Banner

Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan

The First Slamdunk (2023) : Kisah Pilu, Nostalgia dan Pertandingan Basket Yang Seru!

|

padapanik.com - Setelah tamat sejak 24 tahun yang lalu, Salah satu manga populer di era 90an karya Takehiko Inoue ini akhirnya kembali merilis karya franchise terbaru dalam format film layar lebar. Film animasi berjudul "The First Slamdunk" sudah bisa di tonton di bioskop Indonesia sejak 22 februari 2023. Jika kalian menjadi bagian dari pembaca manga atau penggemar anime nya sampai tamat, maka cerita yang ditampilkan sebenarnya sama saja dengan yang sudah pernah dibuat. Tapi disusun dengan plot, alur dan sudut pandang yang berbeda. Film ini memberi sensasi nostalgia dengan cerita lama namun tetap seru dan terasa baru. 

Ryota Miyagi adalah seorang anak kecil yang tinggal di daerah pesisir Okinawa. Ia sangat menyukai basket karena terinspirasi dari kakaknya Souta Miyagi yang jauh lebih berbakat dari dirinya, Souta memiliki postur yang sangat mendukung tidak seperti Ryota yang bertubuh pendek. Saat kematian kakaknya, Miyagi terus berjuang untuk membuktikan dirinya sebagai seorang pebasket hebat. Ia melewati masa yang panjang hingga hari dimana ia bersama Shohoku harus menghadapi salah satu kandidat juara terkuat, SMA Sannoh. Mampukah Ryota membuktikan dirinya? 

Manga Slamdunk daya tarik utamanya adalah karakter Hanamichi Sakuragi atau si rambut merah yang merupakan berandalan sekolah, tengil, absurd, dan ditambah lagi sebagai karakter utama di manga basket, ia tidak paham dengan aturan, bukanlah pemain jago maupun berbakat dan bermain basket hanya karena motivasi nya mendekati seorang wanita. Makanya Slamdunk selain menampilkan basket yang real tanpa embel-embel kemampuan spesial atau fantasi lainnya, Manga ini memiliki keunikan hubungan antar karakter yang selalu berhasil mengocok perut pembacanya. 

Sayangnya manga nya tiba-tiba tamat seenaknya di volume ke 31 dengan ending yang tidak begitu memuaskan. Memang sih, Slamdunk tidak seperti Captain Tsubasa yang punya obsesi besar menjuarai Piala Dunia, Slamdunk cuma menampilkan romansa tim basket masa-masa sekolah yang berakhir begitu saja. Bahkan juara turnamen saja tidak. Makanya, Film ini menjadi obat rindu atau mungkin sebagai permintaan maaf mangaka nya kepada pembaca. Film ini ditulis dan disutradarai langsung oleh mangakanya sendiri. 

Meskipun dengan cerita yang hampir sama, The First Slamdunk berbeda karena tidak mengambil sudut pandang Sakuragi yang pastinya bakal jadi film komedi. Bukan juga mengambil POV Kaede Rukawa yang super cool dan jenius dalam bermain basket. Uniknya, film ini mengambil sudut pandang cerita utama dari karakter Ryota Miyagi, Point Guard dengan nomor punggung 7 di Shohoku. 

Kisah Ryota tidak selucu Sakuragi, Film ini menggambarkan sisi yang sangat sulit untuk karakter utamanya, rasa duka mendalam, frustasi, bayang-bayang dan perbandingan hingga drama keluarga yang panjang. Kisah pilu Ryota dijahit dengan sangat rapih dengan satu pertandingan sengit antara Shohoku melawan Sannoh. Plot yang disusun sedemikian baik ini membuat filmnya sangat mudah dinikmati dan membuat filmnya memberi perasaan yang campur aduk. Beberapa jeda diam tanpa suara dalam film ini membuat penonton ikut tarik nafas. Ditambah lagi, film ini menyajikan animasi pertandingan basket yang sangat seru. Konsep menggabungkan 2D dan 3D dalam anime ini menjadi sangat menarik (lebih menarik dari pertamakali liat trailernya). Vibes pertandingan basket dengan tempo yang dinamis digambarkan sangat baik dengan sajian jumlah frame yang tepat sehingga terasa memanjakan mata. 

Ada beberapa hal minor yang disayangkan. Misalnya scene ikonik Coach Anzai yang tiba-tiba berselebrasi tidak digambarkan begitu baik. Beberapa part lucu seperti Sakuragi yang bilang akan menyusul ke Amerika ke Eiji (pemain Sannoh), atau momen pantai yang harusnya diisi oleh pertengkaran bocah ala Rukawa dan Sakuragi. Film ini juga tidak begitu banyak menampilkan karakter Kaede Rukawa sebagai pemain andalan Shohoku. Padahal karakter ini punya magnet yang juga sangat kuat. 

Menariknya, Menonton The First Slamdunk tanpa harus membaca Manga atau menonton anime nya pun akan sangat mudah memahami nya. Jadi sangat cocok untuk penonton umum. 

Padapanik ngasih rating 8.5/10 untuk "The First Slamdunk".

Penulis :

Ashari @arhieashari 

Akhir yang mengesankan, Terimakasih Money Heist

|


padapanik.com - Apa yang menyenangkan di tahun 2021 mu? Selain akhirnya kita kembali bisa nonton bioskop sambil makan popcorn, dan tidak lagi nonton konser via zoom. 2021 ditutup dengan berakhir nya salah satu series netflix terfavorit sepanjang masa. Yang mungkin menjadi teman kalian melewati pandemi Covid 19 ini. Memang "Money Heist" sebenarnya sudah tayang di Netflix sejak tahun 2017. Namun, tanpa perlu mendebatkan siapa yang udah nonton duluan dan siapa yang ketinggalan zaman. Serial Money Heist menjadi sangat hype di tahun 2020 disaat orang-orang di dunia sedang berada dirumah aja dan akhirnya mayoritas mulai melirik Netflix sebagai pilihan menonton karena tutupnya bioskop. Ditambah lagi, Hype nya meningkat karena di tahun itu juga rilis season ke-empat. 

Series asal spanyol yang katanya ratingnya terus turun saat pertamakali tayang di TV spanyol ini malah menjadi salah satu ikon pop culture dunia yang akan terus diingat hingga 20 tahun kedepan. Bahkan menjadi ikon dari spanyol itu sendiri. Dalam interview para cast, mereka bersyukur kalau saat ini jika orang spanyol bertemu orang asing tidak lagi hanya membicarakan soal klub bola Real Madrid atau Barcelona. Tapi tentang serial TV perencanaan perampokan yang fenomenal! Money Heist! Mari kita ulas 5 episode terakhirnya yang ditulis dengan sangat jenius. 

Setelah kematian Tokyo, para perampok masih harus berjuang untuk menyelesaikan misi dan keluar dari gedung bank. Sedangkan kematian 6 tentara akibat bom bunuh diri Tokyo hanya menyisahkan 3 tentara dengan kondisi 1 orang yang membutuhkan penanganan medis. Diluar bank, Professor dan Alicia masih saja tidak saling percaya. 

Lagi-lagi Money Heist mengingatkan penonton kalau serial ini bukan soal perampokan belaka. Mereka melawan sistem suatu negara dengan mempermainkan logika dan psikologis dari pihak kepolisian, badan keamanan negara, hingga masyarakat sipil nya sendiri. Di season ini mereka lebih gila lagi dengan mempermainkan negara-negara lain diluar spanyol. Bisa dibilang, 5 episode terakhir ini dieskekusi dengan sangat brilian dan diluar ekspektasi. 

Mari kita patahkan teori beredar dahulu. Tokyo sebagai pembaca narasi ternyata tetap menjadi pembaca narasi hingga akhir cerita. Money Heist tidak peduli dengan logika pembaca narasi yang ada hubungannya dengan film atau si pembaca narasi sedang membaca sebuah catatan peninggalan. Narasi hanyalah narasi, tidak ada hubungan nya dengan film. Sama seperti pembaca narasi dalam sebuah pertunjuan teater. Teori kalau semuanya akhirnya mati atau teori ending lainnya yang lebih gelap memang tidak akan rela diterima fans money heist, karena semua nya ingin geng perampok menang. 

