Banner

Tampilkan postingan dengan label MOVIES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOVIES. Tampilkan semua postingan

The First Slamdunk (2023) : Kisah Pilu, Nostalgia dan Pertandingan Basket Yang Seru!

|

padapanik.com - Setelah tamat sejak 24 tahun yang lalu, Salah satu manga populer di era 90an karya Takehiko Inoue ini akhirnya kembali merilis karya franchise terbaru dalam format film layar lebar. Film animasi berjudul "The First Slamdunk" sudah bisa di tonton di bioskop Indonesia sejak 22 februari 2023. Jika kalian menjadi bagian dari pembaca manga atau penggemar anime nya sampai tamat, maka cerita yang ditampilkan sebenarnya sama saja dengan yang sudah pernah dibuat. Tapi disusun dengan plot, alur dan sudut pandang yang berbeda. Film ini memberi sensasi nostalgia dengan cerita lama namun tetap seru dan terasa baru. 

Ryota Miyagi adalah seorang anak kecil yang tinggal di daerah pesisir Okinawa. Ia sangat menyukai basket karena terinspirasi dari kakaknya Souta Miyagi yang jauh lebih berbakat dari dirinya, Souta memiliki postur yang sangat mendukung tidak seperti Ryota yang bertubuh pendek. Saat kematian kakaknya, Miyagi terus berjuang untuk membuktikan dirinya sebagai seorang pebasket hebat. Ia melewati masa yang panjang hingga hari dimana ia bersama Shohoku harus menghadapi salah satu kandidat juara terkuat, SMA Sannoh. Mampukah Ryota membuktikan dirinya? 

Manga Slamdunk daya tarik utamanya adalah karakter Hanamichi Sakuragi atau si rambut merah yang merupakan berandalan sekolah, tengil, absurd, dan ditambah lagi sebagai karakter utama di manga basket, ia tidak paham dengan aturan, bukanlah pemain jago maupun berbakat dan bermain basket hanya karena motivasi nya mendekati seorang wanita. Makanya Slamdunk selain menampilkan basket yang real tanpa embel-embel kemampuan spesial atau fantasi lainnya, Manga ini memiliki keunikan hubungan antar karakter yang selalu berhasil mengocok perut pembacanya. 

Sayangnya manga nya tiba-tiba tamat seenaknya di volume ke 31 dengan ending yang tidak begitu memuaskan. Memang sih, Slamdunk tidak seperti Captain Tsubasa yang punya obsesi besar menjuarai Piala Dunia, Slamdunk cuma menampilkan romansa tim basket masa-masa sekolah yang berakhir begitu saja. Bahkan juara turnamen saja tidak. Makanya, Film ini menjadi obat rindu atau mungkin sebagai permintaan maaf mangaka nya kepada pembaca. Film ini ditulis dan disutradarai langsung oleh mangakanya sendiri. 

Meskipun dengan cerita yang hampir sama, The First Slamdunk berbeda karena tidak mengambil sudut pandang Sakuragi yang pastinya bakal jadi film komedi. Bukan juga mengambil POV Kaede Rukawa yang super cool dan jenius dalam bermain basket. Uniknya, film ini mengambil sudut pandang cerita utama dari karakter Ryota Miyagi, Point Guard dengan nomor punggung 7 di Shohoku. 

Kisah Ryota tidak selucu Sakuragi, Film ini menggambarkan sisi yang sangat sulit untuk karakter utamanya, rasa duka mendalam, frustasi, bayang-bayang dan perbandingan hingga drama keluarga yang panjang. Kisah pilu Ryota dijahit dengan sangat rapih dengan satu pertandingan sengit antara Shohoku melawan Sannoh. Plot yang disusun sedemikian baik ini membuat filmnya sangat mudah dinikmati dan membuat filmnya memberi perasaan yang campur aduk. Beberapa jeda diam tanpa suara dalam film ini membuat penonton ikut tarik nafas. Ditambah lagi, film ini menyajikan animasi pertandingan basket yang sangat seru. Konsep menggabungkan 2D dan 3D dalam anime ini menjadi sangat menarik (lebih menarik dari pertamakali liat trailernya). Vibes pertandingan basket dengan tempo yang dinamis digambarkan sangat baik dengan sajian jumlah frame yang tepat sehingga terasa memanjakan mata. 

Ada beberapa hal minor yang disayangkan. Misalnya scene ikonik Coach Anzai yang tiba-tiba berselebrasi tidak digambarkan begitu baik. Beberapa part lucu seperti Sakuragi yang bilang akan menyusul ke Amerika ke Eiji (pemain Sannoh), atau momen pantai yang harusnya diisi oleh pertengkaran bocah ala Rukawa dan Sakuragi. Film ini juga tidak begitu banyak menampilkan karakter Kaede Rukawa sebagai pemain andalan Shohoku. Padahal karakter ini punya magnet yang juga sangat kuat. 

Menariknya, Menonton The First Slamdunk tanpa harus membaca Manga atau menonton anime nya pun akan sangat mudah memahami nya. Jadi sangat cocok untuk penonton umum. 

Padapanik ngasih rating 8.5/10 untuk "The First Slamdunk".

Penulis :

Ashari @arhieashari 

Eternals (2021) : Multikultural dan Ambisius dari Marvel Studios

|


padapanik.com - Eternals bisa dibilang sebagai salah satu film paling cantik yang pernah dibuat Marvel Studios. Film ini membuka lebih banyak dunia dan hubungannya dengan asal mulanya kehidupan baik di bumi maupun di semesta Marvel itu sendiri. Secara sinematografi, film arahan Chloe Zhao yang sukses memenangkan Penghargaan Best Director Oscar 2021 untuk film Nomadland ini membawa kita untuk masuk ke dalam intrik Makhluk Super yang berkutat pada loyalitas, kisah cinta dan emosi personal masing - masing karakter melalui visual yang cantik yang megah

Eternals bisa dibilang sebagai salah satu film paling cantik yang pernah dibuat Marvel Studios. Film ini membuka lebih banyak dunia dan hubungannya dengan asal mulanya kehidupan baik di bumi maupun di semesta Marvel itu sendiri. Secara sinematografi, film arahan Chloe Zhao yang sukses memenangkan Penghargaan Best Director Oscar 2021 untuk film Nomadland ini membawa kita untuk masuk ke dalam intrik Makhluk Super yang berkutat pada loyalitas, kisah cinta dan emosi personal masing - masing karakter melalui visual yang cantik yang megah

Eternals adalah film dengan cast paling beragam, multikultural dan paling ambisius dari Marvel Studios. Disandingkan dengan Guardians of Galaxy yang notabene kumpulan pahlawan super yang berada dalam satu tim, Cast Eternals berisi aktor dan aktris yang merepresentasikan ras penduduk Bumi. Kumail Nanjiani, Don Lee, Barry Koeghan, Salma Hayek, dan Angelina Jolie adalah diantaranya. Gemma Chan dan Richard Madden sebagai dua karakter sentral membawa jalan cerita dengan sangat baik. Masuknya Lia McHugh sebagai karakter cilik dan Lauren Ridloff sebagai cast dengan disabilitas menegaskan Eternals sebagai film bagi semua kalangan, juga masuknya karakter LGBTQ oleh Brian Tyree Henry (yang banyak diprotes karena too much bagi film superhero yang akrab bagi anak - anak) menegaskan ambisi Chloe Zhao menjadikan film ini sebagai film dengan Cast dengan cerita dan latar belakang paling beragam, relate dan bertabur bintang

Opini pribadi, saya menganggap film Eternals ini cukup bagi pengantar penonton Marvel untuk membuka jalan lebih dalam lagi untuk mengetahui sejarah dan awal mula kejadian pencipta Marvel. Namun dengan Cast dan latar belakang ambisius itupun memakan korban, cutscene sensor menjadi penyebabnya. kurangnya kita mengenal dan mendalami karakter masing - masing untuk menjadi believable dan loveable menjadi salah satu alasan. Tertabrak kultur, chemistry Gemma Chan dan Richard Madden kurang begitu memikat bagi sepasang makhluk hampir dewa yang memiliki emosi manusia. Saya malah lebih kesengsem dengan hubungan malu - malu meong Makkari dan Druig yang menggemaskan. Entah mengapa saya merasa ada beberapa hal yang kurang ketika menonton film ini, dibanding menikmati intrik hubungan antar sesama Eternals, saya lebih menikmati adegan komedi dan pertarungan di film ini

Namun disamping itu semua, Eternals tetap film yang harus ditonton bagi mereka yang mengikuti film - film dari Marvel CInematic Universe. Beberapa pertanyaan kita akan terjawab dengan menonton film ini, seperti mengapa mereka tidak ikut campur ketika terjadi blip, atau hubungan Eternals dengan para Avengers. Semua akan terjawab dengan sendirinya ketika menonton Eternals, yang notabene membuat kita merasa kembali di charge untuk menyambut film MCU lainnya

Spoiler Alert, Eternals juga membuka kehadiran pahlawan/anti-hero Marvel baru. Sedikit saran, tunggulah film sampai ending credit berakhir. karena 2 post credit scene Eternals akan membuat kita akan berteriak “akhirnya, dia muncul!”

