dalam usaha mereka, Ben & Jody akhirnya dipertemukan dengan Tara (Luna Maya) yang hadir sebagai sosok pahlawan sekaligus ancaman bagi ikatan persahabatan dua sejoli tersebut. Ditambah kehadiran Brie (Nadine Alexandra) barista geek yang sedikit membuat Ben jengah karena cara membuat kopi yang dilakukan Brie tidak sejalan dengan Ben. “Bikin kopi itu soal rasa bukan hitungan matematika”, ujar Ben. Itulah kurang lebih sepenggal dialog yang cukup membuat konflik dalam film semakin menarik.

Dan kalo direview secara keseluruhan film ini sudah barang tentu layak untuk ditonton, ekspetasi saya pun terbayar dengan alur cerita yang menarik dan penulisan naskah yang ciamik. Kalo soal pengambilan gambar jangan ditanya, film ini syuting di 6 kota besar yaitu Jakarta, Jogjakarta, Bali, Lampung, Makasar, dan Toraja. Jadi gak heran kalo keindahan alam Indonesia juga diexplore dalam film ini. Dan firasat saya tentang kehadiran karakter Tara dan Brie ternyata ada sedikit benarnya.  Dua aktris ini rupanya membawa cerita drama dalam cerita perjalanan Ben & Jody saat membangun kedai kopi. Tapi sungguh kisah itu dituturkan dengan porsi yang pas dan gak lebay (berlebihan). Hubungan dan konflik layaknya orang dewasa membuat film ini jadi suguhan yang recommend buat anak-anak muda dalam menjali hubungan. Nuansa romantis dalam film dihadirkan dengan bahasa yang baik dan banyak quotes-quotes menarik di dalamnya.

Selain itu, sountrack dalam film ini juga membuat film ini terasa semkin epic. Chicco Jericco selaku pemain juga mengatakan bahwa pemilihan lagu dalam film ini cukup selektif karena setiap lirik yang tertuang dalam lagu ditempatkan pada plot yang pas dalam film sehingga lagu yang dimainkan menjadi narasi tersendiri bagi setiap adegan dalam film. Hmm minusnya, mungkin film ini sedikit kurang cocok untuk anak di bawah umur karena ada beberapa bahasa ka*sar yang mungkin terdengar biasa jika berada di lingkungan pergaulan karena makna sebenarnya bukan ujaran kebencian . Mengingat persahabatan Ben & Jody digambarkan sudah terjalin sejak lama, sepertinya sang penulis naskah sengaja menempakan kata tersebut untuk mempertegas kuatnya ikatan persahabatan mereka .

So, tunggu apalagi, buat kamu yang penasaran sama kelanjutan kisah Ben & Jody, silakan kunjungi bioskop terdekat! Selain memajukan film Indonesia,  pembelian satu tiket Filkop 2 ini juga membuat kamu ikut berkontribusi untuk menyumbangkan satu benih bibit kopi bagi petani Indonesia loh. Dan khusus kamu yang berdomisili di Jakarta dan Jogja, tiket nontonnya jangan dibuang ya! Kamu bisa tuker sama kopi gratis loh di kedai Filosofi Kopi. Selamat menyaksikan!

Penulis :
Feari Krisna @fearikrisna

KARTINI : Keseharian seorang Feminist Indonesia.

|

padapanik.com - Siapa yang tidak kenal dengan sosok Kartini? Sosok perempuan pertama yang menginginkan adanya kesetaraan gender di Indonesia. Sosok yang ingin setiap perempuan di Indonesia mendapatkan pendidikan yang sama dan juga setiap anak-anak harus mendapatkan perlakuan yang sama.

21 April hari dimana diperingati sebagai hari Kartini menjadi sebuah saat yang tepat untuk me­-release film KARTINI yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo. Sebuah kisah keseharian Kartini muda yang berjuang demi kesetaraan antara pria dan wanita di Indonesia, yang kala itu sangat dipandang rendah dan tidak diberhak mendapatkan pendidikan selayaknya para pria-pria Jawa.

Sepanjang film Kartini yang berdurasi cukup panjang, kita akan disuguhkan kisah Kartini dan bersama saudara-saudaranya berusaha mendapatkan hak nya. Kita akan diperkenalkan dengan sosok Kartini yang cerdas hingga menjadi “anak kesayangan” salah satu keluarga Belanda di Jepara. Tetapi sayangnya film ini tidak memberikan sesuatu yang menggigit.

Tidak ada klimaks, karena alur cerita yang terlalu flat dari awal hingga akhir membuat sajian film Kartini terkesan biasa saja. Ya memang akting Dian Sastro, Acha Septirasa dan Ayushita sangatlah bagus, bagaimana mereka memerankan seorang gadis-gadis Jawa yang sangatlah baik. Tetapi sosok Christine Hakim lah yang sangat berperan penting dalam film ini, karena dialah sosok yang bisa membuat kita teringat dengan ibu-ibu kita yang kuat. Christine Hakim yang berperan sebagai ibu dari Kartini dapat mengaduk-ngaduk emosi kita selama menoton film Kartini. Steal the role! Kartini malah terkesan biasa saja.