Secara mengejutkan, 2 karakter baru yang diprediksikan menjadi karakter kunci malah menjadi plot twist yang sangat menarik. Sayangnya memang karena waktu terbatas jadi penyelesaian konflik nya seperti dipercepat gitu. Season ini juga masih belum lepas dari konflik drama percintaan yang sebenarnya sudah tidak perlu mengingat di 5 episode terakhir harusnya jauh lebih padat lagi khususnya untuk konflik baru antara geng perampok dan duo dari masa lalu. Money Heist masih saja mempertahankan konsep drama percintaan yang tidak memiliki premis kuat. Anehnya, Karakter Rio yang sedang galau-galau nya ditinggal tokyo malah terlihat cepat normal kembali. Malah Denver yang masalah nya biasa saja harus dipanjang-panjangkan untuk melengkapi durasi. 

Meskipun begitu, penyelesaian terhadap serial ini benar-benar sangat memuaskan. Jenius dan logis, tidak tekesan memaksa bahkan twist-nya tidak kepikiran sama sekali. Konsep logika yang dipaparkan oleh professor tentang "emas sebagai simbol negara" menjelaskan logika berpikir yang menarik tentang bagaimana sebuah negara memamerkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, namun menjadi sesuatu yang superpower yang bisa menyelamatkan negara. Emas disini dijadikan suatu komunikasi non verbal yang menjelaskan keadaan suatu negara. Menarik, tidak hanya tembak-tembakan intens atau perampokan yang dimenangkan tapi jauh lebih dari itu Money Heist mengajarkan bagaimana sistem dibuat dan bagaimana sistem itu bisa dipermainkan atau bahkan di hancurkan. 

Akhir yang sangat menarik dimana keduanya dimenangkan bersama-sama. Pilihannya berubah menjadi dua pihak menang atau dua pihak kalah benar-benar tidak terduga, meskipun sudah terlihat sejak awal kalau kolonel Tamayo sudah tersudut dengan berbagai ancaman. Ending yang mengesankan dan memuaskan banyak pihak adalah ending yang paling tepat untuk sebuah serial yang sangat dicintai. Terimakasih Money Heist. 

Penulis :

 Ashari @arhieashari 

Horror Epic Kolaborasi Korea - Thailand - Review Film The Medium (2021)

|

padapanik.com - Konsep found footage seperti ini sudah banyak dipakai di ebebrapa film baik supranatural, thriller maupun action. Tapi sentuhan sinematografi di film ini memberikan efek yang berbeda. Seperti kita menonton dokumenternya Vice atau Watchdoc. Pengalaman sinematik ini membawa kita untuk ikut hadir dan masuk ke dalam jalan cerita yang disajikan. Walau terkadang gedek juga sama kameramennya, bukannya nolong orang yang sudah mau mati malah tetap asik merekam. Profesionalitasnya nomer satu tapi empatinya ga ada 

film ini bercerita tentang fenomena Shaman atau dukun di Isan region of Thailand, dimana satu keluarga harus menjadi medium untuk Dewa Bayan, Dewa yang mereka percayai. Namun malah menjadi pertarungan antara dukun lokal versus setan keroyokan yang bersemayam dalam gadis cantik bernama Mink

Castnya meyakinkan banget, terutama Mink yang diperankan oleh Narilya Gulmongkolpech, adegan CCTV ala  - ala paranormal activity itu memang bangke sekali bahkan sampai saya menulis ini masih terus terbayang. Cast lain pun juga memerankan perannya dengan sangat meyakinkan. Sangat genuine dan berasa real. Bahkan peran minor seperti bos dukun lokal ataupun pengikutnya yang kerasukan setan aing maung pun terasa tidak dibuat - buat.

Scoring yang pas menambah kesan horror film ini yang tidak mau terlalu menjual jumpscare. Bisa di hitung dengan jari ada berapa momen jumpscare yang tidak terkesan maksa. Film seperti ini bermain dengan suasana yang dibuat di dalam film dengan tone warna yang gelap, mendung dengan sedikit dark. Beberapa aspek handheld kamera yang chaotic dipadu padankan dengan scene - scene yang steady namun disturbing membuat film ini layak disebut sebagai film horror paling ngeri di tahun 2021 ini

Saya memberikan skor 9 dari 10 untuk film ini. Selain plot ceritanya yang sangat genuine dan lokal, sehingga relate dengan masyarakat, bahkan bisa nyambung dengan kepercayaan supranatural masyarakat Asia Tenggara. Dan bagi kamu yang menonton, jangan lupa kalau film ini memiliki rating 21+, karena banyak adegan - adegan khusus dewasa yang ada di film ini, mulai dari nudity, adegan mantap - mantap, gore, darah dan muntahan dimana - mana, sampai adegan pipis di meja kamu bisa terawang di film ini. Selamat menonton.

Kalian bisa nonton ulasannya di Youtube Padapanik.com

           

Penulis :
Iryansyah Nasir @iyannasr_ 

SQUID GAME, FORMULA LAMA DENGAN RAMUAN NETFLIX YANG VIRAL

|

padapanik.com - Dengan premis yang cukup simple dengan menang hidup dan kaya, lalu kalah dan mati, Squid Game mengingatkan kita akan film atau series yang serupa. sebut saja Battle Royale, SAW, ataupun Alice in Borderland yang akan hadir season 2 nya di Netflix tahun ini. Bagi kami, ada satu hal yang sangat memukau dari menonton secara marathon series ini selama semalam, yakni production design nya yang ciamik dengan tendensi menghadirkan pesan - pesan simbolik dan memiliki arti di masing - masing permainannya. Mulai dari arena permainannya yang ikonik, kamar tempat mereka saling menyusun rencana, sampai tangga dan ruangan yang ada di dalam ruangan kontrol gamenya memberikan kesan yang nempel di mata penonton series yang disutradarai oleh Hwang Dong-hyuk ini.

Para pecundang di Korea Selatan mendapatkan undangan untuk mengikuti permainan dimana mereka harus bertarung hidup mati demi mendapatkan uang milyaran won dengan memainkan permainan khas anak - anak di Korea.

Cast dalam series yang digadang - gadang menjadi series paling trending di Netflix ini sangat loveable. Kekacauan yang Gi-hun buat atas keegoisannya pun membuat kita merasa orang ini harus mati duluan, tapi semakin berjalannya series ini, kita menjadi simpatik dan pelan - pelan menyimpan harapan. Tapi bagi kami, Gi-hun adalah tetap bapak paling kampret di dunia. Sang-woo adalah sebenar - benarnya character development yang paling membuat penonton emosi, dari yang biasa saja ke simpatik, berubah ke mode “ini orang bangke” sampai diakhir kita memaklumi dan menghapus dosa - dosanya walaupun dengan gerakan blunder dengan pengorbanan yang sia - sia itu. Antagonisnya pun memerankan peran yang sangat baik. Bagi kalian yang sudah menonton series ini, plot-twist diakhir, aktor dibalik semua ini bisa dibilang mengingatkan kami terhadap ikoniknya John Kramer yang diperankan oleh Tobin Bell diakhir film SAW franchise

Tidak banyak yang bisa kami bahas akan sound design nya, selain suara permainan green light, red light yang lagi viral di TikTok saat ini. Namun satu hal yang pasti adalah konsep dari series ini dipikirkan dengan sangat matang. Beberapa adegan gore pun ditampilkan secara eksplisit walaupun masih dalam batas kemanusiaan. Film dengan konsep survival dengan memainkan permainan masa kecil ini sebenarnya sudah di mulai dengan satu film Jepang berjudul As The Gods Will di tahun 2014 kemarin, namun Squid Game menurut kami lebih menitik beratkan kepada pengembangan karakter dan intrik antar peserta di dalam game.