Penulis :

Iryansyah Nasir @iyannasr_ 

Lamb (2021) : Mengadopsi anak domba, Folklore aneh dari Islandia

|

padapanik.com - Cerita rakyat atau folklore memang wajar kalau aneh, tidak banyak tercatat siapa pengarangnya diawal dan terus turun menurun dari generasi ke generasi. Pastinya akan ada banyak improvisasi atau misinformasi yang terjadi karena melewati waktu yang sangat panjang. Jika menyebut cerita-cerita rakyat Indonesia seperti Sangkuriang, Buto Ijo dan Timun Mas, Bawang merah bawang putih pastilah terasa sangat liar absurd. Hal ini ternyata juga terjadi pada folklore luar negeri. Salah satunya adalah cerita rakyat dari negara indah Islandia yang berjudul "Lamb". 

Cerita rakyat ini diangkat oleh production house yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan yaitu A24 dengan gaya khas nya yang menurut banyak orang indiependen dan horor anti mainstream. Dengan judul yang sama, "Lamb" (2021) menjadi debut Valdimar Johannsson sebagai sutradara dan menjadi film yang ditunggu-tunggu fans A24 yang semakin sering saya temukan di lingkungan sosial. 

Sayang sekali, saya belum pernah menonton karya-karya tebaik dari A24 seperti Midsommar (2019) atau The Hereditary (2018) meskipun judul dan prestasinya sering terdengar di telinga saya. Bahkan teman saya yang merekomendasikan film ini pun mengambil embel-embel kalau film ini satu rumah produksi dengan kedua film fenomenal tersebut. 

"Ini film horor masa depan!" Kalimat inilah  yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk ikut menonton film ini. 

Ingvar (Hilmir Snaer Gudnason) dan Maria (Noomi Rapace) adalah sepasang suami istri yang sudah lama menikah namun belum punya anak. Mereka tinggal di pedesaan sepi di Islandia dan berprofesi sebagai peternak domba dan juga berkebun. Suatu hari, keduanya sepakat mengambil seorang anak domba di peternakan mereka untuk diangkat menjadi anak. 

Dari sinopsis nya saja, kalian pasti akan kaget dan merasa film ini aneh, tidak biasa bahkan cenderung ke ngaco. Film ini membawa premis yang unik dan anti mainstream. Sama seperti yang saya bilang diawal, kalau cerita folklore kemungkinan ngaco nya cukup tinggi. Lamb adalah cerita rakyat yang diangkat kedalam film, wajar saja kalau premis nya saja sudah aneh. 

Film ini punya alur yang lambat. Bukan hal baru bagi saya yang sangat menyukai film "27 steps of may" (2018) atau "Istirahatlah kata-kata" (2016). Tapi cerita lamb bikin saya cukup tidak kuat karena beberapa scene-scene nya yang tidak perlu dan meaningless sehingga meskipun lambat, tidak padat bahkan tidak memperkuat apa-apa dalam filmnya. Sangat disayangkan. Anehnya, saya yang begitu penasaran dengan film ini langsung menonton beberapa review-nya di youtube dan mendengarkan pengakuan kalau mereka "ketakutan dengan suasana yang dibangun sejak awal" 

hah? 

Sepertinya lagi-lagi saya tidak mampu mencerna film ini, atau para fans A24 terbawa-bawa perasaan kalau film ini memang "khusus" untuk penikmat film anti mainstream? Sepanjang film saya malah menikmati suasan tanah luas, bukit hijau, danau, peternakan yang bagus, langit biru, rajutan-rajutan navajo, angin kencang yang berusaha menerbangkan jemuran dan scene-scene khas Islandia lainnya yang membuat saya semakin ingin kesana. Biasanya, efek dari film horor membuat tempat atau sesuatu berubah "image" sehingga merugikan tempat itu sendiri. Misalnya kengerian Rumah sakit di malam hari, sekolah atau citra badut yang sudah tidak lucu lagi. Film ini tidak memiliki kengerian itu. 

Btw, film ini dilabeli film thriller supernatural loh. Jadi wajar kalau gak ngeri sama sekali. Bukan film horor kok. 

Oh iya, buat yang belum paham dan tidak apa-apa dengan spoiler. Twistnya adalah anak domba tersebut ternyata memiliki badan setengah manusia. kepala domba dengan salah satu tangan nya seperti domba dan sisanya berbentuk manusia. Ia juga berjalan layaknya anak manusia biasa. Dalam hal ini, tidak ada yang membahas hal tersebut dalam film ini. Seolah-seolah biasa saja, Mirip seperti seluruh manusia dalam universe doraemon melihat robot kucing ajaib yang bisa bicara dari masa depan. Gak ada kagetnya sama sekali. Mereka seperti melihat itu hanya domba biasa dan ada pasangan gila yang mengadopsi domba sebagai anak.  

Meskipun secara keseluruhan saya gak suka film ini, tapi ada 2 scene yang menarik dan layak diapresiasi secara teknis keseluruhannya. Scene dimana Maria membunuh ibu domba asli dari anak domba yang ia adopsi, terlihat begitu emosional. Selain itu, scene twist ending di akhir dimana anak domba tersebut memeluk ayah angkat nya. Meskipun CGI yang tidak terlalu baik, tapi emosi nya cukup tergambarkan dengan baik. Bahkan lebih bagus dari ekspresi maria saat mendapati kenyataan yang menimpa suaminya. 

Disaat film ini mulai terasa membosankan, meskipun saya penasaran dengan kelanjutannya yang misterius, tiba-tiba saja langsung ending. Memang anti mainstream, konflik nya tidak memuncak dan datang tiba-tiba lalu selesai begitu saja. Apakah endingnya mengerikan? bagi saya tidak sama sekali, karena penggambarannya yang tidak memuaskan ditambah lagi suasananya yang cerah. Sepertinya saya belum terbiasa dengan genre baru ini. Saya kesal tapi semakin penasaran dengan film A24 lainnya, tapi mohon maaf untuk film ini saya mewakili padapanik.com untuk memberi rating 6/10 

Penulis :

 Ashari @arhieashari 

  

Horror Epic Kolaborasi Korea - Thailand - Review Film The Medium (2021)

|

padapanik.com - Konsep found footage seperti ini sudah banyak dipakai di ebebrapa film baik supranatural, thriller maupun action. Tapi sentuhan sinematografi di film ini memberikan efek yang berbeda. Seperti kita menonton dokumenternya Vice atau Watchdoc. Pengalaman sinematik ini membawa kita untuk ikut hadir dan masuk ke dalam jalan cerita yang disajikan. Walau terkadang gedek juga sama kameramennya, bukannya nolong orang yang sudah mau mati malah tetap asik merekam. Profesionalitasnya nomer satu tapi empatinya ga ada 

film ini bercerita tentang fenomena Shaman atau dukun di Isan region of Thailand, dimana satu keluarga harus menjadi medium untuk Dewa Bayan, Dewa yang mereka percayai. Namun malah menjadi pertarungan antara dukun lokal versus setan keroyokan yang bersemayam dalam gadis cantik bernama Mink

Castnya meyakinkan banget, terutama Mink yang diperankan oleh Narilya Gulmongkolpech, adegan CCTV ala  - ala paranormal activity itu memang bangke sekali bahkan sampai saya menulis ini masih terus terbayang. Cast lain pun juga memerankan perannya dengan sangat meyakinkan. Sangat genuine dan berasa real. Bahkan peran minor seperti bos dukun lokal ataupun pengikutnya yang kerasukan setan aing maung pun terasa tidak dibuat - buat.