Deretan aktor dan aktris seakan diborong oleh Hanung Bramantyo untuk bermain di film ini. Seperti Reza Rahardian, Deddy Sutomo, Adinia Wirasti, Christine Hakim dan banyak lagi membuat film Kartini sangatlah mewah karena banyak bintang yang mau bermain sebagai cameo. Jadi buat kalian para perempuan Indonesia yang nge-fans dengan Kartini harus nonton film ini di Bioskop walaupun ceritanya flat tetapi banyak hal yang bisa dipelajari dari sosok Kartini.

7/10 

Penulis :
Alta @altatitus, Movie enthusiast.

Dear Nathan : Kisah kasih SMA dua pribadi berbeda

|

“Kadang gue mikir Sal, lo itu ilusi yang gue ciptain atau emang nyata sih?” 

padapanik.com - Kisah cinta ala remaja SMA sepertinya tidak akan ada habisnya. Sebelumnya, di awal Maret ini, bioskop Indonesia digebrak oleh film re-make tentang kisah klasik SMA berjudul Galih dan Ratna. Dan kembali, dipertengahan bulan ini sebuah film berjudul Dear Nathan menjadi sorotan masyarakat. Film yang diambil dari novel laris berjudul “Dear Nathan” ini menceritakan kisah cinta anak SMA Garuda bernama Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles). Diceritakan tentang Salma Elvira yang merupakan murid baru di SMA Garuda yang pertama kali mengenal Nathan ketika ia terlambat masuk sekolah. Nathan membantunya untuk menyelip ke dalam sekolah untuk menghindari hukuman karena terlambat upacara bendera. Mulanya, Salma sama sekali tidak mengenal Nathan. Sampai akhirnya ia baru mengetahui jika pria yang menolongnya hari itu adalah Nathan, murid di SMA nya yang terkenal suka tawuran dan membuat masalah. Perasaan Salma bercampur aduk, antara ilfeel ketika mendengar cerita tentang Nathan dari teman-temannya, dan rasa takjub dengan semua usaha yang dilakukan oleh Nathan untuk mendekatinya. Salma menjadi sosok yang bisa membuat Nathan jatuh hati dan berusaha sedemikian keras untuk mengambil hatinya. Meskipun Salma masih belum mengerti dengan perasaannya karena ia belum pernah pacaran sebelumnya.

Sebagai remaja yang sedang dimabuk asmara, Nathan melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan simpati dari Salma. Nathan rela menunggu Salma sampai ia selesai mengikuti rapat OSIS agar bisa mengantarkan Salma pulang bersama, menemani Salma berkeliling toko buku, menemani Salma ke Monas, dan hal-hal lainnya. Sayangnya, dibalik kebahagiaan dua insan tersebut, kembali datang sosok Seli yang merupakan masa lalu dari Nathan.

Kedua karakter yang berbeda: Nathan dengan mudah tersulut emosi dan suka tawuran, serta Salma dengan tingkah polos dan teladan akan menjadi bumbu-bumbu manis di film yang tayang 23 Maret ini. Untuk para pembaca yang ingin mengenang masa SMA bisa menjadikan film ini sebagai rekomendasi. Selamat menyaksikan! 

Penulis : 
Novia @noviafadina

Istirahatlah kata-kata : Sendiri bersama Wiji Thukul

|
padapanik.com - 19 Januari 2017 adalah hari perdana pemutaran film "Istirahatlah Kata-kata". Sayangnya banyaknya film yang masuk di tanggal itu  membuat film ini hanya mendapat 2 layar di pemutaran perdana nya. Di Bandung hanya ada Cihampelas walk pada jam 12.00 dan 14.00 siang. Bahkan pembelian tiket baru di buka pukul 11.30. Apakah pihak bioskop meragukan peminat film ini?

Siang itu, ada suasana berbeda di XXI ciwalk. Bioskop di penuhi orang-orang dengan penampilan berbeda, mungkin di penuhi para kritikus film, aktivis atau para penggemar sastra. Saya kurang paham sebenarnya, Wiji Thukul hanya saya ketahui sepintas tanpa mendalami sejarah track record nya. Tapi sejak awal melihat trailer nya, saya jadi tidak sabar menunggu film nya. Ternyata pihak bioskop salah, Ruangan bioskop penuh bahkan di pemutaran kedua pun ikut sold out. Hal ini membuat XXI menambah menjadi 5 kali pemutaran dalam sehari. 

Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) adalah seorang penyair yang pada tahun 1980an menjadi populer dengan menciptakan puisi yang menjadi bahan bakar perlawanan terhadap tirani orba masa itu. Wiji Thukul bukan berasal dari kalangan mahasiswa, ia hadir dari kalangan rakyat kecil yang memilih turun langsung dalam usaha menggulingkan pemerintah. Kerusuhan Jakarta 1996 membuat ia dianggap berbahaya dan menjadi buronan pemerintah. Wiji Thukul akhirnya bersembunyi jauh hingga Pontianak dan berusaha hidup dengan identitas palsu. Disisi lain, Istrinya Sipon (Marissa Anita) hidup dengan dua anak nya di solo dalam pengawasan yang ketat. 
Film biografi / sejarah memang biasanya berjalan lambat. Alurnya pelan sehingga bagi yang tidak biasa akan mudah untuk meninggalkan kursi lebih cepat dari seharusnya. Film ini memulai dengan bahasa-bahasa sinematografi yang tidak mudah untuk di mengerti. Saya hanya mencoba menikmati suguhan audio visual nya saja selama beberapa menit awal. 