Cukup bagi kami memberikan skor 8 untuk series ini. Mungkin tidak sempurna, namun series ini bisa mengobati kerinduan kamu dengan pengalaman menonton series yang menyenangkan sekaligus penuh dramatisasi ala Korea Selatan. 

penulis :
Iryansyah Nasir @iyannasr_ 

Antara Shang-chi dan adegan klasik film laga Asia

|

padapanik.com - Shang-chi itu adalah film Martial Arts Hongkong dibungkus fantasi ala Komik Marvel dengan sentuhan Hip-Hop California.

Shang-Chi and the Legend of Ten Rings berawal dari 10 gelang sakti milik Xu Wenwu yang pada masa kejayaannya, ia mendirikan organisasi ten rings yang terlibat dalam banyak konflik besar. Hingga di tahun 1996, Ia berpetualan untuk menemukan desa ajaib, Ta Lo. Disaat ia hampir berhasil, ia malah bertemu wanita bernama Ying Li, seseorang yang pertamakali bisa mengalahkannya dalam pertarungan. Wenwu dan Ying Li menjadi sepasang suami-istri, saat ini Ying Li meminta Wenwu untuk berhenti dari dunia gelapnya dan fokus menjadi seorang ayah. Pernikahan ini melahirkan 2 anak, Xu Shang-Chi dan Xu Xialing. Sayangnya sang ibu meninggal dunia, hal ini membuat Wenwu kembali menjadi karakter nya yang dulu dan melatih anak tertuanya Shang-Chi untuk menjadi kuat dan menjadi pembunuh hebat sejak umur 7 tahun. Diusia 14 tahun, setelah berhasil dalam misinya, ia kabur ke San Fransisco dengan nama Shaun dan menjalani hidup sebagai orang biasa.

film yang chara-developmentnya padat dan rapi, mengangkat latar belakang father issue yang sangat kental dalam keluarga Asia. Shang-chi membawa kita untuk kembali ke Bumi setelah menjelajahi Galaksi dan Multiverse yang sedang dalam tahap ekspansi. Tendensi Shangchi sebagai hero Asia pertama yang dikenalkan MCU digas habis - habisan baik secara backstory maupun personanya di dalam layar untuk merepresentasikan Asia sebagai bagian penting dalam semesta sinematiknya Marvel, karakter ini dibuat relate dengan harapan bisa dicintai dan ditunggu kehadirannya ketika akan join fight bersama hero - hero yang sudah kita tonton di film - film MCU sebelumnya

Walaupun karakter Shang-chi di komik maupun film martial arts Hollywood lainnya sangat terinspirasi dari Bruce Lee, di film ini kita melihat sesuatu yang beda dengan pemilihan root Kung-fu Wong Fei-hung di dalam fighting scene-nya. Hal in terlihat jelas ketika perkelahian cinta pertama Wenwu dan Li di awal - awal film. Slow-mo dan kibasan efek angin dalam setiap gerakan sangat indah dan melegakan. Ketika memasuki sequence perkotaan, adegan perkelahian di bus pun memiliki vibes yang sama seperti kita menonton film - film dari Jackie Chan, dengan penggunaan properti dan akrobatik khas yang mematahkan tulang

Dari segi scoring dan soundtrack, keputusan tim MCU bekerja sama dengan 88rising untuk berkontribusi di musik dan scoring dirasa sebagai strategi yang cerdik dan pas, apalagi status 88rising saat ini sebagai representasi musik asia di dunia ini juga menjadi kombinasi yang tepat. Dengan musik yang mereka sajikan baik dalam scoring lagu maupun sebagai musik penyemangat, dapat membuat kita terbangun dari sandaran kursi sambil sumringah ketika menonton Simu Liu memukul dan menendang musuhnya. Sebut saja Rich Brian, DPR LIVE, DPR IAN, Zion. T, Gen Hoshino, NIKI, Warren Hue, dan musisi Asia lain turut meramaikan gedebak gedebuk 808 dan tight snare yang menghiasi pukulan - pukulan kung-fu dalam film ini

Tambahan terakhir, setiap film biasanya memiliki seorang comic relief yang meyakinkan, dan pilihan tim MCU memilih Awkwafina untuk mengisi peran Katy sangat tepat, tidak kurang dan tidak berlebihan, membawa alur film komik khas Marvel tetap kembali pada jalur mereka. Aksi yang berat namun tetap fun. Simu Liu merepresentasikan karakter ini dengan sangat baik. Mungkin tidak se-ekspresif karakter hero lain pada umumnya, namun bisa dilihat dia bekerja sangat keras untuk ini. Kehadiran Michelle Yeoh seakan menegaskan bahwa film ini adalah film klasik dengan modernisasi yang on-point. Dan dari semua cast yang brilliant itu, kita semua harus angkat topi dengan kehadiran Tony Leung sebagai Wenwu. High level aktor dengan segudang pengalaman dan kecakapannya membuat film ini kuat dari segi cerita dan kualitasnya

Film ini dapat menjadi stand-alone, namun karena ini adalah phase 4, jadi diharapkan jangan pulang dulu setelah end-credit di roll. Karena rasa kangen kamu setelah menonton end-game akan sedikit terobati dengan post-credit scene yang fun namun membuat mati penasaran 

Penulis : 

Iryansyah Nasir @iyannasr_ 

Kate (2021) : Total Chaos dengan visual cantik

|

padapanik.com - Secara visual, konsep dan latar belakang cerita, pantas bagi kita untuk menyamakan film ini dengan franchise John Wick yang tenar itu. Scene fight yang brutal dengan balutan visual cantik dengan unsur cyberpunk-ish nya membuat film ini selain brutal, juga menarik secara gambar. Mary Elizabeth Winstead memainkan peran wanita badass-nya dengan sangat baik. Ya, tentu saja, apa yang lebih menarik dibandingkan dengan perempuan jago gelut yang sedang sakaratul maut, harus berhadapan dengan musuh – musuhnya sembari ditemani anak perempuan manja nan cerewet menyebalkan seperti Ashley di Resident Evil 4. Secara otomatis total chaos akan terjadi dan hal inilah yang membuat filmnya jadi menarik untuk di tonton.

Kate, seorang sniper handal dan petarung kombat harus membalaskan dendamnya dalam kurun waktu 24 jam sebelum ia mati karena di racun oleh musuhnya, yang dimana dalam perjalananya harus mengalami ikatan yang tidak terduga dengan anak korban yang pernah ia eksekusi sebelumnya. Film ini diperankan oleh Mary Elizabeth Winstead, Woody Harelson, Tadanobu Asano, Miyavi dan aktris pendatang baru, Miku Martineau. Film ini disutradarai oleh Cedric Nicolas Troyan yang juga pernah meyutradarai The Huntsman: Winter’s War

Sayangnya dari segi cerita film tidak menampilkan suatu hal yang baru dan bisa membuat penontonnya bereaksi lebih. Dengan jalan cerita yang terkesan menggunakan template cerita film balas dendam pada umumnya. “Musuhku ternyata adalah temanku yang terdzalimi” menjadi plot twist yang dirasa terlalu biasa dan gampang di tebak, sehingga ketika kita menontonnya pun sudah bisa menerka di pertengahan film tentang apa yang terjadi, yang membuat sense of curiosity bagi kami yang menonton menjadi tidak dominan, ini membuat kami hanya menunggu adegan fighting MEW yang di sertai bumbu – bumbu visual yang berdarah - darah.

Catatan khusus yang menarik dari film ini adalah kehadiran Miku Martineau yang menjadi scene stealer bagi penonton filmnya. Sebagai pendatang baru akting dede gemes ini bisa mengimbangi akting para seniornya. Kehadiran MIYAVI dan BAND-MAID juga sangat membantu film ini mengambil hati penonton yang lebih luas, baik di jepang maupun di dunia. MIYAVI, seorang penyanyi – gitaris - songwriter yang sudah pernah bermain di Unbroken dan Bleach: Lice Action ini membawkan karakternya dengan cukup unik dan meninggalkan kesan dalam pada cerita film ini sendiri. Band-Maid sebagai band jepang anti-mainstream yang saat ini memiliki fanbase worldwide dengan solidaritas paling erat juga sangaat membantu mengambil hati para fansnya yang kebanyakan adalah metalhead dengan janggut mekar dan kebiasaan headbang tanpa kenal norma kebisingan tetangga.