Scoring yang pas menambah kesan horror film ini yang tidak mau terlalu menjual jumpscare. Bisa di hitung dengan jari ada berapa momen jumpscare yang tidak terkesan maksa. Film seperti ini bermain dengan suasana yang dibuat di dalam film dengan tone warna yang gelap, mendung dengan sedikit dark. Beberapa aspek handheld kamera yang chaotic dipadu padankan dengan scene - scene yang steady namun disturbing membuat film ini layak disebut sebagai film horror paling ngeri di tahun 2021 ini

Saya memberikan skor 9 dari 10 untuk film ini. Selain plot ceritanya yang sangat genuine dan lokal, sehingga relate dengan masyarakat, bahkan bisa nyambung dengan kepercayaan supranatural masyarakat Asia Tenggara. Dan bagi kamu yang menonton, jangan lupa kalau film ini memiliki rating 21+, karena banyak adegan - adegan khusus dewasa yang ada di film ini, mulai dari nudity, adegan mantap - mantap, gore, darah dan muntahan dimana - mana, sampai adegan pipis di meja kamu bisa terawang di film ini. Selamat menonton.

Kalian bisa nonton ulasannya di Youtube Padapanik.com

           

Penulis :
Iryansyah Nasir @iyannasr_ 

Antara Shang-chi dan adegan klasik film laga Asia

|

padapanik.com - Shang-chi itu adalah film Martial Arts Hongkong dibungkus fantasi ala Komik Marvel dengan sentuhan Hip-Hop California.

Shang-Chi and the Legend of Ten Rings berawal dari 10 gelang sakti milik Xu Wenwu yang pada masa kejayaannya, ia mendirikan organisasi ten rings yang terlibat dalam banyak konflik besar. Hingga di tahun 1996, Ia berpetualan untuk menemukan desa ajaib, Ta Lo. Disaat ia hampir berhasil, ia malah bertemu wanita bernama Ying Li, seseorang yang pertamakali bisa mengalahkannya dalam pertarungan. Wenwu dan Ying Li menjadi sepasang suami-istri, saat ini Ying Li meminta Wenwu untuk berhenti dari dunia gelapnya dan fokus menjadi seorang ayah. Pernikahan ini melahirkan 2 anak, Xu Shang-Chi dan Xu Xialing. Sayangnya sang ibu meninggal dunia, hal ini membuat Wenwu kembali menjadi karakter nya yang dulu dan melatih anak tertuanya Shang-Chi untuk menjadi kuat dan menjadi pembunuh hebat sejak umur 7 tahun. Diusia 14 tahun, setelah berhasil dalam misinya, ia kabur ke San Fransisco dengan nama Shaun dan menjalani hidup sebagai orang biasa.

film yang chara-developmentnya padat dan rapi, mengangkat latar belakang father issue yang sangat kental dalam keluarga Asia. Shang-chi membawa kita untuk kembali ke Bumi setelah menjelajahi Galaksi dan Multiverse yang sedang dalam tahap ekspansi. Tendensi Shangchi sebagai hero Asia pertama yang dikenalkan MCU digas habis - habisan baik secara backstory maupun personanya di dalam layar untuk merepresentasikan Asia sebagai bagian penting dalam semesta sinematiknya Marvel, karakter ini dibuat relate dengan harapan bisa dicintai dan ditunggu kehadirannya ketika akan join fight bersama hero - hero yang sudah kita tonton di film - film MCU sebelumnya

Walaupun karakter Shang-chi di komik maupun film martial arts Hollywood lainnya sangat terinspirasi dari Bruce Lee, di film ini kita melihat sesuatu yang beda dengan pemilihan root Kung-fu Wong Fei-hung di dalam fighting scene-nya. Hal in terlihat jelas ketika perkelahian cinta pertama Wenwu dan Li di awal - awal film. Slow-mo dan kibasan efek angin dalam setiap gerakan sangat indah dan melegakan. Ketika memasuki sequence perkotaan, adegan perkelahian di bus pun memiliki vibes yang sama seperti kita menonton film - film dari Jackie Chan, dengan penggunaan properti dan akrobatik khas yang mematahkan tulang

Dari segi scoring dan soundtrack, keputusan tim MCU bekerja sama dengan 88rising untuk berkontribusi di musik dan scoring dirasa sebagai strategi yang cerdik dan pas, apalagi status 88rising saat ini sebagai representasi musik asia di dunia ini juga menjadi kombinasi yang tepat. Dengan musik yang mereka sajikan baik dalam scoring lagu maupun sebagai musik penyemangat, dapat membuat kita terbangun dari sandaran kursi sambil sumringah ketika menonton Simu Liu memukul dan menendang musuhnya. Sebut saja Rich Brian, DPR LIVE, DPR IAN, Zion. T, Gen Hoshino, NIKI, Warren Hue, dan musisi Asia lain turut meramaikan gedebak gedebuk 808 dan tight snare yang menghiasi pukulan - pukulan kung-fu dalam film ini

Tambahan terakhir, setiap film biasanya memiliki seorang comic relief yang meyakinkan, dan pilihan tim MCU memilih Awkwafina untuk mengisi peran Katy sangat tepat, tidak kurang dan tidak berlebihan, membawa alur film komik khas Marvel tetap kembali pada jalur mereka. Aksi yang berat namun tetap fun. Simu Liu merepresentasikan karakter ini dengan sangat baik. Mungkin tidak se-ekspresif karakter hero lain pada umumnya, namun bisa dilihat dia bekerja sangat keras untuk ini. Kehadiran Michelle Yeoh seakan menegaskan bahwa film ini adalah film klasik dengan modernisasi yang on-point. Dan dari semua cast yang brilliant itu, kita semua harus angkat topi dengan kehadiran Tony Leung sebagai Wenwu. High level aktor dengan segudang pengalaman dan kecakapannya membuat film ini kuat dari segi cerita dan kualitasnya

Film ini dapat menjadi stand-alone, namun karena ini adalah phase 4, jadi diharapkan jangan pulang dulu setelah end-credit di roll. Karena rasa kangen kamu setelah menonton end-game akan sedikit terobati dengan post-credit scene yang fun namun membuat mati penasaran 

Penulis : 

Iryansyah Nasir @iyannasr_ 

Selesai (2021) : Sedikit berbeda, Sedikit kompleks

|

padapanik.com - Ternyata bisa juga tidak ke bioskop selama 1 tahun, pandemi di Indonesia yang tadinya  bikin resah, sekarang mulai terbiasa. Salah satunya adalah tidak ke bioskop. Meskipun kemarin sempat dibuka, tapi sekarang malah lebih ke males, bukan karena pengen tetap di rumah aja. Kebiasaan menonton bioskop pelan-pelan mulai digantikan dengan menonton dirumah. Apalagi, banyak pilihan nonton platform legal yang murah meriah mulai masuk ke Indonesia. Meskipun jumlah penonton nya tidak sebanyak ketika dulu bioskop buka. 

Sambil menunggu beberapa film Indonesia yang menunda penayangannya, ada satu film baru lagi yang sudah sejak lama di promosikan di media sosial dan akhirnya rilis juga. "Selesai" jadi film karya kedua dari Tompi setelah "Pretty Boys" (2019) tayang di bioskop. Film keduanya juga tayang di bioskop tapi bioskop online. Dengan berani mematok harga 40ribu (dimana ini sudah seharga satu tiket bioskop di weekend) di websitenya. Film ini ternyata berhasil mencapai 100ribu penonton. Lumayanlah yah, semoga balik modal.

Rumah tangga Ayu (Ariel Tatum) dan Broto (Gading Marten) diambang perceraian karena perselingkuhan nya dengan Anya (Anya Geraldine) selama 2 tahun sudah tidak bisa lagi ditahan oleh Ayu akhirnya meledak juga. Ditengah pertengkaran mereka, situasi pandemi memaksa mereka tidak bisa kemana-mana. Ditambah lagi, ibu dari Broto (Marini Soerjosoemarno) malah ikut mengungsi ke rumah mereka. Hal ini bikin Ayu dan Broto menyembunyikan pertengkaran nya dan menunda perceraian. 

Tompi kembali mempercayai Imam Darto sebagai penulis film nya. Duo ini kembali menciptakan film drama yang berbeda. Jika di bandingkan dengan film sebelumnya, Penulisan Imam Darto jauh lebih kompleks disini, berani mengambil resiko dan bisa dibilang cukup liar. Meskipun ada beberapa dialog explicit yang berlebihan dan menurut saya tidak perlu sebanyak itu. 

Film khas pandemi dimana tidak banyak cast yang terlibat namun semuanya cukup tepat porsinya, sayangnya film ini tidak berhasil menggambarkan situasi pandemi covid-19 seperti yang ia ceritakan dalam filmnya. Jika cerita dari film ini lebih baik dari Pretty Boys, secara teknis, Pretty boys lebih baik. Demi mengulang kesuksesannya menghasilkan gambar-gambar yang cantik dalam film pertamanya, Tompi terkesan terlalu memaksakan menambahkan banyak elemen color grading yang terkesan tidak sesuai dengan suasana film yang ingin di bangun. Malah terkesan seperti film-film horor luar negeri. Ke-tidak-singkron-an antara proses produksi dengan post production nya membuat warna dari film ini berubah-ubah atau bisa dibilang tidak konsisten. 