Sinematografi film ini harusnya mendapat penghargaan, suguhan tempat-tempat sederhana berhasil di buat indah dengan sudut pengambilan gambar yang brilian. Bahkan colour grading (teknik pewarnaan pada gambar) nya pun tidak banyak atau mungkin penggunaannya yang tidak berlebihan. Harusnya ini menampar para filmmaker yang menghabiskan ratusan juta untuk mengambil set lokasi di luar negeri. 

Sorotan saya tidak hanya pada visualnya saja, tapi pada penata suara yang gak kalah brilian nya. Sangat detail. Di beberapa scene saya mencoba memejamkan mata untuk menikmati audio nya yang lebih banyak bercerita. Beberapa scene sengaja tidak di buat stereo untuk menyempurnakan hasil film. Harusnya film ini jadi salah satu referensi penting dalam mata kuliah Sinematografi. Scene favorit saya adalah saat Wiji Thukul dan kedua teman nya ke warung kopi di malam hari. Hanya ada satu kamera yang mengambil dari sudut sempit mencoba menvisualkan suasana tanpa ada perpindahan kamera dalam waktu yang lama. Disitulah penonton akan fokus menikmati suguhan audio yang bercerita jauh lebih banyak tentang betapa serunya obrolan mereka malam itu. Saya juga merinding ketika Wiji Thukul dan Sipon bersenandung lagu "Darah juang" dengan siulan untuk melepas rasa rindu mereka. 

Film ini secara keseluruhan minim dialog, sinematografi dan audio nya memperkuat jalan nya cerita. Bahkan beberapa scene sepertinya di ambil di waktu-waktu yang sangat niat. Sampai saya menyadari satu hal. Film ini mengajak kita untuk merasakan kesendirian dan ketakutan menjadi seorang Wiji Thukul. Film ini membawa penonton kedalam kehidupan seorang penyair yang harus berlari menjauh dari musuh yang ada dimana-mana. Sosok protagonis namun harus meninggalkan istri dan anaknya selama berbulan-bulan untuk bersembunyi. Selama berpuluh-puluh menit saya dipaksa mengenal seorang Wiji Thukul dan merasakan perjuangan nya yang menyedihkan. 

Wiji Thukul tidak berani keluar saat matahari terik, ia akan keluar di malam hari hingga subuh ber melankolia dan menuliskan kata-kata yang ada di kepala nya. 

Film ini tidak setegang yang kalian bayangkan. Tenang saja, banyak dialog-dialog yang mengandung humor sehari-hari. Mudah untuk menimbulkan tawa. Film ini menggambarkan bahwa Wiji Thukul selalu menggunakan bucket hat dan totebag menunjukan betapa hipster nya di zaman itu. Bahkan sebelum style itu di banyak di pakai di acara gigs musik.

Seperti kebanyakan film sejarah, film ini berakhir dengan sendirinya dan sisanya di jelaskan melalui tulisan. Jelas film ini tidak di tulis ala 3 babak yang telah di siapkan happy ending nya di akhir. Namun saya ingin memuji Yosep Anggi Noen dan para kru. Semoga film ini mendapat lebih banyak lagi apresiasi.

Oh iya, film ini juga di tayangkan di beberapa festival film di luar negeri dengan judul "Solo solitude". Puisi "Bunga dan Tembok" yang di musikalisasi oleh Fajar Merah sang anak menjadi bagian yang manis di akhir. Saya dan penonton lainnya seperti di beri waktu dan fokus tingkat tinggi sebelum lagu itu di putarkan. Dan hingga saat ini masih saya dengarkan hingga review ini selesai.

"Seumpama bunga, kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh".....

                       

8,5/10

Penulis :
Ashari @arhieashari
Tiket disponsori oleh ffbcommm

Cek Toko Sebelah : Drama komedi Highly Recommended

|

padapanik.com - Setelah kesuksesan "Ngenest". Ernest Prakasa tidak mau menunggu lama untuk segera menyelesaikan film kedua nya. Menjadi Penulis naskah, Sutradara sekaligus pemain tidak membuat Ernest kesulitan untuk segera mendulang kesuksesan nya kembali. "Cek toko sebelah" hadir dengan biasa saja tanpa pernah menjadi salah satu film yang di tonton dengan ekspetasi tinggi. 

Kalian pasti merindukan film yang mengangkat kisah sehari-hari yang sederhana dan erat dengan budaya. Tanpa harus mengeluarkan budget besar-besaran untuk syuting di luar negeri, atau menghabiskan ratusan juta untuk efek CGI yang memanjakan mata. Kemana pun kemajuan film Nasional nantinya pergi, Film-film sederhana dengan kisah yang ringan akan tetap dirindukan. Seperti film-film Monty Tiwa misalnya. 