Pada akhirnya, film ini menurut kami hanya menitik beratkan tentang jago-nya Mary Elizabeth Winstead mempecundangi musuh – musuhnya di jalanan Tokyo. Sedikit banyak mengingatkan kami pada adegan – adegan di film John Wick dengan fighting act seperti yang ada dalam film The Raid: Brandal. Namun disamping itu, film ini adalah sebenar-benarnya film dengan full package action yang pasti akan disukai para pria maupun wanita jagoan yang sedang mencari girl-crushnya. Secara garis cerita perlu penggalian lebih dalam lagi dengan mempelajari bagaimana caranya membuat plot yang menarik untuk penonton bisa betah sampai akhir, dan tidak hanya jualan percikan darah dan ledakan daging berhamburan. 

7/10 

Penulis :

Iryansyah Nasir @iyannasr_ 

Jalan Satu Arah di New York, Kisah yang biasa saja - Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

|

padapanik.com - film baru Indonesia lagi yang tayang di Netflix. Untung saja tayang di OTT satu ini, kalau enggak, mungkin saya gak nonton film ini. Soalnya, sampai hari ini masih aja belum kembali ke bioskop. Dari yang tadi nya parno sampai sekarang lebih ke udah males. Mungkin nanti aja deh pas ada film super keren yang gak bisa ditolak, saya akan melepas selimut mager ini dan kembali ke bioskop. 

Ali & Ratu ratu Queens adalah salah satu film yang menarik saat melihat trailer nya. Meskipun premis ceritanya tidak begitu menarik, tapi sepertinya cukup ringan dan seru untuk ditonton dirumah. Ditambah lagi, komposisi Cast nya sangat menarik. Iqbal Ramadhan, Marissa Anita, dan Ibnu Jamil adalah komposisi keluarga yang menarik. Selain itu ada komposisi geng Ratu Queens yang gak kalah gokil. Tika Pangabean, Asri Welas, Nirina Zubir dan Happy Salma. Baru liat trailer nya saja, saya sudah bisa membayangkan keseruan geng satu ini. 

Ali (Iqbal Ramadhan) sejak kecil ditinggal oleh Ibu nya (Marissa Anita) ke Amerika untuk mengejar cita-cita nya yang tertunda sebagai seorang penyanyi. Sayangnya, sang ayah (Ibnu Jamil) tidak pernah setuju dengan rencana itu, dan lebih memilih membesarkan Ali sendirian. Hingga akhirnya, Ayah Ali meninggal. Ali dewasa akhirnya memutuskan untuk pergi ke New York sendirian, mencari ibu nya. Ali beruntung, di perjalanan nya yang buta arah itu, ia bertemu Party (Nirina Zubir) dan geng nya. Ali yang harusnya bisa saja menjadi gembel di Amerika malah tinggal bersama geng Queens yang seru sembari tetap berjuang mencari ibunya. 

Film ini banyak menggunakan pengambilan gambar yang unik, seperti handheld jadi kesannya raw gitu. Sayangnya konsep tersebut pada akhirnya tidak mendukung berbagai suasana dalam filmnya. Dalam beberapa scene yang seharusnya emosional malah terkesan hambar. Divisi Music Scoring juga harusnya bertanggungjawab penuh akan hal ini. Sayang sekali kesan emosional nya tidak tersampaikan dengan baik. 

Beberapa dialog pun cukup aneh, mungkin bukan cuma dialog, tapi penyampaiannya. Saat Mia (Marissa Anita) menangis dan berbicara kepada anaknya Ali. Rasanya aneh. Iya itu yang saya rasakan saat mencoba menonton scene ini dan saya ulang 2x. Lebih aneh lagi kalau tau penulisnya script nya adalah Gina S. Noer yang juga menulis untuk "Dua Garis Biru" (2019) dan "Keluarga Cemara" (2019). 

Sama rasanya seperti menonton film "The Guys" (2017), Pertemanan atau Kebersamaan yang coba di highlight di akhir masih kurang kena. Masalahnya sama, yaitu kurang banyak scene yang menjelaskan tentang kedekatan Ali dan Geng Queens nya. Karakter yang diciptakan juga sebenarnya biasa saja kecuali karakter yang diperankan Happy Salma dan Nirina Zubir. Dalam dialog kelima nya juga sangat minim komedi yang membuat kedekatannya lagi-lagi biasa saja. Scene favorit saya adalah ketika Ali dan tante Ance (Tika Panggabean) curhat sambil maskeran. Mungkin ini scene yang paling menggambarkan kedekatan Ali dengan geng queens. 

Yang paling berhasil dari building character dari film ini hanya Mia, Mama dari Ali. Ketika menonton saya merasakan gundahnya hati seorang ibu yang merasa bersalah namun tidak bisa berbuat apa-apa. Scene saat ia di foto oleh Ali, ekspresi nya sangat bagus. Canggung tapi tetap dengan tatapan kasih sayang mencoba mengikuti apa yang anaknya inginkan, keren banget. Oh iya, saya lupa menghighlight Eva (Aurora Ribero), scene lain yang menurut saya pesannya nyampe adalah ketika Ali datang menemui Eva diakhir film. Penonton diingatkan kalau Ali tidak tau harus kemana lagi kecuali Eva, baru deh kita bisa merasakan rasanya menjadi Ali. Jauh lebih tepat daripada scene beradu mulut dengan ibunya.


Penulis :

Ashari @arhieashari

REVIEW : JUNE & KOPI (2021)

|

padapanik.com -  Indonesia bikin film tentang anjing? Menonton trailernya pertama kali saja sudah bikin saya kaget sekaligus takjub. June & Kopi menjadi satu dari sekian film Indonesia yang akhirnya gagal tayang di Bioskop karena pandemi, dan akhirnya memilih ditayangkan di layanan OTT (Over The Top) seperti Netflix atau Disney+. Padahal film sangat potensial untuk dinikmati di bioskop saat libur lebaran. Tapi setidaknya, June & Kopi menjadi salah satu dari daftar list film Indonesia yang persahabatan manusia dan anjing terakhir kali ditahun 1974 dengan judul "Boni dan Nancy". Sedangkan film tentang Anjing yang ada dalam daftar film yang pernah saya tonton hanyalah seri Air Bud. 


Sebelumnya padapanik mau ngajak kalian untuk ikut terlibat mengulas film "June & Kopi" di website terbaru padapanik yaitu ulas.id Caranya gampang, tinggal daftar, bikin username kamu, lalu pilih film yang ingin kamu ulas (pastikan kamu mengulas film yang sudah kamu tonton yah). Tentuin rating filmnya versi kamu, lalu tulis ulasan singkat kamu tentang film nya. Terimakasih sudah ikut #bantufilmindonesia 

Aya dan Ale adalah pasangan suami istri yang tadinya hanya memiliki seekor anjing bernama Kopi. Lalu suatu hari, Aya mengadopsi anjing jalanan dan diberi nama June. Sayangnya, June seekor anjing yang tidak suka dengan anak kecil. Hal ini membuat Ale deg-degan ketika Aya mengandung dan bersiap punya anak pertama. 

Saya sendiri tidak begitu familiar dengan sutradaranya, Noviandra Santosa. Karya terakhirnya, Pintu Merah (2019)  juga belum pernah saya dengar sebelumnya. Padahal June & Kopi terasa sangat matang, ditambah lagi, bukan cuma manusia yang harus di-direct, tapi juga dua ekor anjing. Pastinya kesulitan di lapangan jadi double. Mungkin ini juga yang menjadi alasan Ryan Delon dipilih untuk memerankan Ale yang notabene adalah pencinta anjing. Padahal Ryan sudah cukup lama tidak bermain film layar lebar. 