Secara cerita, film ini mengangkat isu yang menarik. Seorang wanita yang hanya diam bertahun-tahun mengetahui suaminya selingkuh namun ia memilih untuk memendam demi tetap bisa membahagiakan mertua nya yang sudah ia anggap seperti mama kandung nya sendiri. Sungguh dilema yang menarik, ia tidak bisa memilih, harus bersama keduanya. Iblis dan Malaikat dalam kehidupannya yang sendiri. Akting Ariel Tatum harus mendapat apresiasi disini, kebimbangan, dan emosi nya yang berubah-ubah menjadi daya tarik sendiri dan menjadi alasan kenapa film ini tidak tertebak twistnya. Untuk Gading Marten sepertinya tidak perlu diragukan lagi. Pengembangan karakternya sangat menarik Broto sangat menarik dimana ia bisa panik sekaligus tenang dalam satu scene. Dalam proses tertekannya, ia berusaha tetap menyebalkan dengan malah mencari celah untuk melawan balik. 2 Karakter yang kontra jadi satu membuat karakter Broto begitu menarik sekaligus mempermainkan emosi penonton. Kekayaan karakter keduanya membuat rasanya menjadi berbeda dari drama lainnya. Hal yang cukup mengejutkan karena sebelum menonton film ini, isu tentang jeleknya film ini sudah beredar dimana-mana dan itu hampir saja membuat saya tidak jadi nonton. Faktanya, film ini cukup menarik untuk ditonton dan lebih dari itu, film ini sedikit berbeda. 

7/10

Penulis :

 Ashari @arhieashari

Kate (2021) : Total Chaos dengan visual cantik

|

padapanik.com - Secara visual, konsep dan latar belakang cerita, pantas bagi kita untuk menyamakan film ini dengan franchise John Wick yang tenar itu. Scene fight yang brutal dengan balutan visual cantik dengan unsur cyberpunk-ish nya membuat film ini selain brutal, juga menarik secara gambar. Mary Elizabeth Winstead memainkan peran wanita badass-nya dengan sangat baik. Ya, tentu saja, apa yang lebih menarik dibandingkan dengan perempuan jago gelut yang sedang sakaratul maut, harus berhadapan dengan musuh – musuhnya sembari ditemani anak perempuan manja nan cerewet menyebalkan seperti Ashley di Resident Evil 4. Secara otomatis total chaos akan terjadi dan hal inilah yang membuat filmnya jadi menarik untuk di tonton.

Kate, seorang sniper handal dan petarung kombat harus membalaskan dendamnya dalam kurun waktu 24 jam sebelum ia mati karena di racun oleh musuhnya, yang dimana dalam perjalananya harus mengalami ikatan yang tidak terduga dengan anak korban yang pernah ia eksekusi sebelumnya. Film ini diperankan oleh Mary Elizabeth Winstead, Woody Harelson, Tadanobu Asano, Miyavi dan aktris pendatang baru, Miku Martineau. Film ini disutradarai oleh Cedric Nicolas Troyan yang juga pernah meyutradarai The Huntsman: Winter’s War

Sayangnya dari segi cerita film tidak menampilkan suatu hal yang baru dan bisa membuat penontonnya bereaksi lebih. Dengan jalan cerita yang terkesan menggunakan template cerita film balas dendam pada umumnya. “Musuhku ternyata adalah temanku yang terdzalimi” menjadi plot twist yang dirasa terlalu biasa dan gampang di tebak, sehingga ketika kita menontonnya pun sudah bisa menerka di pertengahan film tentang apa yang terjadi, yang membuat sense of curiosity bagi kami yang menonton menjadi tidak dominan, ini membuat kami hanya menunggu adegan fighting MEW yang di sertai bumbu – bumbu visual yang berdarah - darah.

Catatan khusus yang menarik dari film ini adalah kehadiran Miku Martineau yang menjadi scene stealer bagi penonton filmnya. Sebagai pendatang baru akting dede gemes ini bisa mengimbangi akting para seniornya. Kehadiran MIYAVI dan BAND-MAID juga sangat membantu film ini mengambil hati penonton yang lebih luas, baik di jepang maupun di dunia. MIYAVI, seorang penyanyi – gitaris - songwriter yang sudah pernah bermain di Unbroken dan Bleach: Lice Action ini membawkan karakternya dengan cukup unik dan meninggalkan kesan dalam pada cerita film ini sendiri. Band-Maid sebagai band jepang anti-mainstream yang saat ini memiliki fanbase worldwide dengan solidaritas paling erat juga sangaat membantu mengambil hati para fansnya yang kebanyakan adalah metalhead dengan janggut mekar dan kebiasaan headbang tanpa kenal norma kebisingan tetangga.

Pada akhirnya, film ini menurut kami hanya menitik beratkan tentang jago-nya Mary Elizabeth Winstead mempecundangi musuh – musuhnya di jalanan Tokyo. Sedikit banyak mengingatkan kami pada adegan – adegan di film John Wick dengan fighting act seperti yang ada dalam film The Raid: Brandal. Namun disamping itu, film ini adalah sebenar-benarnya film dengan full package action yang pasti akan disukai para pria maupun wanita jagoan yang sedang mencari girl-crushnya. Secara garis cerita perlu penggalian lebih dalam lagi dengan mempelajari bagaimana caranya membuat plot yang menarik untuk penonton bisa betah sampai akhir, dan tidak hanya jualan percikan darah dan ledakan daging berhamburan. 

7/10 

Penulis :

Iryansyah Nasir @iyannasr_ 

Ben Affleck adalah Batman Terbaik Sepanjang Masa. No Debat!

|


padapanik.com - Batman adalah salah satu superhero DC yang paling populer, terlihat dari fans fanatiknya yang sangat banyak, action figure dengan harga selangit, hingga filmnya yang terus diproduksi sejak era Adam West di tahun 1960-an hingga Ben Affleck di tahun 2016, dan versi Robert Pattinson di tahun 2022 nanti. 

Saya ingat ketika saya kelas 3 SD ketika Batman and Robin (1997) pertama kali ditayangkan di sebuah televisi swasta pukul 8 malam pada tahun 2001an, Ketika itu, saya pertama kali menyaksikan Batman dalam bentuk live action, saya begitu terpukau dengan Batman. Batmobile, aksi Batman dengan batarang, hingga penampilan Arnold Schwarzenegger sebagai Mr. Freeze dan Uma Thurman sebagai Poison Ivy begitu memukau saya saat itu.

Saat itu saya langsung menyukai Uma Thurman sebagai Poison Ivy, maupun sosok Batgirl yang diperankan  Alicia Silverstone. Saya ingat betapa tegangnya ketika saat itu Poison Ivy mencium bibir Robin (diperankan oleh Chris O'Donnell) bersama kedua orang tua saya di depan layar televisi.

Seiring berjalannya waktu, saya kembali dibuat takjub oleh Trilogy Batman karya Christopher Nolan yang begitu sempurna dan tidak pernah membuat saya bosan meskipun saya tonton berkali-kali. Saya pun dibuat menangis terharu ketika menyaksikan Ben Affleck sebagai Batman di Batman v Superman 2016, dan dengan segala hormat kepada Christian Bale dan Christopher Nolan, tapi saya telah menobatkan bahwa Batman Ben Affleck adalah Batman terbaik yang pernah ada meskipun banyak orang yang justru membenci Batman versi Ben Affleck.

Sosok Batman yang Komik Banget


Dari yang saya lihat, kostum yang digunakan Ben Affleck saya katakan adalah kostum yang paling akurat dengan komiknya dengan campuran warna hitam dan abu-abu. Kostum yang digunakan pun sesuai dengan komik Batman New 52 dan animasi The Dark Knight Returns yang menjadi inspirasi Batman v Superman. Selain itu, Batman Ben Affleck adalah Batman yang memiliki tubuh paling besar dibandingkan Batman Christian Bale maupun Batman lainnya. Besarnya Batman Ben Affleck sangat mirip dengan animasi The Dark Knight Returns.

Gaya bertarung Batman Ben Affleck sangat luar biasa. Begitu efektif dan efisien dalam memanfaatkan medan yang ada dan sumber daya senjata yang dimiliki oleh Batman. Dalam adegan pertarungan di sebuah gudang saat berusaha menyelamatkan Martha Kent, dari keseluruhan Batman yang sudah difilmkan, adalah adegan bertarung terbaik yang pernah saya saksikan!

