Banner

Tampilkan postingan dengan label KAMPUS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAMPUS. Tampilkan semua postingan

Kembali ke Jatinangor, Meramaikan Pesta Mahasiswa Hingga Menikmati sajian musik dari Inggris.

|

padapanik.com - Sudah lama sekali tidak mengunjungi jatinangor. Jika ditarik kebelakang, liputan pertamakali kami sebagai media partner resmi di tahun 2014 lalu yah di kampus UNPAD Jatinangor. Jadi kembali kesana selalu menyenangkan. Dalam posisi kampus yang tidak begitu strategis atau jauh dari mana-mana membuat Mahasiswa di Jatinangor terus kreatif dan berusaha untuk menciptakan hiburan mereka sendiri. Kali ini tim padapanik kembali ke Jatinangor untuk menghadiri acara Big Force Festival 2022. 


Baca disini : Awetizemmaze : Sensasi Dunia Autism Dalam Sebuah Labirin


Big Force Festival sendiri adalah acara tahunan Mahasiswa oleh Universitas Padjajaran yang berupa kompetisi antar fakultas gitu. Jadi di panggung nya diumumin fakultas-fakultas yang berprestasi di kompetisi Big Force, Mahasiswa perwakilan naik dan menyuarakan kemenangan fakultasnya. Seru sih.  

Ini tahun pertama kami kesana dan semuanya terasa seneng-seneng aja. Meskipun untuk meliput festival kali butuh sedikit effort. Di hari sabtu yang macet seperti biasanya, beberapa dari kami tetap harus bekerja hingga jam 5 sore membuat kami harus memaksakan diri berangkat ke Jatinangor dengan jas hujan 10ribuan yang warnanya terang banget di jam-jam paling sibuk jalan raya. Basah udah pasti sih, makanya kami memutuskan untuk mengganti sendal. Sesampainya di venue, sulit sekali berkomunikasi satu sama lain karena hujan, banyak orang dan soundnya systemnya yang gokil. Sempat bingung juga sih pintu masuknya sebelah mana, sedangkan fotografer kami hari itu yang tersesat malah tanpa sadar udah berada di venue.

Jadi apa yang terjadi, terjadilah. Mari menikmati pertunjukan musik di akhir-akhir acara. 



Kedatangan kami disambut tuan rumah, The Panturas yang selalu prima dan menyenangkan. Stage nya super keren dan sound systemnya bagus sekali. Bikin benar-benar lupa kalau keadaan diri sendiri sudah basah kuyub dan kaki kotor karena tanahnya yang becek. Jika ingin fokus menikmati musik, yah maka semua sajiannya sudah sangat cukup. 

Setelah kapal The Panturas menepi, giliran sajian utamanya. Kelompok musik impor dari inggris yang cukup banyak mendapat hati pendengar musik di tanah air. Fur yang sedang tour asia tenggara ini menyempatkan diri ke Jatinangor untuk menghibur mahasiswa di UNPAD. Cukup unik karena Fur datang tanpa membawa kru sehingga para personilnya sibuk cek sound ditengah MC mencoba menyapa penonton. 


FUR tampil dengan membawakan sejumlah lagu-lagu hitsnya seperti Not Enough, Angel Eyes, Nothing, Trying, What Would I do dan beberapa lagu baru di album kedua. Tidak lupa, Fur menyanyikan lagu yang membawa mereka begitu terkenal di Asia salah satunya di Indonesia yaitu "If You Know That Im Lonely". Terdengar beberapakali personil dari FUR salah chord tapi dimaklumi karena penonton udah menikmati nyanyi bareng. BIG FORCE Festival 2022 di tutup dengan nyanyi bareng bersama TBA, ituloh grup vokal yang berisikan 3 mantan personil Koboy Junior. Secara rundown sih awalnya cukup kaget karena Fur tidak ditaruh di akhir, tapi ternyata para penonton jauh lebihi fasih bernyanyi bersama dengan lagu-lagu koboy junior. Jadi semua nyanyi, semua senang. 

Saat hujan-hujanan dan basah kuyup memang bikin badan menggigil, kepala sakit, dan imun turun. Tapi bahagianya penonton menikmati pertunjukan musik malam itu juga bisa bikin imun naik. Jadi impaskan mun? 