Alur June & Kopi disusun sangat rapih, sehingga setiap karakter nya menjadi sangat kuat. Bahkan karakter Kopi yang menjadi supporting character bagi June. Tadinya saya merasa, Kopi sepertinya adalah anjing yang tidak begitu spesial seperti June. Tapi ternyata, ia memainkan karakter yang tepat dan pelan-pelan saya dibuat paham dengan karakternya. Alur ceritanya berjalan apa adanya, tanpa usaha plot twist, meskipun ceritanya pelan-pelan semakin tertebak dan terasa biasa, namun kuatnya kelima karakter utama dan kokohnya premis membuat ceritanya tetap menyenangkan bahkan untuk di tonton berulang-ulang. June & Kopi harusnya masuk dalam daftar list film yang tayang di TV saat libur nasional. 

Sepertinya saya sangat terbawa suasana dengan persahabatan June & Karin yang saya rasa harusnya bisa dilanjutkan. Petualangan seru keduanya bisa menjadi salah satu film anak-anak yang diingat hingga dewasa, bahkan sangat berpotensi dibuat sekuelnyal. Kisah Heroik Anjing yang bikin karakter June dan Karin menjadi idola baru anak-anak. Sayangnya, Penulis film ini lebih memilih mengakhiri film dengan drama menguras air mata yang mungkin akan memenangkan piala citra dan mendapat ulasan positif dari orang dewasa, dibandingkan menciptakan hype baru dikalangan anak-anak yang jadi lebih ingin memelihara anjing atau ikut menolong anjing liar layaknya kucing liar di Indonesia. Mungkin juga penulis sadar, bahwa konflik yang diciptakan di akhir masih sangat umum dan biasa saja.

Bagaimana yah menjelaskan nya? Yang jelas endingnya sangat disayangkan meskipun scene Karin di tangga menjadi scene yang tepat untuk mengakhiri filmnya. 

8/10 


Penulis : 

Ashari @arhieashari 

The Devil All the Time : Semua Orang Punya Garis Akhir

|



padapanik.com - Film terbaru Netflix The Devil All the Time diangkat dari novel berjudul sama karya Donald Ray Pollock. Uniknya, sang penulis novel juga bertindak sebagai narator di film ini.

The Devil All the Time dibintangi oleh banyak aktor papan atas Hollywood, mulai dari Tom Holland, Bill Skarsgård, Sebastian Stand, Robert Pattinson, Jason Clarke, hingga Mia Wasikowska. Maka dari itu, tidak heran jika film ini cukup mudah dalam menarik minat penonton.

Namun, kita semua tahu film bertabur bintang tidak selamanya menjanjikan. Lalu, bagaimana dengan The Devil All the Time?

Film ini fokus pada banyak karakter dengan masalah dan timeline hidupnya masing-masing. Sedari awal, kita disajikan konflik dari berbagai karakter yang nantinya akan saling bersinggungan satu sama lain.

The Devil All the Time mengambil latar di dua kota kecil sekitaran Ohio, Amerika Serikat, bernama Meade dan Knockemstiff pada akhir 1940an, pasca perang dunia ke-2. Cerita dibuka oleh Willard Russell (Skarsgård) yang baru pulang perang dan jatuh cinta pada seorang pelayan cantik bernama Charlotte (Haley Bennett). Dari keduanya, lahirlah Arvin Russell (Holland) yang nantinya akan menjadi tokoh utama cerita.

Hidup adalah sekumpulan nestapa yang menunggu giliran untuk datang dan film ini tahu benar cara menyajikannya. Arvin sudah berkenalan dengan duka sejak kecil. Ibunya sakit kanker, lalu anjingnya dibunuh sang ayah yang terbius dengan konsep pengabdian pada Tuhan. Mengorbankan satu untuk menyelamatkan yang lain, mereka malah kehilangan keduanya.

Dibutakan malam, Arvin marah kepada ayahnya dan Tuhan. Dia berlari sambil berteriak di hadapan tanda salib di tengah hutan, untuk menemukan ayah yang sudah mengiris nadinya sendiri. Peristiwa ini menandai pertemuan perdana Arvin dengan karakter penting lain, yakni Sheriff Lee Bodecker (Stan).

Bodecker, berdedikasi namun korup seperti penggambaran polisi di layar Hollywood pada umumnya, dikisahkan memiliki adik perempuan yang gemar bertindak kriminal. Sandy (Riley Keough) dan partnernya Carl (Clarke) kerap mengangkut para pemuda yang butuh tumpangan (hitchhiking) lalu memaksa mereka berfoto cabul.

Setelah berhubungan seks dengan Sandy di alam terbuka, para pemuda itu dibunuh dan fotonya dikoleksi. Carl yang gemar mengoleksi foto sadis tersebut tidak jarang menyiksa korbannya terlebih dahulu. Sudah merasa cukup atau masih perlu karakter problematik lain?



Tenang,
The Devil All the Time juga punya Reverend Preston Teagardin (Pattinson), pendeta baru yang memanfaatkan posisinya untuk memenuhi hasrat seksual. Si pendeta sinis yang menyebarkan nuansa antagonis kuat itu gemar menyitir ayat untuk memperdaya korbannya.

Sejak awal film, nuansa agama hadir begitu kuat. Setiap karakternya juga mengalami transformasi kesucian yang beragam. Bagaimana Willard muda yang tidak berkenan berdoa, namun malah membangun salibnya sendiri di gelap hutan. Arvin, yang menyaksikan kepolosan ayahnya dalam berkorban, justru menjadi sinis. Dia tetap ikut beribadah bersama nenek dan adik tirinya, namun tetap percaya kekerasan adalah jalan keluar semua masalah. Semua punya caranya sendiri, semua juga punya garis akhirnya masing-masing.

Perkembangan beragam karakter yang kuat seperti ini menjadi salah satu poin penting dalam The Devil All the Time. Film yang baik memang harus seperti ini. Dia tidak menunjukkan benar dan salah secara kasat mata, tetapi membuka pikiran penonton akan beragam kemungkinan.

Selain mendalami karakter, penonton juga akan dimanjakan oleh aksen Southern yang memiliki intonasi tinggi. Tentu menarik menyaksikan Robert Pattinson keluar dari cangkangnya dan menjelma menjadi pendeta bersuara lantang. Kita pun mulai bisa belajar mengenali Tom Holland sebagai seorang aktor, bukan hanya superhero Marvel Spiderman.

Tidak perlu menjadi pecinta film berlatar lawas untuk menyukai The Devil All the Time. Film ini menghadirkan paket lengkap sebagai sebuah karya yang paripurna. Konfliknya rumit dan dengan cerdas mencapai klimaks di akhir. Akting para pemainnya juga all out.

Terlepas dari porsi beberapa peran penting yang terasa kurang banyak, film The Devil All the Time dari Netflix bisa menjadi opsi tontonan menarik di akhir pekan.


Penulis:

Rean Hidayat @reanhidayat

IT Chapter Two : Akhir Petualangan The Loser Club

|

padapanik.com - IT Chapter 2 mengmbil setting 27 tahun setelah IT chapter 1. Kali ini The Losers Club kembali lagi ke Derry, ketika teman lama mereka Mike yang masih tinggal disana mengetahui bahwa Pennywise telah kembali. Jadi the Losers mau tidak mau harus berkumpul kembali untuk menemukan cara bagaimana mereka bisa mengalahkan Pennywise, kali ini untuk selamanya. Hal pertama yang membuat para penggemar film adaptasi dari novel Stephen King ini adalah casting. What a cast! The Losers Club versi muda dan tua benar-benar sangat mirip dan semuanya adalah actor dan aktris ternama yang talentanya sudah tidak diragukan lagi. 