Etnis Tionghoa di Indonesia yang erat mindset nya dengan pedagang atau membuka toko menjadi benang merah dalam film ini. Koh Afuk (Chew Kin Wah) adalah seorang pedagang toko sembako yang mulai sakit-sakitan dan merasa harus mewariskan toko ke anak bungsu nya Erwin (Ernest Prakasa). Sedangkan Erwin adalah seorang excecutive muda yang karir nya cemerlang bahkan sedang di promosikan untuk bekerja di Singapura. Disatu sisi, Yohan (Dion Wiyoko) adalah anak sulung dari Koh Afuk yang ingin sekali melanjutkan toko, sayangnya hidupnya yang berantakan membuat orang tua nya tidak mempercayai nya. Konfik tiba ketika Erwin harus memilih antara melanjutkan toko atau meneruskan karir, sedangkan di sisi lain, seorang pengusaha properti ingin membeli toko Koh Afuk. 

Jika di lihat dari sinopsis nya, Jelas sekali kalau cerita nya sederhana. Tapi tidak jika kalian sudah menonton filmnya. Karakter dan situasi disusun dengan baik sehingga penonton bisa memahami betul emosi nya. Penonton akan dibawa mengenal ketiga karakter utama lalu belajar memaknai pilihan dan kedekatan emosional dengan keberadaan toko. Bahkan ada beberapa detail yang berhasil diingat penonton. Misalnya tentang ibu Hilda yang suka ngutang. Saat di bahas di akhir, orang langsung related tentang kebiasaan utang nya. Padahal karakternya tidak banyak di tampilkan. Penonton yang tertawa berarti memahami betul karakter ibu wiwin yang hanya di tampilkan sekilas tersebut. 

Kalau Raditya Dika mengamini dan menjadikan jokes tentang akting nya yang begitu-gitu saja, Ernest malah habis-habisan mengeksplore kemampuan akting nya dalam scene-scene drama yang sulit. Apalagi setelah menimba pengalaman beradu akting dengan Reza Rahardian di film "Rudy Habibie" sebuah film yang minim komedi. Dion Wiyoko dan Chew Kin Wah adalah lawan main yang tepat. Ketiganya beradu peran dengan sangat dramatis, khususnya Dion Wiyoko yang semakin matang dari film satu ke film selanjutnya. Sayangnya peran Nathalie (Gisella Anastasia) tidak mengimbangi dengan baik. Memerankan tokoh penting dalam film pertama sepertinya jadi cobaan tersendiri. 

Selalu ada komedi yang miss, Tapi pecahnya scene komedi nya membuat orang memaafkan itu. Seperti biasa, humor dalam film ini di perkuat dengan keberadaan para Stand Up Comedian. Tidak tanggung-tanggung, Ernest mengkonfirmasi ada sekitar 20 komika yang ikut bermain dalam film ini. 
Tentunya, tingkah duo komika bekasi paling rese "Awwe" dan "Adjis Doa Ibu" masih menjadi jagoan dalam film ini sama halnya seperti di film Ernest sebelumnya. Kisah cinta segitiga antara "Dodit Mulyanto", "Arafah Rianti" dan "Anyun Cadel" juga gak kalah kocaknya. Sedangkan di pemain non komika. "Asri Welas" sangat berkarakter dan mengundang tawa sebagai bos perusahaan yang care tapi annoying. Jangan lupakan, "Kaesang" akan jadi kejutan di film ini.

Jangan berharap film ini hanya komedi. Drama dalam film ini digarap dengan sangat serius. Beberapa scene sangat menguras air mata bagi si peka. Sangat emosional, kejelian Ernest menyusun skrip-skrip drama yang tidak lama kemudian diangkat kembali ke komedi-komedi situasi yang gak kalah cerdas nya. Oh iya, film ini juga di dukung dengan baik oleh soundtrack-soundtrack nya. Film ini jadi sangat reccomended di awal tahun ini. Bahkan film ini layak di putar di negara-negara tetangga.

Rating 8.5/10

                       

Penulis :
Ashari, @arhieashari berharap kelak bisa segera menulis skrip komedi. 

HANGOUT : Thriller Comedy, Pembuktian Raditya Dika

|

padapanik.com - Hanya rentan beberapa bulan sejak Koala Kumal berhasil menembus 1,8 Juta dan bersaing dengan 4 film Indonesia lainnya di daftar film Indonesia yang tayang di bioskop saat hari libur lebaran, Raditya Dika kembali menyelesaikan film terbaru nya berjudul "Hangout" dan di tayangkan di bulan desember which is itu sangat ketat persaingannya.

Setelah "Koala Kumal" keluar, entah kenapa semakin banyak orang yang menyinyir Raditya Dika di media sosial. Salah satunya di Hipwee yang membahas tentang prediksi bahwa tidak lama lagi orang akan bosan dengan Raditya Dika. Hal itu sepertinya sampai ke telinga sang penulis hingga tidak lama "Hangout" hadir menjadi sebuah pembuktian seorang Raditya Dika. 