Penulis :

@arhieashari

Fotografer : 

@azamrachman 

Formula line up PR Fest 2017 yang cerdik!

|


padapanik.com - Bulan desember telah tiba, maka email padapanik akan penuh dengan penawaran media partner event festival pensi atau kampus. Padahal tidak semua bisa kami liput karena keterbatasan SDM. Salah satu yang paling rutin adalah agenda 3 festival di kampus Universitas Islam Bandung (UNISBA) yang secara tidak langsung adalah hajatan yang sama namun belum berhasil di satukan sampai hari ini. 

Salah satunya yang selalu bisa survive dengan acaranya yaitu PR Festival. Sebuah Festival karya HIMA PR (Public Relations) Universitas Islam Bandung memang cukup kuat dan berhasil dibandingkan yang lain (diukur dari 4 tahun terakhir selama menjadi media partner). Sayangnya tahun ini tidak lebih bagus dari sebelumnya, setidaknya tahun ini adalah edisi yang memorable dan cerdik.

Cerdik? Kosakata yang kuno sekali...

Iya, untuk semua Kampus, Sekolah atau EO sekalipun. Tidak semua dari kalian punya hasil dana usaha atau fresh money dari sponsor yang cukup untuk mengundang band-band besar yang menjadi idaman tiap panitia. Untuk menggaet 500 pengunjung misalnya, tidak perlu memaksakan untuk mengundang Maliq & D'essentials atau Sheila on 7. Kalian bisa memenuhi target, asal bisa menyusun line up dengan baik. Kenali target kalian lalu scouting & survey dengan se detail-detailnya. Tahun lalu, PR Fest mengundang Fourtwnty yang views youtube nya mencapai jutaan tapi jarang sekali ke Bandung. Kalaupun ke Bandung, paling hanya promo radio. Hasilnya! Penuh! Mereka pasti bukan band yang mahal setahun yang lalu. Apalagi di akhiri dengan OM PMR yang jadi ending super pecah. Harga kedua band tersebut saya rasa hanya setengah dari band-band idaman panitia. 

Tahun ini sepertinya panitia PR Festival cukup memutar otak sampai akhirnya memutuskan line up yang disuguhkan di acara kemarin. Ping Pong Club, The Fox and the thieves, dan The Schuberts menjadi 3 band utama yang tampil setelah jam 7 malam.

Ping Pong Club adalah band baru, tapi para personil nya enggak. Wajah-wajah familiar di scene musik Bandung yang kini bergabung untuk menuntaskan hasrat bermusik di genre yang berbeda di band sebelumnya. Sedangkan The Fox and The Thieves malah terkesan menampilkan musik yang lebih ceria setelah tidak lagi bersama vokalis sebelumnya. Setelah itu, The Schuberts di daulat tampil sebelum headliner. Band yang musiknya sangat "anak muda" ini tampil energik meskipun diawali dengan banyak kendala teknis.

Kalian pasti sepakat kalau tiga band tersebut (untuk saat ini) tidak mampu mengundang crowd sesuai target. Padahal acara ini gratis! Sampai performer terakhir naik keatas panggung. Diskoria Selekta x Fariz RM. Diawali dengan naik nya Duo DJ asal Jakarta dengan genre disko 80-90an yang tanpa ada opening speech sudah langsung memulai lagu pertama nya. Mereka bahkan gak ada mic sama sekali. Hanya terus menyelesaikan setlist nya.

Lagu-lagu cinta seperti Galih dan Ratna (Chrisye), Khayalan (The Groove), Malam pertama (Nia Daniaty), Dansa yo Dansa (New Rollies) hingga lagu tahun 2000an seperti Karena ku suka dirimu (RAN) di mix dengan irama disko membuat para penonton malam itu tidak berhenti bergoyang dalam waktu yang lama (Mungkin hampir 20 lagu). Musik 80-90an akan mengundang para hipster untuk hadir bergoyang sampai larut malam, mampus kau shelter!

Hingga Fariz RM ikutan naik dengan Keytar andalan nya. Sebenernya nama Fariz RM tidak begitu ngetop di kalangan anak muda, kita cuma tahu namanya, dan lagu "Sakura" nya (kemungkinan besar generasi kita taunya saat di remake Rossa). Followers instagram beliau cuma 4ribu. Berarti bukan pasarnya anak muda kan? Lalu siapa yang datang malam itu?