Batman Ben Affleck diceritakan sudah menginjak umur 40 tahunan dan Batman sudah kelelahan setelah lebih dari 20 tahun membasmi penjahat di Gotham City dan harus kehilangan Robin yang telah dibunuh oleh Joker yang diakibatkan kenaifannya sendiri, sehingga saat ini Batman tidak segan-segan bertarung dengan begitu agresif dan membunuh para penjahat meskipun tidak dilakukan secara langsung.

Tidak heran ketika seorang Alien seperti Superman muncul, Batman Ben Affleck berusaha untuk menghancurkannya. Dia pun berkata, “Dia (Superman) memiliki kekuatan untuk menghancurkan seluruh umat manusia. Jika ada kemungkinan satu eprsen saja bahwa dia adalah musuh kita, kita harus bertindak!”

Sosok Bruce Wayne yang Sempurna

Untuk menutupi identitas rahasianya sebagai orang yang suka main hakim sendiri di Gotham City, Bruce Wayne memutuskan untuk menjadi sosok billionaire yang arogan namun elegan. Penampilannya sebagai Owner dan CEO Wayne Enterprises sangat berwibawa dan modis. Dia begitu dihormati oleh para karyawannya, termasuk ketika menyelamatkan salah satu karyawan Wayne Enterprises yang terluka ketika Metropolis diserang oleh General Zod.

Bruce Wayne disini pun digambarkan alkoholik dan kerap kali melakukan one night stand dengan para gadis di Gotham City sehingga Alfred mengeluhkan bahwa barangkali tidak akan ada penerus dari Keluarga Wayne karena kebiasaannya yang seperti itu.

Semua hal negatif tersebut dilakukan untuk menutupi identitas rahasinya sebagai Batman. Tidak hanya itu, perilaku tersebut memang kerap kali digambarkan sebagai perilaku yang wajar dari seorang billionaire ternama.

Sosok Batman Yang Humanis

Banyak orang yang menghujat Batman Ben Affleck dikarenakan dia berhenti untuk menghajar Superman karena saat sedang tertekan, Superman menangis dan menyebut nama “Martha”, dan seketika Batman mengampuni musuhnya tersebut. Sebuah alasan yang sangat konyol dan anti klimaks.

Yang tidak mereka (yang menghujat Batman Ben Affleck) pahami, setelah menyaksikan kedua orang tuanya (Thomas dan Martha Wayne) dibunuh di depannya saat masih anak-anak, kehidupan Bruce Wayne tidak pernah sama. Tidak sekalipun dalam hidupnya dimana dia tidak mengingat kejadian traumatis tersebut.

Sehingga, ketika Superman menyebut nama “Martha” yang merupakan orang tuanya di Planet Bumi, Batman Ben Affleck ini sadar bahwa Superman bukanlah orang jahat karena dia memiliki hati yang tidak tega melihat Ibunya menderita. Batman Ben Affleck sadar ini dan tidak ingin Superman mengalami kejadian traumatis dengan kehilangan sosok orang tua sepertinya, makanya Batman Ben Affleck ini memutuskan untuk tidak melanjutkan pertarungannya tersebut.

Akhir kata, Ben Affleck adalah Batman yang memiliki sisi paling gelap dibandingkan Batman manapun yang pernah disaksikan oleh penggemarnya. Sayangnya, Ben Afleck disini tidak bisa menampilkan potensi terbaiknya karena harus berbagi panggung dengan Henry Cavil sebagai Superman. Sebagai penutup, saya ucapkan terimakasih banyak kepada Ben Affleck dan Zack Snyder yang sudah menampilkan Batman terbaik yang bisa digambarkan melalui layar kaca yang paling mendekati versi komik maupun animasinya yang selalu menjadi khayalan saya selama ini.

Penulis :

 Raden Muhammad Wisnu @rwisnu93 

The Last Dance: Mengenal Basket Dari Kisah Michael Jordan

|


padapanik.com - Pada suatu masa, Michael Jordan dianggap sebagai penjelmaan Tuhan. Saat Chicago Bulls memilih Jordan dalam NBA draft urutan ketiga di tahun 1984, cepat saja dia mengubah Chicago Bulls menjadi tim yang diperhitungkan. Selain membawa timnya menjadi langganan playoff, Jordan juga banyak menyabet penghargaan individu seperti Rookie of the Year (1985), Defensive Player of the Year (1988), Slam Dunk Contest Champion (1987, 1988), dan lima kali NBA MVP.

Namun, apa daya. Chicago Bulls berkali-kali kandas di tangan Detroit Pistons, tim yang mengandalkan duel fisik untuk meredam superiotas Jordan, di final wilayah timur. Di salah satu episode The Last Dance, Jordan sempat mengutarakan kebenciannya pada Detroit Pistons hingga saat ini.


Jika ada satu pelajaran yang bisa dipetik, lihatlah apa yang Jordan lakukan setelah musim berakhir. Jordan benci menjadi pecundang. Dia lipat gandakan latihan fisik untuk menghadapi Detroit Pistons di musim depan.


Keadaan mulai berubah di awal tahun 1990 ketika Jordan memiliki rekan setim yang tidak kalah berbakat, Scottie Pipen. Di musim 1991, Chicago Bulls bukan hanya membantai Detroit Pistons 4-0 di final wilayah, namun juga berhasil menjadi juara NBA setelah mengalahkan Los Angeles Lakers yang saat itu diperkuat oleh Magic Johnson.


Setelahnya, semua menjadi sejarah. Chicago Bulls menjadi tim pertama yang berhasil melakukan three-peat alias tiga kali juara NBA berturut-turut di tahun 1991-1993. Namun, tidak seperti oksigen, masa bahagia juga punya tanggal kadaluwarsa.


The Last Dance adalah film dokumenter Netflix yang menunjukkan bahwa Michael Jordan masihlah seorang manusia biasa. Seorang pemenang selalu memiliki sifat kompetitif. Jordan jelas memiliki itu, namun dia membawanya ke dunia yang salah: judi. Jordan senang berjudi dimanapun, termasuk saat bertanding golf, bermain poker di pesawat, atau melempar koin bersama tim keamanan stadion.


Jordan senang mengalahkan orang lain dalam segala hal. Sesuatu yang memberinya masalah di kemudian hari. Ketidakberesan mulai tercium saat Jordan terciduk bermain judi di Atlantic City pada malam sebelum laga playoff melawan New York Knicks di tahun 1993. Masalah juga datang saat dia ketahuan pernah memberi selembar cek senilai $57,000 ke Slim Bouler sebelum dia dipidana untuk kasus pencucian uang.


Jordan yang awalnya adalah sosok media darling, kini menjadi bulan-bulanan. Dia harus menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. Energinya justru habis di luar lapangan.


Petaka hidup membawa Jordan ke titik terendah saat ayahnya ditemukan tewas terbunuh di pertengahan tahun 1993. James Jordan adalah sosok yang dekat dengan Jordan. Sang ayah selalu berada di dekat Jordan saat dia bertanding. Berbagai masalah pribadi mendorong Michael Jordan untuk mengambil keputusan yang mengejutkan banyak orang. Dia memutuskan pensiun dini di Oktober 1993.



##

Judul The Last Dance diambil dari istilah yang digunakan pelatih Phil Jackson untuk tahun terakhirnya di Chicago Bulls pada musim 1997-1998. Itu adalah untuk kedua kalinya Jordan membawa Chicago Bulls menorehkan sejarah three-peat pada rentang tahun 1996-1998. Setelah musim legendaris itu, Chicago Bulls memasuki masa rebuild, yakni periode dimana sebuah tim NBA melakukan penyegaran dengan trade pemain tua ke tim lain untuk ditukar dengan jatah draft pemain baru.


Di akhir musim itu juga, banyak pemain bintang Chicago Bulls yang memutuskan pensiun atau tidak memperpanjang kontrak. Mulai dari Michael Jordan, Scottie Pippen, Dennis Rodman, Steve Kerr, hingga sang pelatih Phil Jackson.


The Last Dance mempertontonkan Michael Jordan sebagai sosok yang pernah kalah. Pada tahun 1993 dia bahkan memutuskan untuk beralih profesi sebagai atlet baseball. Sebuah hal yang membingungkan untuk seorang pemain basket profesional.


The Last Dance juga memperlihatkan kesuksesan Jordan dalam mengubah wajah NBA menjadi olahraga populer dan prestisius. Salah satunya melalui deal sepatu Nike Air Jordan yang begitu dicintai kolektor hingga saat ini. Di The Last Dance, kita juga bisa menyaksikan pertarungan pebasket terkenal lain, seperti Magic Johnson, Charler Barkley, Isiah Thomas, Reggie Miller, dan masih banyak lagi.