Gak tau kenapa, yang orang ingat dari setiap karya Raditya Dika hanya soal cinta. Padahal, beberapa karya dikemas dengan sangat jenius bahkan cara menulis komedi nya menjadi influence yang sangat berpengaruh bagi perkembangan industri komedi di Indonesia. Buku "Manusia setengah salmon" dan "Koala Kumal" misalnya. Value dalam buku pasti akan melewati ekspetasi para konsumen buku humor karena pembaca akan di buat berpikir hal-hal yang tidak kita sadari sebelumnya. 

Dalam 1 tahun membuat 2 film dan menjadi raditya dika itu sulit. Setelah di ejek karena karya nya "cinta-cintaan doang". Raditya dika menyelesaikan waktu singkat dengan membuat film bergenre Thriller-Comedy sebuah langka yang berani untuk membuktikan sesuatu. 

9 orang public figure diantara nya Raditya Dika, Mathias Muchus, Soleh Solihun, Prilly Latuconsina, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Surya Saputra, Titi Kamal dan Bayu skak di undang seorang sosok misterius ke sebuah pulau. Bukannya di ajak syuting seperti yang mereka harapkan. Mereka malah mati satu-persatu hingga akhirnya yang tersisa berusaha mencari tahun siapa pembunuhnya. 

Hanya itu yang bisa saya tulis di sinopsis menunjukan film ini memang punya cerita sederhana dan rentan spoiler. Tidak hanya jalan cerita, ada beberapa hal yang membuat film ini bisa selesai dengan cepat. Meskipun melalui vlog yang di unggah di youtube, terlihat proses syuting nya sangat sulit.

Sebuah film membutuhkan waktu penulisan dan proses kreatif yang panjang, produktivitas Raditya dika dan kejeniusan nya mampu mengakali film ini agar bisa selesai dengan cepat. Di antara nya :

  1. Cerita ini sangat sederhana, kalau kalian penggemar card game / board game "Werewolf" pasti familiar dengan cerita ini. Bahkan di Jepang pernah membuat film yang ceritanya di adaptasi dari game ini. Raditya Dika adalah penggemar dan pemain pro dalam permainan ini. 
  2. Hanya ada 9 pemeran utama termasuk dia yang semuanya adalah aktor pro. Kecuali Bayu Skak yang meskipun adalah Youtubers, ia juga sudah beberapakali terlibat dalam film sebagai pemeran utama. Hal ini di buktikan Radit yang biasanya hanya mengandalkan Stand Up Comedian atau Youtubers pemula untuk mengurangi budget sekaligus menjadi buzzer untuk filmnya. 
  3. 9 Pemeran utama tersebut memerankan dirinya sendiri, nama mereka sendiri dan profesi mereka sendiri. Meskipun ada beberapa improve untuk kebutuhan komedi, yang jelas untuk membentuk karakternya tidak akan begitu menguras waktu karena aktor yang di pilih sudah memiliki background yang kaya. 
  4. Menulis skrip komedi memang sangat susah, di tambah lagi ia harus menulis materi untuk Stand Up Comedy dan beberapa kerjasama brand yang pasti menguras ide. Oleh karena itu, materi komedi kali ini kebanyakan seputar kehidupan pribadi para pemain. Jokes sehari-hari. Berbeda dengan Koala Kumal yang memperbanyak komedi situasi. Kali ini memasukan unsur komedi ceng-cengan sehari-hari atau bisa termasuk materi roasting tiap pemain. Sehingga mudah related dan mudah untuk di tertawakan. Seperti membahas Prilly sebagai mantan pemain GGS, atau Gading Marten yang masih kalah terkenal dengan Roy marten sang ayah. Komedi yang mudah, Radit hanya memikirkan timing nya yang pas. 
  5. Ingat film "Single" dimana Radit mengajak Babe Cabita dan Pandji Pragiwaksono untuk menjadi partner bermainnya? Hasilnya di bawah ekspetasi. 3 Stand up comedian senior itu ternyata tidak cocok, tektok yang di tawarkan tidak seru sama sekali. Kali ini, Raditya Dika mengajak Soleh Solihun dan Gading Marten sebagai partner nya. Hasilnya? Pecah!! Soleh Solihun di bebaskan ngoceh sepuasnya dan apapun yang keluar dari mulutnya seperti terlalu mudah untuk lucu. Jangan lupa masih ada 6 pemain lainnya yang siap menambah amunisi komedi nya.
Film ini di selesaikan dengan cepat dan pastinya tidak lama lagi akan menembus 1 juta penonton. Sayangnya Image Radit yang lama membuat para calon penonton menganggap bahwa film Radit hanyalah untuk segmentasi remaja. Sehingga menurunkan minat untuk menonton. Padahal ini adalah film Raditya dika pertama yang hanya bisa di tonton umur 13 tahun keatas. 