Film ini berdurasi lebih 2 jam 49 menit, ada beberapa adegan yang membosankan. Seharusnya apabila film ini masih bisa dipangkas durasinya sehingga tidak membuat penonton lengah atau merasa bosan saat berusaha memahami alur ceritanya. Salah satu komponen menarik dari film ini adalah bagaimana kehidupan The Losers Club 27 setelah 27 tahun. Hal ini dibahas lebih lanjut dalam film yang menampilkan tiap karakter dengan kehidupannya masing-masing sebagai orang dewasa. Salah satu karakter yang menarik perhatian adalah Richie yang diperankan oleh Finn Wolfhard (Richie versi anak-anak) dan Bill Hader (Richie versi dewasa). Richie merupakan karakter yang lucu. Namun dibalik kelucuannya, ia menyimpan sebuah rahasia tentang jati dirinya dan cara mereka menampilkan storyline Richie membuatnya mendapat pujian yakni karakter dengan best arc.

Hal lain yang membuat film ini tidak berbeda dengan film pertama adalah the vibe. Chemistry dari The Losers Club cukup meyakinkan penonton bahwa mereka adalah orang yang sama dengan sebelumnya, seolah-olah hal tersebut nyata. Karakter lain yang dipuji performanya adalah Pennywise sendiri. “Bill SkarsgÃ¥rd is terrifying!”. Adik dari Aelxander SkarsgÃ¥rd itu memerankan the dancing clown dengan sangat baik. Ia berhasil membuat penonton takut setelah ia menjelma menjadi Pennywise. Ekspresi dan tingkahnya yang benar-benar menjiwai karakter dan membuat penonton takjub. Namun seperti serial originalnya, sayang sekali film ini tidak sebagus film pertama.


Mengapa? Film ini pada dasarnya bercerita tentang Mike yang menghubungi teman-teman lamanya untuk kembali ke Derry lalu menghadapi Pennywise. Namun entah mengapa, bisa jadi hampir 3 jam karena ada beberapa adegan yang terlalu lama. Coba kalau adegan yang harusnya mungkin dihapus saja untuk dimasukan dalam versi Blu ray. Ada juga beberapa adegan yang tidak ada di buku, namun ada di film atau sebaliknya. Untung saja film ini tidak flat karena ada adegan yang lucu dan juga sedih yang membuat perasaan kamu bercampur aduk. Lalu ada yang mengganjal yakni penampilan The Losers Club versi anak-anak yang di CGI untuk membuat mereka terlihat lebih muda, karena actor yang memerankannya sudah besar dan suaranya juga terdengar sedikit aneh mungkin pitchnya diedit sehingga suaranya terdengar lebih tinggi dari aslinya. Namun secara keseluruhan  filmnya bisa dikatakan bagus. Memang tidak sebagus film pertama namun tidak begitu buruk juga. 

It Chapter 2 
Director : Andy Muschietti
Rating : 7/10

Penulis :
Irene H. @irenehelmin

Review : 27 Steps of May

|

padapanik.com - Ditengah dominasi film Avengers : End Game yang menguasai hampir diseluruh studio bioskop Indonesia (bahkan dihari pertama di putar selama 24jam), ada dua film Indonesia yang menarik perhatian. Blunder sih memang, merilis film bertepatan dengan Avengers pasti akan di nilai sebagai pertaruhan yang sangat berani, atau mungkin mereka gak peduli filmnya bakal laku atau enggak. Dua film tersebut diantaranya adalah Kucumbu tubuh Indahku karya Garin Nugroho dan 27 Steps of May karya Ravi Bharwani. Keduanya diputar terlebih dahulu di festival-festival luar negeri sehingga bisa disimpulkan kalau keduanya dibuat bukan untuk komersil. Kali ini padapanik akan mereview salah satu dari kedua film tersebut, jelas bukan film yang pertama karena pemutaran nya di boikot di berbagai kota di Indonesia. 
May (Raihaanun), Gadis SMP berumur 14 tahun yang ceria dan aktif. Sepulang sekolah ia menyempatkan diri untuk bermain di sebuah pasar malam. Malam yang menyenangkan pastinya. Menuju pulang, May di sekap oleh beberapa pria dewasa. Ia di perkosa dan di siksa. May pulang kerumah nya saat larut malam, dengan pakaian yang berantakan dan tatapan kosong. Selama delapan tahun May menjadi trauma, ia bahkan tidak pernah berani keluar rumah. Di sisi lain, Ayah May (Lukman Sardi) juga terkena dampaknya. Menanggung rasa bersalah bertahun-tahun atas apa yang terjadi terhadap May dan dilampiaskan dalam arena bertarung. 
Padapanik pernah mereview film "Istirahatlah kata-kata"  sebuah film yang merepresentasikan rasanya hidup seorang diri. Film tersebut berhasil menvisualisasikan ketakutan, kegelisahan sekaligus kesepian dalam sebuah karakter. Sedangkan 27 Steps of May menvisualisasikan trauma yang sangat mendalam. Keduanya memiliki kesamaan, Tidak ada plot twist atau ending yang mencengangkan tapi berhasil menyampaikan rasa.

Film ini alur nya sangat lambat, buat yang gak biasa pasti akan bosan. Film ini mencoba menjelaskan perlahan-lahan kepada penonton tentang dampak yang dirasakan oleh May sebagai korban. Selama film, May nyaris tidak ada dialog. Bisa dibilang, Raihaanun sukses memerankan sebuah film bisu (atau nyaris bisu haha).

Hanya ada 3 latar atau cerita yang membangun film ini. Yang pertama adalah dunia May. Berlokasi di dalam rumah, kamar May dalam rentang waktu pagi hingga siang. Dimana hampir tidak ada warna dan kehidupan nya yang totally monoton. Hidup bersama ayah nya tanpa keluar satu patah kata pun selama delapan tahun.

Yang kedua adalah dunia Ayah May di arena bertarung, luapan rasa bersalah dan emosi dikepala dituangkan kepada lawan-lawan nya. Latar nya hampir selalu menunjukan malam hari.

Yang ketiga adalah siang hari, scene paling santai dalam film ini. Bisa dibilang jadi scene pemecah keheningan karena ada unsur komedi yang tidak kalah seru. Scene ini adalah saat dimana Ayah May berkomunikasi dengan satu-satunya sahabat nya. Karakter yang di perankan oleh Verdi Solaiman disini menjadi satu-satu nya karakter yang paling positif dalam film ini.

Ketiga bagian ini terus berulang sehingga penonton dibuat terbiasa dengan dunia May yang memang sangat lambat dan monoton. Lalu dalam proses pembiasaan nya kepada penonton, mulai dimasukan unsur-unsur kecil yang mengakibatkan perubahan-perubahan kecil terhadap hidup May. Setiap perubahan sederhana yang ditampilkan akan mengakibatkan penonton bioskop merespon.

Scene favorit saya adalah ketika May menggerakan sedikit piring berisi lauk untuk membantu Ayah nya. Scene se-simpel tersebut membuat satu bioskop bereaksi.

Film 27 Steps of May tidak tayang di semua bioskop, tapi cukup mengejutkan saat tahu film ini bertahan cukup lama penayangannya.

Formula 27 Steps of May mungkin cukup fresh untuk kalian yang belum terbiasa menonton film festival atau untuk kalian yang bosan dengan formula film yang sama.

8.5/10 

CAPTAIN MARVEL : PUZZLE TERAKHIR KISAH AVENGERS

|

padapanik.com - Sebelum Marvel Cinematic Universe (MCU) mengakhiri sekuel panjangnya di Avengers : End Game yang bakal tayang april nanti. Film Captain Marvel menjadi film terakhir yang wajib di tonton untuk melengkapi puzzle plot yang kosong dalam kisah terbentuknya Avengers dan bagaimana superhero terkuat Marvel tersebut tiba-tiba di masukan ke dalam cerita Avengers : End Game padahal tidak satupun dari anggota Avengers pernah bertemu dengan Captain Marvel. 

Captain Marvel menjadi film pertama yang memperkenalkan karakter Captain Marvel, asal-usul nya hingga seberapa kuat karakter yang disebut-sebut sebagai karakter kunci saat Avengers menyerang balik Thanos dan sekutunya. 
Carol Danvers (Brie Larson) yang kehilangan ingatannya terlahir kembali sebagai Star Force sebuah tim militer bangsa kree. Secara misterius Carol yang dikenal dengan nama Vers memiliki kekuatan super yang tidak diketahui asal-usulnya. Dalam salah satu misi nya, ia di tangkap oleh kaum skrull. Terjadilah sebuah aksi kejar-kejaran yang membuat mereka terdampar di bumi dan membuat Vers bertemu Nick Furry (Samuel L. Jackson). Hal ini juga membuka banyak teka-teki tentang ingatan Vers yang hilang. 