Tidak perlu memahami dunia basket untuk bisa menikmati The Last Dance. Serial ini mengajarkan bahwa kadang basket bisa lebih besar dari kehidupan manusia. Basket bisa menggerakkan kita untuk berubah dan berbenah. Tidak ada hal yang tidak mungkin dicapai. 


Seperti kata Michael Jordan di penghujung kisah :

“All you needed was one little match to start that whole fire.”


Penulis : 

Rean Hidayat @reanhidayat

Belajar dari Film The Fault In Our Stars : Understanding For Your Partner!

|


padapanik.com - Pernah gak sih nonton film sampai bikin nangis kejer.  Gara-gara sangking romantis dan sedihnya film yang kamu tonton? Jika pernah, aku dan kamu ada di posisi yang sama. Mungkin dari kalian, sudah pernah atau bahkan berkali-kali nonton film yang satu ini. Yaps! "The Fault In Our Stars" Film yang diadaptasi dari novel karya John Green emang sering masuk ke dalam rekomendasi list film.  Apalagi untuk kamu yang suka genre romance. Dari poster filmnya aja sudah ketahuan jika film ini adalah film bucin. Namun, bucin yang ada di film ini  disajikan dengan takaran yang pas dan gak berlebihan.

Kalau kamu pernah nonton film Divergent, ada karakter tokoh kakak beradik yang diperankan oleh Ansel Elgort dan Shailane Woodley sebagai Tris dan Caleb. Nah, di film The Fault In Our Stars mereka kembali bersanding bukan sebagai saudara melainkan sebagai pasangan kekasih.

Film The Fault In Our Stars disutradarai oleh Josh Boone ini mendapatkan banyak penghargaan sebanyak 21 penghargaan.  Dan sudah mendapatkan rating epic di situs IMDb yaitu 7.7 dari 10.

Film ini  dibuka dengan karakter seorang remaja bernama Hazel Grace Lancaster [Shailane Woodley] yang tinggal di kota bernama Indianapolis. Hazel adalah remaja yang memiliki penyakit kanker tiroid stadium 4 yang sudah mengalami penyebaran sampai paru-paru.

Hazel pernah nyaris tewas tapi karena keajaiban tuhan dan mungkin tuhan melihat kasih tulus dari seorang keluarganya akhirnya Hazel hidup kembali.

Mungkin Hazel juga paham akan kondisi orang tuanya yang sangat berat jika kehilangan Hazel. Maka dari itu Hazel mampu bertahan untuk hidup. Kehidupan terus berjalan.  Hazel  menjalani hidup sebagai remaja yang bergantung pada tabung dan selang guna membantunya dalam bernapas.

Hazel yang dikira depresi oleh Ibunya, Frannie akhirnya mendesak Hazel untuk mengikuti sebuah komunitas atau perkumpulan pasien kanker dengan tujuan agar bisa mempunyai teman dengan kondisi yang sama.

Di perkumpulan inilah Hazel bertemu remaja tampan bernama August Waters[Ansel Elgort]. August adalah remaja yang harus kehilangan kakinya karena penyakit kanker tulang.
Pertemuan mereka seakan membawa kode dalam hubungan romantis. Pendekatan mereka diawali dengan August yang mengajak Hazel untuk kerumahnya.  Rupanya mereka mempunyai hobi yang sama yaitu membaca buku favorite mereka masing-masing.

Dari sebuah rekomendasi buku yang diberikan Hazel yaitu An Amperial Afflication untuk August,  August juga memberikan rekomendasi buku dengan judul Counter Insurgence.

Dari buku mereka akhirnya menjadi dekat dan memiliki kekaguman pada masing-masing. Hazel dan August saling mengirim pesan satu sama lain.

Dari pendekatan itu akhirnya mereka saling jatuh cinta. August mulai mengabulkan cita-cita perempuan dengan tabung dan selang, yang ingin bertemu dengan penulis buku favorite Hazel untuk menanyakan ending dari buku tersebut.

August yang sangat mencintai Hazel merasa senang jika bisa mengabulkan apa yang diminta perempuan pujaan hatinya.  Hingga  petualangan cinta mereka dimulai di Amsterdam.
Tapi sayangnya perjalanan tak seindah yang dibayangkan, Hazel dan August akhirnya terkejut dengan perlakuan sang penulis buku terlaris saat itu.

Bagaimana bisa? Seorang penulis terkenal tidak punya sikap sopan santun sedikitpun. Walaupun Hazel tidak memperoleh jawaban akhir dari penulis favoritnya tapi dia tak merasa hampa saat kembali ke kota asalnya.

Hazel merasa bersyukur bisa menghabiskan waktu bersama pria yang dia cintai yaitu August Waters.  Kejadian itu adalah sebuah anugrah yang sangat berharga untuk pasangan unik ini.

Lagi-lagi film ini emang bikin nangis kejer.  Aku kira, kisah cinta mereka akan berlangsung lama hingga ending. Tapi ternyata tidak. August pergi meninggalkan Hazel untuk selamanya. Film ini membuat kita belajar tentang mengerti satu sama lain dengan pasangan atau partner dalam hidup kamu.
Mengerti bagaimana keadaan yang ada. Ikhlas menerima apa yang harusnya kita terima. Sebagai pasangan sejati menerima kekurangan adalah sikap masterpiece untuk kita semua. Dari film ini akhirnya kita mengerti, bahwa semesta itu selalu mempunyai kejutan.

Dimana August yang lebih dulu pergi meninggalkan Hazel, tapi Hazel mampu menerima dan merelakan kepergian August seakan itu adalah jawaban manis dari pertanyaan-pertanyaan Hazel pada kehidupannya.

Poin terpenting dalam novel yang dikemas film ini adalah bahwa dalam kehidupan kita gak bisa untuk menghindari yang namanya sakit. Kecewa, sedih, gelisah dan perasaan lainnya pasti ada.  Yang namanya true love pasti mampu mengatasi kesulitan. Disaat August dan Hazel saling mengetahui keadaan satu sama lain, tapi mereka memilih bertahan untuk hidup bersama.

Walaupun, salah satu dari mereka harus pergi.  Pilihan itu yang membuat mereka paham akan semangat hidup.

Mungkin kamu ngerasa sehat hari ini? Tapi kita gak bakal tahu, untuk mengatakan ke Bumi bahwa kita akan hidup lama.  Menikmati dan menghargai setiap momen yang ada merupakan hal yang tidak bisa ditukar oleh  apapun.

The Fault In Our Stars adalah film yang wajib untuk kamu tonton. Ini bukan drama bucin yang klise, film ini menciptakan kisah dimana bukan persoalan orang dengan penyakit serius yang meminta belas kasihan saja. Tapi kisah ini dikemas dengan kisah cinta sejati antara August dan Hazel yang mencari kesembuhan dalam bentuk yang lain.

Selain ending yang sulit di lupakan, The Fault In Our Stars ini juga dikemas dengan proporsi cerita yang berbeda, sehingga untuk kamu yang menonton film ini dijamin deh gak akan bosen. Jika kamu termasuk orang yang tangguh dan jarang nangis. Aku tantang kamu untuk menonton film ini. 

Penulis :

Sri Rahayu, @rahayuesri09_

5 Rekomendasi Film Animasi Pendek

|
padapanik.com - Dalam perkembangannya dunia animasi juga sedang turut meramaikan kancah short movies. kemunculan short movie ini mengutamakan cerita sekilas yang sederhana namun memiliki alur yang menarik dari segi amanat yang disampaikan. Selain memiliki alur menarik, daya Tarik tersendiri dari short animated movie adalah karena durasinya yang pendek (yaiyalah namanya juga short movie kan?) sehingga ceritanya sangat on point dalam menjelaskan alur dan karakteristik yang berbeda antar cerita. Berikut adalah beberapa animated short movies yang bisa anda jadikan salah satu referensi untuk anda tonton dan memiliki ciri khas tersendiri pada tiap ceritanya.

Kitbull (Pixar Sparkshort)





Kitbull adalah film ketiga dari Pixar sparkshort pada New York Academy yang dirilis pada tahun 2019. Diproduseri oleh Kathryn Hendrickson dan director sekaligus writer bernama Rossana Sullivan. Kitbull menceritakan tentang kisah seekor anak kucing berjenis pitbull dimana dia adalah kucing jalanan dengan alur pertama yang menceritakan tentang perjalanan pulangnya pada sebuah kardus tempat tinggalnya ketika mencari makan pada sebuah tempat yaitu dibelakang San Francisco missions district. Suatu hari terdapat sekumpulan orang yang menggeledah belakang tempat tersebut sehingga kardus kitbull pindah pada sebuah pekarangan ketika pitbull tidur tidak sadarkan diri dan pindah ke tempat dimana terdapat anjing peliharaan di sebuah rumah usang tersebut. Kitbul dan Anjing tersebut akhirnya menjadi sahabat karib yang melalui berbagai permasalahan baru dalam mencari tempat tinggal yang nyaman. 