Ceritanya sederhana, dengan genre thriller dan comedy yang sangat kontradiksi. Sayang sekali, Teka-teki di selesaikan dengan terlalu mudah, modus pelaku nya juga cukup mengerutkan dahi. Plus nya, Raditya Dika selalu berhasil mengakhiri konflik dengan manis. Spesialis yang jarang orang ingat. 

Filmnya sangat padat, konflik sangat cepat. Ada beberapa adegan klise yang membosankan. Film ini disusun lumayan rapih. Sebagai spesialis film komedi, Adegan Thriller yang di tampilkan tidak main-main. Efek sadis dan darah pun cukup seram. Meskipun tetap saja bikin ketawa. Kalau saja film ini di persiapkan lebih lama, saya yakin hasilnya akan jauh lebih maksimal. 


Di luar itu, Prilly Latuconsina menunjukan kualitas akting yang sangat baik. Mungkin beberapa tahun lagi dia bisa jadi aktris yang mumpuni. Dinda kanya dewi memiliki peran yang cukup membantu komedi, sayangnya beberapa terlalu over, meskipun adegan paling pecah ada di scene dia. Di paragraf ini, saya tetap ingin memuji trio Raditya Dika, Soleh Solihun dan Gading Marten yang solid membentuk set up dan punchline. Komedi nya jelas sekali tidak di tulis oleh Radit sendiri. Mengingatkan saya pada Trio Warkop (maafkan saya fans warkop). Tapi celetukan Soleh Solihun sangat kaya akan komedi mengingatkan saya pada almarhun Kasino. Radit menjadi Alm.Dono dan Gading menjadi Indro. Itu versi saya loh ..


Rating 7.0 / 10

                     
Penulis :
Ashari @arhieashari, mengkonsumsi karya Raditya Dika sejak SMA.  

SCENE PENUH DEJAVU DI FILM WARKOP DKI REBORN PART 1

|

padapanik.com - Kalau ngomongin film "Warkop Reborn" mungkin sebagian udah pada bosan. Iyalah, beberapa bulan terakhir nih film jadi pembicaraan banyak media bahkan sejak para pemain nya belum ketahuan. Beberapa minggu sebelum penayangan di bioskop, para calon penonton di buat penasaran dengan muncul nya para cast di hampir seluruh program TV bahkan vlog mereka di akun "falcon" juga selalu update dan memenuhi beranda youtube. 

Kesempatan mengadaptasi dari film-film Warkop yang melegenda ini sepertinya tidak di sia-siakan oleh Falcon. Hal ini di perkuat dengan divisi marketing dari mereka yang sudah sangat solid, pastinya bakal teringat bagaimana film "Comic 8" di manjakan dengan strategi promosi yang baik dan hasilnya yang selalu di atas 1 juta penonton. Maka pada salah satu episode serial "Socmed Today" di channel youtube padapanik, kami tidak ragu memprediksi film Warkop akan mudah menembus 1 juta penonton. 
Warkop DKI Reborn part 1 menceritakan tentang tiga orang anggota CHIPS (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial) Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Sebastian), dan Indro (Tora Sudiro) di beri tugas oleh bos (Ence Bagus) untuk menghetikan aksi begal di ibukota. Sayangnya di tengah-tengah menyelesaikan tugas, mereka bertiga malah terkena musibah dan akhirnya harus mengganti biaya ganti rugi sebesar 8 Miliar rupiah atau mereka akan masuk penjara. Ditengah keputusasaan, mereka bertiga mendapat misi baru untuk memecahkan kode rahasia untuk mendapatkan warisan yang mungkin bisa menyelamatkan nasib mereka bertiga. 
Film di mulai dengan munculnya Pakde Indro yang asli untuk membacakan beberapa berita ngawur yang sayangnya tidak berhasil, meskipun mengingatkan kita pada adegan warkop namun jokes nya membuat satu studio bioskop hening. Saya mulai mengerutkan dahi dan menurunkan ekspetasi bahwa film ini memang hanya untuk nostalgia belaka. Sejak awal saya kurang yakin kalau jokes warkop masih bisa relevan di zaman sekarang (relevan dalam artian pecah). 

Sayangnya prediksi saya salah, hanya beberapa menit setelah adegan tersebut, satu persatu akting Warkop versi 2.0 ini membuat satu studio terbahak-bahak. Ini benar-benar parah, Penonton di hajar terus-terusan dengan punchline yang nonjok meskipun beberapa jokes mampu di tebak penonton.