Captain Marvel pada dasarnya bukanlah karakter superhero yang populer di masa komik nya. Ditambah lagi ada beberapa kali perubahan-perubahan karakter ini hingga menjadi seperti sekarang. Kalau MCU tidak mengemas timeline mereka dengan apik, maka bisa dipastikan antusias penonton terhadap karakter ini tidak begitu tinggi. Alasan yang paling kuat untuk menonton film Captain Marvel adalah rasa penasaran terhadap kekuatan karakternya atau hanya untuk melengkapi puzzle cerita sebelum menonton END GAME. Hal ini juga terasa sekali dengan promo dengan effort yang terasa lebih tinggi di bandingkan saat mempromosikan karakter baru seperti Black Panther atau Dr. Strange. Di tambah lagi dengan faktor-faktor lainnya yang membuat film ini banyak di benci.

Secara keseluruhan film ini ditulis sangat rapih dan berkesinambungan. Tidak hanya cerita namun juga jokes yang nyambung dari satu scene ke scene lainnya. Meskipun latar belakang ceritanya tidak begitu kuat. Salah satu daya tarik dari cerita adalah kemampuan bangsa Skrull untuk berubah bentuk menjadi siapa saja (kamuflase). Sebuah formula klasik namun membuat para penonton semakin kritis untuk menebak twist nya. Sepanjang film juga ditunjukan plot twist yang menarik, disusun dengan rapih sehingga tidak terkesan maksa. 

Namun tetap saja, ada beberapa hal yang rasanya terlalu dipaksakan. Misalnya bagaimana Captain Marvel menemukan warna kostum baru nya, bagaimana nama Avengers ditemukan, kenapa ada nama Captain Marvel hingga bagaimana Nick Furry kehilangan satu matanya rasanya tidak menarik sama sekali. 

Sama seperti film MCU pada umumnya, Captain Marvel di film perdananya tidak melawan villain yang kuat. Padahal ada karakter Ronan dalam Cast nya. Hal tersebut tidak membantu mempresentasikan seberapa super powernya kekuatan Captain Marvel. Bagaimana mungkin penonton meng-amini bahwa karakter satu ini memang bisa diandalkan saat melawan thanos nanti? 

Rating 8/10       

Directors : Anna Boden, Ryan Fleck 
Writers : Anna Boden
Cast : Brie larson, Samuel L. Jackson, Jude Law, Lee Pace 

Penulis : 
Ashari @arhieashari

Film Keluarga Cemara : Drama keluarga yang berhasil menyentuh penonton

|

padapanik.com - Sejak beredar isu serial TV “Keluarga Cemara” akan diangkat ke layar lebar, film ini mungkin menjadi salah satu karya yang ditunggu para pecinta film tahun ini. Bagaimana tidak, serial TV yang diadaptasi dari buku karya Arswendo Atmowiloto dinilai sangat melegenda dan melekat di hati pemirsa di tahun 90’an berkat kekuatan cerita dan karakter yang ditampilkan. Serial ini pertama kali tayang pada 6 Oktober 1996 di stasiun televisi RCTI.

Keluarga Cemara berkisah tentang Abah, Emak, Euis, Ara (Cemara) dan Agil yang yang berjuang dalam menghadapi berbagai persoalan hidup dalam kesehariannya. Meski digambarkan sebagai keluarga sederhana, namun kekuatan cinta yang ditampilkan satu sama lain membuat Keluarga Cemara menjadi role model oleh mayoritas keluarga Indonesia kala itu.

Film Keluarga Cemara menjadi debut bagi Yandy Laurens, sutradara yang namanya melambung  berkat web series “Sore” dan “Mengakhiri Cinta Dalam 3 Epsiode”. Melalui film bergenre drama romantis tersebut, Yandy sukses menguras emosi penonton dan membuatnya digandrungi banyak orang. Yandy juga sempat memenangkan XXI Short Film Festival dengan film pendeknya berjudul Wan An pada tahun 2012. Tak mengherankan jika Visinema Pictures akhirnya melirik Yandy Laurens untuk  menggarap film tersebut.

Keluarga Cemara dibintangi oleh banyak artis ternama. Namun, dalam adaptasi serial tersebut terdapat empat tokoh sentral yang dipercaya memerankan tokoh utama, yaitu Ringgo Agus Rahman (Abah), Nirina Zubir (Emak), Adhisty Zara (Euis), dan Widuri Puteri (Ara). Bagi sebagian orang nama Widuri dan Zara mungkin masih terdengar asing. Widuri merupakan putri dari pasangan selebrity Dwi Sasono dan Widi Mulia. Sementara Zara adalah salah satu member idol group JKT48 yang sebelumnya juga terlibat di film Dilan 1990. Film Keluarga Cemara menjadi debut keduanya dalam merambah dunia seni peran.


Film ini berkisah tentang satu keluarga yang terdiri dari Abah , Emak, Euis, dan Ara yang hidup bahagia dan berkecukupan. Namun, masa-masa tersebut rupanya hanya berlangsung sementara. Konflik bermula saat Abah mengalami musibah ditipu rekan kerjanya sehingga membuat usaha yang dibangunnya selama ini jatuh bangkrut. Di tengah perayaan ulang tahun Euis yang ke-13, keluarga tersebut harus rela dipermalukan dan diusir secara paksa oleh partner bisnis Abah untuk meninggalkan rumah mewahnya. Bangkrutnya Abah membuat Keluarga Cemara pindah dan menepi untuk sementara waktu ke sebuah perkampungan. Keharmonisan keluarga inipun diuji ketika kehidupan Keluarga Cemara berubah seratus delapan puluh derajat. Sebagai kepala keluarga, Abah memikul beban yang berat untuk memberikan pengertian kepada kedua anaknya yang terbiasa hidup mewah. Euis yang semasa sekolah berteman dengan remaja kalangan atas, kini harus berbaur dengan anak-anak kampung.

Tidak berbeda dari materi aslinya, film Keluarga Cemara mengulik kisah lain dari sebuah keluarga yang baru saja jatuh miskin. Banyak keterpurukan yang terjadi dalam kisah keluarga Cemara, namun diangkat tanpa mengeksploitasi penderitaan. Yandy Laurens sangat benar bagaimana mengemas kisahnya yang penuh akan problematika itu menjadi sesuatu yang berbeda. Film ini mengisahkan tentang bagaimana orang-orang yang kalah menemukan kemenangan dengan tumbuh bersama keluarga.

Keluarga Cemara garapan Yandy Laurens ini juga meremake beberapa bagian yang membuat film ini berbeda dari versi aslinya. Beberapa perubahan dibuat lebih kekinian sehingga lebih relevan dengan keadaan saat ini. Langkah yang dipilih Yandy Laurens dan Gina S. Noer sebagai penulis naskah mungkin dinilai sebagian orang bersiko. Namun, perubahan ini bukan hanya akan membangkitan memori pecinta serial TV Keluarga Cemara, tapi juga melahirkan penggemar baru dari generasi milenial yang sebelumnya belum pernah menonton sama sekali.

Meskipun berangkat dari serial TV, Yandy Laurens mampu mengemas cerita dengan durasi yang pas. Dengan durasi mencapai 115 menit, Yandy Laurens mampu mengembangkan karakter setiap pemain tanpa perlu tergesa-gesa. Dalam film ini kita diajarkan tentang bagaimana melihat suatu persoalan dalam persepektif berbeda. Film ini membukakan pandangan untuk selalu berada dalam pemikiran bahwa keluarga itu satu.