Spring (Blender Open Movie)


                                     

Salah satu short animated movies yang berkonsep surealism. Dengan writer-director-animator Andy Goralcyzk pada tahun 2018. Spring menceritakan tentang seorang pengelana wanita dengan anjing mungil peliharaannya yang sedang berkelana pada sebuah hutan dimana saat itu sedang musim dingin. Suatu hari pengelana tersebut menemukan sebuah batu besar, dengan menggunakan tongkat yang dia bawa, sang pengelana tersebut memukul batu besar tersebut dan menghidupkan monster dewa hutan disana. Sesuai judulnya, Spring adalah film perjalanan menuju musim semi dimana saat musim salju terasa kering dan sulit untuk hidup di hutan. 


Coin operated (animated short movie)


                               


Merupakan short animated movies yang di direct dan di produksi oleh Nicolas Arloli pada tahun 2017 dan telah mendapat 4 penghargaan yang salah satunya adalah Grand Prize Best animated Short Film oleh Rhode Island Film Festival. Dengan cerita seorang anak kecil lelaki yang menyukai spaceship hingga suatu hari ketika dirinya sedang menemani ibunya pulang berbelanja menemukan mesin koin mainan gerak spaceship, yaitu mesin yang dapat gerak maju mundur dengan memasukkan koin. Hingga suatu waktu dirinya melihat awan bulan yang menerka-nerka seperti koin dimana melambangkan kehidupan makmur dan bahagia itu dimasukkan untuk menggerakan sebuah mesin koin mainan gerak spaceship.

Alike


Salah satu film animasi yang merupakan 3D computer animated garapan Daniel Martinez Lara dan Rafa Cano Mendez pada tahun 2015. Cerita ini mengisahkan tentang seorang Bapak dan anak yang berbeda karakter sedang menjalani kisah kehidupan mereka dengan aktivitas se hari-hari, yaitu bekerja dan bersekolah. Suatu hari ketika sang bapak dan anak pergi ke tempat mereka bekerja dan bersekolah mereka menemukan sebuah taman di tengah kota yang berwarna dengan pohon berwarna merah dan orang yang bermain biola di tengahnya. Sang anak sangat tertarik dengan atraksi bermain biola di taman tengah kota tersebut, sang anak yang bersekolah dengan tugasnya sehari-hari dengan riang menggambar pohon merah dengan orang yang bermain biola dan memberitau kepada sang ayah, namun sang ayah hanya tersenyum tanda tidak terlalu tertarik. Sang ayah yang dihadapi pekerjaan menumpuk pun mengalami rasa bosan dan sang anak yang tidak diperbolehkan menggapai cita-citanya tidak lagi bersemangat.

Alike mengajarkan kita bahwa sebuah hal yang diharuskan atau telah mengakar tidaklah selalu harus serius, tapi terkadang keinginan dengan perasaan yang membaik akan lebih mampu untuk dilakukan. Dan mengajarkan bahwa kehidupan ini bisa diperbaiki hanya dengan saling mengerti satu sama lain sebagai seseorang yang saling melengkapi.

One per person (animated short movies)



Karangan Nasheet Azham dan Jacqueline piette, dan short animated movies ini telah meraih dua penghargaan pada London Internasional Filmmaker Festival of World Cinema. Cerita yang mengangkat tentang sebuah perjuangan dan kisah sederhana mengenai dua orang pramuniaga yang bekerja di masing-masing restoran yang kebetulan bersebelahan dan menjual makanan yang sama. Seorang pramuniaga dengan toko pertama menjual makanan yang kurang diminati oleh pelanggan. Ketika cerita ini berlatar belakang dengan seorang yang sedang menjajakan makanan jualannya berupa ayam goreng, cerita pun dimulai. Tidak hanya menjajakan, one per person ini memiliki alur menarik yaitu dimana pelayan toko pertama yaitu sang wanita memulai hari nya tanpa menjajakan dalam arti tidak ada yang tertarik dengan ayam goreng yang dijualnya. Sedangkan pesaingnya laris manis.


One per person mengajarkan kita untuk tetap dapat berusaha ketika sedang jatuh dan berisi cerita dimana sebuah hal yang sama tidaklah harus diperjengkelkan namun carilah sebuah cara agar kedua hal yang sama itu dapat saling berdamai dan rukun. Dengan alurnya yang bercerita bahwa memang ada jatuh ada Bangkit inilah diketahui bahwa semua hal tidaklah selalu lancar.

Penulis : 
Anargya Andini @anargyaandini

Deretan Film Mind Blowing Karya Christopher Nolan, DIjamin Pusing!

|

padapanik.com - Siapa yang tidak tahu Christopher Nolan? Seorang penulis, sutradara dan produser yang sudah sangat terkenal menghasilkan film-film yang bisa dibilang epic. Film-filmnya yang paling terkenal adalah The Dark Night dan Interstellar yang membuatnya mendapat penghargaan sebagai film terbaik dan sutradara terbaik. Bagi anda pecinta film fiksi ilmiah pasti akan sangat menyukai film-film Christopher Nolan. Banyak juga filmya yang mind blowing sehingga membuat penonton terheran-heran dan harus super fokus dalam menontonnya. Berikut ini akan kami sajikan film-film sutradara Christopher Nolan yang paling mind blowing. 

4 Film Mind Blowing Karya Christopher Nolan yang Akan Bikin Anda Pusing

The Prestige (2006) 


The Prestige adalah film yang rilis pada tahun 2006 ini mengantar Christopher Nolan menerima penghargaan sutradara terbaik dari dua ajang penghargaan. Film ini dibintangi oleh aktor terkenal Christian Bale sebagai Alfred Borden, Hugh Jackman sebagai Robert Angier, Michael Caine sebagai John Cutter, Scarlett Johansson sebagai Olivia dan Rebecca Hall sebagai Sarah Borden . Mengisahkan tentang dua pemuda pemain sulap yang sedang merintis karirnya. Mereka mempelajari trik sulap bersama-sama hingga suatu kejadian membuat mereka membenci satu sama lain. 

Mereka kemudian tumbuh menjadi rival. Semua hal dilakukan untuk menjatuhkan satu sama lain dan berusaha unggul. Mereka terobsesi dengan rahasia trik masing-masing dan berusaha mengacaukannya. Suatu hari Borden memiliki trik yang sangat luar biasa. Dia mengklaim bisa melakukan teleportasi menggunakan mesin listrik Nikola Tesla. Namun kenyatannya, mesin tersebut bukanlah mesin teleportasi namun mesin replikasi.

Interstellar (2014) 


Adalah Cooper yang diperankan oleh Matthew McConaughey, serta rekan tim Brand yang dipernakan oleh Anne Hathaway mencoba menjelajahi angkasa untuk menemukan rumah baru bagi manusia karena saat itu Bumi sedang sekarat. Mereka menggunakan Black Hole atau lubang hitam sebagau ‘pintu’ untuk memasuki galaksi lain sampai menemukan rumah baru untuk umat manusia. 

Banyak sekali teori-teori tentang black hole dan dimensi ke lima pada film ini yang harus Anda pahami jika Anda mau mengerti sepenuhnya bagaimana jalan cerita film ini yang sebenarnya. Dan ada juga scene di mana Cooper terjebak di pusat inti Black Hole. Selain kedua aktor dan aktris di atas, film ini juga dibintangi oleh Jessica Chastain, dan Michael Caine.

Memento (2000) 


Film Memento adalah film yang bergenre Thriller Misteri. Bercerita tentang Leonard Shelby yang diperankan oleh Guy Pearce yang bertekad akan membalas dendam ke penjahat yang sudah memperkosa dan memebunuh istrinya. Sayangnya, Leonard memiliki penyakit amnesia short term memory yang membuatnya lupa dengan apa yang ia lakukan 10 menit yang lalu. Oleh karena itu, ia harus mencatat semua kejadian dan memfotonya untuk mencari siapa penjahat yang tega membunuh istrinya. 

Pembawaan film inilah yang membuat Memento sangat mind blowing. Mengandung plot reverse chronology membuat penonton harus memperhatikan setiap kepingan-kepingan adegan dan dialog yang dikatakan setiap pemainnya. Jika tidak, dipastikan Anda tidak akan paham dengan film ini. Endingnya pun dikejutkan dengan plot twist khas Christopher Nolan.