Saya harus memuji para penulis dan consultant comedy yang bertanggung jawab atas kelucuan ini. Benedion, Awwe dan Arie Kriting. Sebelumnya yang saya ingat dari Warkop hanyalah perpaduan antara Slapstick dan adegan vulgar. Film ini menyadarkan saya tentang beberapa hal rumus dari film warkop secara kompleks.
  1. Warkop identik dengan mengisi kekosongan frame dengan stock shoot yang menampilkan fenomena sosial di masyarakat yang tidak jarang tetap mempertahankan ritme humor di dalam film nya. Mulai dari kelakuan pengemudi motor di jakarta sampai tulisan-tulisan lucu di bagian belakang truck. 
  2. Pakde Indro pernah mengatakan kalau Warkop sebenarnya adalah Stand up comedian yang selalu membawa isu sosial politik di berbagai panggung. Sayangnya untuk generasi kayak kami belum sempat menikmati hal tersebut karena hanya tau film-film slapstick nya saja. Di film ini jelas sekali banyak isu sosial politik yang ingin di sampaikan. Meskipun sangat sulit membungkusnya dengan komedi. 
  3. Jangan lupa, Warkop juga identik dengan editing keren yang malah menghasilkan kelucuan. Di film-film terdahulu, Warkop menggunakan trik kamera yang unik dan imajinasi yang liar. Kali ini (karena kecanggihan jaman) editing juga di tambahkan dengan CGI (Computer Graphic Image) yang menambah kelucuan. Meskipun editing nya jelas sekali, tapi selalu bisa di amini saat menonton film humor. 
  4. Warkop memiliki pembagian peran yang sangat baik antara ketiga pemainnya. Indro menjadi playmaker, Kasino menjadi eksekutor dan Dono menjadi target man atau bisa juga jadi sasaran utama. Uniknya, Dono selalu memiliki hoki paling tinggi diantara semuanya. Sehingga menjadi kekayaan cerita dan humor tersendiri. 
  5. Warkop identik dengan musik juga. Beberapa lagu yang dibawakan mereka langsung bisa diingat dengan baik. Tidak jarang masyarakat mengklaim lagu yang dibawakan adalah lagu warkop (padahal beberapa adalah adaptasi bahkan cover dari lagu lain). Sayangnya di film ini Vino G. Sebastian menyanyikan "Nyanyian kode" saya rasa kurang berhasil. Memang Vino bukan seorang penyanyi, berbeda dengan Kasino yang terkenal paling jago masalah lagu.
  6. Sisanya adalah Jokes Slapstick, Warkop Angel yang sexy, dan komponen-komponen lainnya.
Dalam film ini juga terdapat jenis jokes yang menceritakan bahwa mereka benar-benar sedang syuting, saya sendiri belum tau jenis jokes apa itu tapi sudah sering di gunakan di berbagai film maupun sitkom. Jokes seperti "Namanya properti syuting pasti ringan yah", "Jangan sampai ketinggalan, biar kontini", "yah namanya adegan kejar-kejaran yang harus seru lah" atau "Ah elu, nambah-nambah durasi aja".  Entah apa istilah untuk jokes satu itu. Ada yang tahu?

Film ini kaya sekali dengan jokes stand up comedy yang di tulis dengan baik. Kalian akan menemukan pola semacam "Rules of three" atau "Callback" dalam alur cerita nya. Kalau sudah begini, saya optimis dengan masa depan film komedi di Indonesia. Hal ini diperkuat dengan munculnya profesi "Consultant comedy" tadi. Dan adegan-adegan khas yang membuat dejavu dan nostalgia di jahit dengan rapi sehingga tidak terkesan maksa.

Saya benci mencari hal negatif dalam film yang saya sukai, tapi jika itu di butuhkan untuk menjadi sebuah review yang kompleks. Ada beberapa hal yang harus saya kritik misalnya penampilan Dono dengan perut yang terlalu over (film aslinya tidak sebesar itu), Akting Tora yang masih terlihat sangat tora, bahkan jokes-jokes pun saya percaya adalah khas dari Tora Sudiro itu sendiri, Alur cerita yang terlalu sederhana, bahkan pemilihan diksi 8 Miliar untuk ganti rugi menurut saya terlalu impossible untuk di percaya. Padahal hanya 1M saja, penonton akan lebih mudah related dan percaya. Saya juga menyayangkan peran Pakde Indro yang hanya berperan layaknya Adjis Gagap dalam OVJ. Sayang sekali.

Part kedua bersambung dengan cukup baik, tidak begitu nanggung karena berhenti ketika memasuki petualangan selanjutnya. Belum ada bocoran kapan tayang, Tapi penonton malah makin dihajar dengan adegan bloopers diakhir film yang sangat pecah (tidak perlu menunggu credit tittle). Goodjob lah semua yang terlibat dalam film ini, terimakasih sudah sangat menghibur. Jayalah film Indonesia.


                

Penulis :
Ashari @arhieashari, Penikmat warkop dari VCD dan TV di hari libur lebaran.

Koala Kumal : Sebuah komedi patah hati lagi

|

padapanik.com - Raditya dika kembali dengan karya terbaru nya, Koala kumal. Lagi-lagi diangkat dari sebuah buku nya yang selalu laris manis kayak kue cubit greentea. Dan seperti biasa, hewan menjadi inspirasi nya dalam menganalogi kan keresahan nya. Kali ini sebuah lukisan koala di sebuah hutan di Australia yang habis di tebang dirasakan Raditya dika sebagai sebuah peristiwa kembali nya seseorang ke suatu tempat yang telah ditinggalkan, namun terasa sangat berbeda ketika pulang.

Koala kumal, rasanya tidak perlu di beri sub judul "Sebuah komedi Patah Hati". Karena hampir semua film dan karya Raditya dika berbicara tentang patah hati. Bedanya, keadaan nya di buat se complicated mungkin sehingga menjadi film Patah hati terhebat yang pernah di buat Raditya Dika.