Hadirnya film  Keluarga Cemara, menjadi pembuka yang manis di awal tahun 2019. Saya yakin, film ini akan memborong banyak penghargaan pada ajang-ajang bergengsi tahun ini. Performa pemain dimainkan dengan sangat apik seakan meyakinkan penonton bahwa mereka adalah keluarga yang ada di kehidupan nyata. Didukung dengan musik-musik dari Ifa Fachir yang melantun indah mengiringi setiap adegan dalam film, dijamin akan membuat pabrik tisu kehabisan stock bulan ini. Keluarga Cemara tak sekedar dikemas menjadi film yang cengeng, melainkan menjadi sebuah film yang menghibur tanpa mengabaikan rasa emosional yang terkandung di dalamnya. (9/10)

Penulis :
Feari Krisna @fearikrisna 

Aquaman : Film DCEU yang layak di puji

|

padapanik.com - Setelah menonton Justice League (2017), rasanya harus berpikir berulang kali untuk menonton lagi film dari DC Extended Universe (DCEU) atau tetap menonton dengan ekspetasi yang rendah. Review jelek dan kritikan tajam memang sudah biasa di terima oleh film-film DC. Bagaimana kita harus percaya dengan film Aquaman? DCEU memang berhasil menggambarkan Jason Momoa sebagai sosok Aquaman, namun apa yang ditampilkan Justice League seperti gagal mempromosikan betapa menjanjikan nya karakter ini. Kebimbangan makin meninggi ketika mengetahui "James Wan" yang terpilih menjadi sutradara film tersebut. Bagaimana mungkin sebuah film superhero dipercayakan kepada seorang sutradara film horor? 

Tapi optimisme dari DCEU tentang film Aquaman ini memang patut diacungi jempol. Film Aquaman memang terasa jauh lebih banyak mendapat porsi promosi ketimbang Shazam (2019). Bahkan trailer nya di buat beberapa kali dengan durasi panjang, sebuah kerja keras untuk meyakinkan fans nya kembali percaya dengan film-film garapan DCEU. 

Kisah Arthur (Jason Momoa) anak dari Ratu atlantis, Atlanna (Nicole Kidman) dan Penjaga mercusuar Thomas Curry (Temuera Morisson) hasil cinta terlarang dari makhluk lautan dan makhluk permukaan. Arthur tumbuh menjadi sangat kuat dan dikenal dengan nama "Aquaman" sebagai superhero lewat media sosial. Arthur kemudian dihadapkan dengan dua pilihan dimana ia sudah betah menjadi makhluk permukaan (manusia biasa) yang melindungi manusia atau kembali ke Atlantis untuk melawan adik nya King Orm (Patrick Wilson) dan merebut tahta kerajaan demi perdamaian. 

Film ini memulai dengan animasi CGI yang menjanjikan. Jika kalian suka dengan penggambaran keindahan bawah laut, seperti di film finding nemo (2003), kalian pasti suka dengan animasi bawah laut dari Aquaman yang tentunya lebih real daripada film animasi. Saya sarankan menonton dengan format 3D karena sensasi dibawah laut nya sangat menyenangkan dan beberapa scene memang sepertinya diutamakan untuk 3D.


Sebagai film perdana, karakter Arthur dibuat sangat detail, diperankan setidaknya 7 pemain (mulai dari umur 3 tahun sampai dewasa). Meskipun setelah dewasa, karakter Arthur terlihat ditengah-tengah antara karakter Hero atau Anti-Hero. Mungkin karena terbiasa hidup di laut, jadi karakter nya sedikit keras dan dingin. Setidaknya, Jason Momoa berhasil memerankan Aquaman dengan sangat baik. Sebagian besar jokes juga di titik beratkan pada slengean nya karakter Arthur. 

Konflik pada film ini terbagi atas beberapa kepentingan. Konflik utama antara Aquaman dan King Orm dalam mempertaruhkan tahta kerajaan, diganggu oleh Manta (Yahya Abdul-Mateen) yang ingin membalaskan dendam. Selain itu, petualangan menemukan Trisula Legenda juga mendapat porsi yang sangat panjang di film. Terhitung ada 4 kali scene fighting dalam film ini, Wajar saja kalau durasi film nya sangat panjang (menurut IMDB durasinya 2 jam 23 menit, durasi tersebut belum melewati proses sensor) Spoiler! Ada satu scene yang disensor tapi di cut dengan sangat kasar, cukup ngeselin. 

Sebenarnya film ini sangat cocok untuk anak-anak. Banyak adegan klise tentang superhero yang masih saja ditunjukan, seperti bullying di masa kecil, tujuan superhero untuk melindungi banyak orang, menjadi orang yang terpilih, menyelamatkan anak kecil yang hampir menjadi korban kekacauan dan lain-lain. Selain itu adegan fighting nya sangat menghibur. Satu lagi, karena ini di sutradarai oleh James Wan (sutradara yang terkenal dengan film - film horor) maka bersiap-siap dengan adegan kejut ala film horor. 

8/10

Penulis :
Ashari @arhieashari

Menjadi kecil bersama Ant Man & The Wasp

|


padapanik.com - Setelah melewati "Avengers : Infinity War" sebagai sebuah perayaan besar penggemar marvel dimana para superhero kalah telak dari villain nya Thanos untuk pertama kali. Kini kita memasuki masa transisi sebelum Avengers 4 tahun depan.

Antman & The Wasp menjadi film selanjutnya setelah hype nya Infinity War. Maka di buatlah film marvel yang paling ringan, konflik yang sederhana dengan komedi yang kuat. Jadi turunkan ekspetasi kalian sebelum menonton film ini. Antman & The Wasp tidak lebih dari pengenalan karakter baru, pengenalan kekuatan baru, dan teknologi baru. Selain itu, ini adalah film drama keluarga.

Setelah terlibat dalam aksi "Civil War". Scott Lang / Ant Man (Paul Rudd) menjadi tahanan FBI sebagai tahanan rumah. Hal tersebut membuat Lang tidak bisa dengan mudah keluar rumah karena terus berada dalam pengawasan. Sedangkan, Dr Hank Pym (Michael Douglas) dan putrinya Hope Van Dyne / The Wasp (Evangeline Lilly) masih penasaran dengan misteri Quantum Realm dan masih berharap bisa menyelamatkan istri nya yang terjebak bertahun-tahun didalamnya. Sedangkan konflik tersebut tidak bisa selesai dengan mudah karena adanya Sonny Burch (Walton Goggins) seorang pebisnis, dan Ava / Ghost (Hannah John-Kamen) adalah korban dari radiasi Quantum realm yang berharap bisa sembuh dengan mencuri teknologi dari Hank. 
Ketiga kubu tersebut membentuk sebuah konflik dalam film ini. Sedangkan Ant Man hanya sebagai superhero yang turut membantu disini sambil bagaimana Marvel mempresentasikan The Wasp sebagai superhero baru dan teknologi Hank yang tidak hanya bisa menjadi kan superhero nya menjadi semut, tapi akan ada lebih banyak lagi kekuatan yang akan di pamerkan. 

Baca Juga : Yang mungkin terjadi setelah infinity war (Prediksi Avengers 4)

Minus nya, film ini tidak memiliki final battle yang keren seperti film-film superhero lainnya, hal ini dikarenakan tidak ada villain hebat yang bisa diangkat oleh Marvel untuk sekuel Ant man ini. Konflik The Wasp dengan Ghost juga tidak begitu kuat. 


Hal ini mengingatkan penonton dengan film Captain America yang di dua film awal nya tidak punya villain yang tangguh sehingga konflik nya adalah situasi dan keadaan sekitar, bukan pada musuh utamanya. Jika dilihat dari sisi lain, hal ini menjadi ciri khas marvel dimana villain nya selalu memiliki kekuatan masuk akal. 

Overall, film ini adalah film marvel yang biasa-biasa saja, tapi cukup menghibur.


Terakhir jangan lupa menonton After credit scene karena akan menjelaskan hubungan Ant man dengan kejadian di infinity war.

7/10 

Penulis : 
Ashari, @arhieashari, Marvel, One Piece, Disney and Ghibli fanboy.