Inception (2010) 


Film ini dibintangi oleh aktor terkenal Leonardo Di Caprio yang memerankan Cobb dan Joseph Gordon yang memerankan Arthur. Keduanya memiliki pekerjaan yang tidak umum yakni menggunakan alam bawah sadar untuk mencuri informasi dari seseorang. Lewat film ini kita akan mengetahui bahwa mimpi itu memiliki banyak sekali level. 

Semakin dalam level mimpi, semakin orang tidak bisa mengingat bahwa mereka sedang bermimpi. Ada juga mimpi yang paling dasar bernama limbo. Di sana adalah dunia tak terbatas yang menyebabkan orang tidak bisa membedakan mana dunia mimpi dan mana dunia nyata.

Penulis :
Dian Nita @dii_nta

TV Series 2019 yang worth binge watching

|

padapanik.com - TV Series sedang banyak digandrungi (sebenarnya udah lama sih, ditandai dengan adanya TV cable di Indonesia) cuma dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia jadi jauh lebih familiar dengan berbagai TV series. Hal ini juga didukung dengan produksi TV Series seperti HBO atau Netflix yang semakin niat, bahkan story dan produksinya gak kalah dengan film layar lebar. Buat kamu yang gak terbiasa dengan istilah "TV series", di Indonesia dikenal dengan Sinetron. Bedanya cuma story nya yang gak itu-itu aja, dan episode nya yang gak beratus-ratus.

Buat kamu yang baru mau nyobain nonton TV series nih, Padapanik punya rekomendasi nya :

1. Game of thrones 


Game of Thrones adalah serial tv drama fantasi yang diproduksi oleh HBO. Seri ini terinsipirasi dari seri novel A Song of Ice and Fire yang ditulis oleh George R. R. Martin. Game of Thrones secara umumnya menceritakan tentang perebutan takhta untuk memimpin 7 Kingdoms. Drama, politik, perang, penghianatan, pembunuhan. kisah cinta semuanya dituangkan dalam serial ini. Season pertama serial dari Game of Thrones ditayangkan pada tanggal 17 April dan season terakhir ditayangkan pada tanggal 14 April 2019 setiap hari Minggu malam waktu Amerika. Serial ini terdiri dari 8 seasons dengan total episode sebanyak 73 episode. Hal yang membuat serial ini enak untuk ditonton adalah kamu tidak perlu susah untuk memahami alur cerita dari Game of Thrones karena hampir setiap adegan memiliki petunjuknya. Tetapi kamu juga akan dibuat terkejut karena beberapa hal tidak sesuai dengan prediksi kamu. Hal ini yang memicu para penonton menebak-nebak dan memprediksi apa yang terjadi selanjutnya sehingga kamu kecanduan dan tidak sabar untuk menanti episode selanjutnya. Meskipun merupakan serial yang sukses, Game of Thrones tidak luput dari kritik. Puncaknya adalah pada beberapa season terakhir yang menuai banyak kritik karena ceritanya dianggap terlalu memaksakan dan melupakan aspek-aspek penting dari bukunya sehingga terkesan sebagai fan fiction.

2. Stranger Things 


Stranger things adalah serial tv original Netflix yang tidak kalah bagusnya dari Game of Thrones. Stranger things merupakan serial tv science fiction horror yang diciptakan oleh the Duffer Brothers. Stranger things pertama kali debut season pertamanya dengan 8 episode pada tanggal 15 Juli tahun 2016. Serial tv ini bisa dikatakan cukup unik karena mengambil set di tahun 80-an. Hal lain yang menarik dari serial ini adalah fokusnya pada kehidupan anak-anak Hawkins yakni Mike, Lucas, Dustin, Will dan Eleven yang menginvestigasi teman mereka Will Byers yang tiba-tiba menghilang usai bermain D&D. Hal yang tidak kalah menarik adalah Stranger things merupakan drama yang menambahkan aspek supernatural. Stranger things merupakan serial yang konsisten dalam hal rating. Tidak heran kalau serial ini banyak peminatnya. Selain menyuguhkan cerita yang berbasis sci-fi, serial ini juga bisa ditonton oleh hampir semua kalangan. Mulai dari mereka yang hidupnya tidak jauh dari tahun 80-an hingga anak-anak zaman milenial. Selain itu banyak pesan yang bisa diambil dari serial ini seperti persahabatan, kerjasama, dan kejadian-kejadian sosial lainnya yang sering terjadi seperti bullying dan permasalahan keluarga.

3. Chernobyl

Berbeda dengan Game of Thrones dan Stranger Things yang merupakan serial fiksi, Cernobyl adalah serial yang diambil berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Uni Soviet pada bulan April tahun 1986. Serial tv ini diproduksi oleh HBO, dan ditulis oleh Craig Mazin. Cernobyl mengisahkan bencana nuklir yang terjadi di Ukrainian Soviet Socialist Republic (Soviet Union), dan siapa saja yang bertanggung jawab atas bencana ini. Mungkin bagi orang diluar Uni Soviet yang tidak mengetahui hal ini belum terlalu familiar dengan ceritanya. Memang ada sedikit yang diubah dari yang sesungguhnya, namun hal ini tidak menghilangkan esensi dari cerita ini. Serial dengan 5 episode ini menceritakan sudut pandang Legasov yang menceritakan kejujuran dan apa yang ia pahami sebenarnya terjadi dan siapa dalang dari bencana tersebut, sebelum akhirnya ia mengakhiri hidupnya. Serial ini akan membuat perasaan kamu bercampur aduk. Mungkin lebih banyak marah karena ini merupakan kejadian nyata dan tidak sedikit nyawa yang terenggut akibat bencana ini. Belum lagi efek yang ditimbulkan pasca ledakan yakni radiasi yang menyebar melalui udara dan kematian mengenaskan dari para volunteer yang memiliki niat yang baik untuk menyelamatkan daerah tersebut.

4. 13 Reason Why



13 Reasons Why merupakan serial original Netflix yang menceritakan kehidupan seorang remaja bernama Hannah Baker yang bunuh diri karena 13 alasan yang ia rekam dalam sebuah tape untuk dibagikan kepada mereka yang disebut dalam kaset tersebut. Untuk orang-orang tertentu, mungkin serial tv ini tidak layak untuk ditonton. Namun sebenarnya banyak nilai yang bisa dipetik dari serial tv ini termasuk salah satunya adalah no bullying. 13 Reasons Why bisad dikatakan serial tv yang berani untuk buka-bukaan soal masalah sosial dan pressure yang dihadapi saat sesorang memasuki dunia remaja, dimana ia baru mencari jati dirinya. Ceritanya bagus, namun ada adegan-adegan yang sangat keras. Saran saja, bagi kamu yang trauma atau yang mengalami deperesi, kamu tidak disarankan untuk menonton serial ini. Baru-baru ini meluncurkan season 3 yang meneruskan cerita season 2 setelah misteri kematian Hannah Baker terungkap dan para penonton dibikin penasaran dengan cliffhanger ending season 2. Satu lagi pesan yang diangkat dari serial ini adalah untuk speak up. Jika kamu mengalami hal yang serupa atau kamu melihat ada orang yang mengalami hal serupa, kamu jangan diam saja melainkan harus melaporkannya. 13 Reasons Why juga mempunyai organisasi khusus untuk menangani problem seperti mental health. 

5. The Act 

Satu lagi serial televisi yang diangkat berdasarkan kisah nyata adalah The Act. The Act adalah sebuah limited series yang diproduksi oleh Hulu. Serial ini menceritakan tentang seorang ibu yang bernama Dee Dee Blanchard dan anak perempuannya Gypsy Rose Blanchard yang harus berpura-pura akting seolah-olah ia sakit berat untuk meraup keuntungan. Secara keseluruhan, The Act menceritakan tentang seorang anak yang tidak bisa ‘bergerak bebas’ dan tidak diperbolehkan ibunya untuk menjadi dirinya sendiri karena ibunya ‘percaya’ bahwa ia sakit. Sebenarnya ibunya menyayangi Gypsy tetapi dengan cara yang berbeda sehingga membuat Gypsy tertekan karena ia tidak bisa hidup layaknya anak normal lainnya. Karena tidak bisa melakukan apa yang ia lakukan, Gypsy (Joey King) diam-diam menjadi pembangkang tanpa sepengetahuan ibunya. Kalau kamu menonton serial ini, kamu bisa marah, bisa kaget, bisa takut dan bisa berempati. Pokoknya campur aduk deh.

Penulis :
Irene H. @irenehelmin