Dika (Raditya Dika) harus merasakan patah hati di ambang pernikahan nya dengan Andrea (Acha Septriasa) yang merasa bertemu dengan cinta sejatinya James (Nino Fernandez). Keadaan tersebut membuat Dika merasakan patah hati terhebatnya sehingga menganggu produktivitas nya menyelesaikan buku terbaru dan tidak bisa menemukan pengganti Andrea dalam kurun waktu yang lama. Hingga akhirnya Dika bertemu Trisna (Sheryl Sheinafia) seorang ketua club buku dengan kepribadian yang unik dan berusaha menjadi pahlawan yang membantu Dika menyelesaikan masalah nya dan keluar dari patah hati terbesarnya. Sayangnya Trisna memiliki ide-ide yang absurd dan tidak mudah untuk berhasil begitu saja. 

Setelah menonton film nya, saya pribadi hampir tidak mengingat cerita mana yang diangkat dalam buku nya. Saya sudah membaca buku Koala Kumal dan tidak familiar sama sekali dengan tiap adegan nya. Raditya Dika hanya mengangkat benang merah dari analogi Koala Kumal dalam buku nya.

Lagi-lagi film ini punya kekuatan yang kuat karena dari pemain utama hingga figuran memiliki nama-nama besar yang sudah memiliki penggemarnya masing-masing. Stand up comedian seperti McDanny, Rahmet Ababil, Hifdzi Khoir, Muhadkly Acho, Ernest Prakasa dan Yudha Keling tentunya. Duet Ernest dan Raditya dika jauh lebih klop di bandingkan di Trio di film "single" (Pandji dan Babe). Sayangnya, scene nya tidak begitu banyak. Duet tersebut mengingatkan saya pada kesuksesan duet Raditya Dika dengan Ryan Andriandy yang sukses di serial Malam Minggu Miko. Bad news nya, beberapa komika lainnya terasa tidak maksimal. Atau tidak di maksimalkan oleh script. Entahlah.


Film ini juga terbantu dengan peran para Youtubers familiar yang lalu lalang sebagai cameo dalam film ini. Tomy Limmm, Kevin Anggara, Arif Muhammad, Pao Pao LDP, Duo Harbatah, dan duo pasangan Indovidgram Ardina Putri dan Dhino haryo yang cukup mengambil peran dalam film ini. Youtubers sepertinya mulai menjanjikan aktor-aktor baru berbakat.

Raditya dika memanfaatkan momen film ini untuk berduet dengan nama-nama besar dalam dunia perfilman tanah air. Selain itu, Dika berani berduet dengan Acha Septriasa yang mungkin jauh lebih berpengalaman. Sheryl mungkin menjadi salah satu daya tarik terkuat film ini. Dika sepertinya sudah sangat mempersiapkan karakter Trisna untuk Sheryl, bahkan gaya komedi nya berbeda dengan karakter Dika yang absurd dan konyol. Sedangkan karakter Trisna di buat lucu dengan komedi situasi yang sederhana tapi pecah. Sayangnya karakter Trisna yang sok tau, punya ide-ide absurd yang selalu gagal, dan percaya diri mengingatkan saya pada karakter Ryan di serial Malam minggu miko. Hampir tidak ada bedanya kecuali gender dan latar belakang kehidupan karakternya.

Jika film "single" terlalu mengandalkan kualitas Cinematografi dan Visual Effect nya, di Koala kumal dibuat seimbang. Meskipun tidak terlalu mewah seperti film sebelumnya, kualitas Cinematografi nya sangat memanjakan mata di seimbangkan dengan script komedi absurd khas Raditya dika. Yah seperti biasa, selalu saja ada punchline yang miss. Menulis script komedi memang berat. Dan sebagai stand up comedian, Raditya dika jelas meletakan punchline terbaik nya di akhir layaknya sebuah set Stand up comedy. Dan tentunya di akhiri dengan kalimat-kalimat baper seperti di setiap karya nya.

Bagi saya, mungkin ini salah satu film terbaik Raditya dika.  Jika film "Single" terkesan hambar dan drama, Film Koala kumal menyeimbangkan komedi dan drama nya dengan sangat baik. Saran saya, sebaiknya Raditya dika tidak terlalu memberi embel-embel komedi pada film selanjutnya. Karena ekspetasi penonton akan lebih mengarah ke komedi daripada jalan ceritanya. Sehingga wajar jika mendapat banyak kritikan negatif. Andai film Koala Kumal di sounding sebagai film drama, komedi nya akan dianggap sebagai nilai plus nya. Sedangkan jika di sounding sebagai film komedi, orang akan fokus kepada setiap scene dengan harapan ada punchline yang lucu di setiap akhir scene nya. Padahal sejak dulu, karya Raditya dika tidak hanya soal komedi tapi juga soal keresahan.

                       
Penulis :
Ashari @arhieashari, penonton Koala kumal di akhir-akhir penayangan karena mudik.