Pertama adalah kalangan orang tua, ada beberapa pasang suami istri yang datang ke PR Festival yang pastinya mau nonton Fariz RM. Ya iyalah, masa nonton MC. Jadinya sedikit awkward sih ketika mereka ngelihat para penonton goyang energik setengah sadar pas Diskoria main. Yang kedua adalah kalangan penikmat musik, Mereka mungkin ingin menambah experience menonton mereka yang dipastikan sebelumnya belum pernah menonton Fariz RM. Datang untuk menyaksikan idola orang tua mereka dulu. Yang ketiga adalah para Hipster, Mereka yang merasa senang berbeda dari yang lain, atau karena pakaian hippies mereka sudah lama tak terpakai jadi ini momentum yang tepat atau para kolektor vinyl pemula yang mulai mendewakan musik indonesia 80an. Atau bisa juga ini jadi momen yang artsy bagi mereka yang merasa berjiwa seni banget. Dan yang terakhir adalah pengunjung yang gak ada kerjaan aja. Mumpung acara gratis, dateng aja yah kan? Namanya juga Mahasiswa~

Harusnya setiap panitia festival men-challenge dirinya untuk menemukan solusi line up yang mutakhir, udah kayak pelatih bola aja sih. Tapi namanya acara musik akan gitu-gitu aja. Tema acara cuma sampai sore hari, sisanya hanya band utama yang tampil bergantian. Jadi, harus totalitas nemuin formula Line up yang bakal di suguhin meskipun dengan budget seminimal mungkin. Kalau sponsor kalian banyak dan line up nya band-band mahal sih, gak perlu media partner juga acara kalian pasti rame.

Penulis & Foto : 
Ashari @arhieashari




KAHITNA X RAN DI STEROIDS 2017!

|

padapanik.com - Gengs tau ga sih ? kalo Steroids (stereo act against AIDS) 2017 kembali di gelar pada tanggal 25 november 2017 lalu bertempat di gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung.  Agenda tahunan yang ga pernah absen ini diadakan oleh mahasiswa Telkom university menjelang peringatan hari AIDS sedunia ini memang merupakan event musik yang selalu di tunggu - tunggu oleh anak anak muda bandung, meskipun mengusung tema charity concert yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap korban yang terjangkit HIV AIDS.

Tahun ini steroids menghadirkan line up yang gak kalah keren dari tahun tahun sebelumnya. Diantaranya The sigit, OM PMR, RAN, Kahitna, dan Diskoria.


Setelah energy penonton mulai panas setelah menyaksikan penampilan dari The sigit dan OM PMR, kini tiba saatnya penonton dibawa ke suasana yang lebih fun dengan lantunan lagu dan performance dari RAN. Band yang selalu tampil ceria ini berhasil membuat energy penonton semakin naik setengah berjingkrakan sambil ikut menyanyikan lagu – lagu hits dari RAN. Suara teriakan – teriakan dari penonton perempuan pun sangat kencang terdengar, ada yang ikut menyanyikan lagu, ada pula yang hanya sekedar memanggil nama masing – masing personil RAN. Ditengah penampilannya, RAN memberikan kejutan manis untuk para penonton yang memenuhi gedung sasana budaya ganesha pada malam itu, kahitna muncul untuk berkolaborasi menyanyikan lagu salam untuk kekasihmu yang baru. Penonton kembali terlihat heboh dan menikmati penampilan itu. Usai menyanyikan satu lagu tersebut, kahitna pamit meninggalkan panggung kolaborasi dan RAN tetap melanjutkan performancenya. Kurang lebih selama sejam RAN menghibur tanpa jeda membuat penonton terus tersenyum kecil ketika di pengujung RAN mebawakan single pertama mereka “pandangan pertama”.

Setelah dibawa dengan nuansa yang ceria, kini giliran suasana romantis yang memenuhi gedung sabuga malam itu.  Dengan pencahayaan lampu dan visual yang romantic, kahitna muncul dengan menyanyikan salah satu lagu andalan mereka “tentang diriku”. Di setiap penampilannya, kahitna sesalu sukses membius para penontonnya dengan lagu – lagu romantis yang dibumbui dengan “stage act “ para personilnya yang selalu menggoda para penonton perempuan. Namun hal ini menjadi hiburan tersendiri yang di tunggu – tunggu pada setiap penampilan kahitna. Ke riuhan penonton kembali terjadi saat kahitna membawakan lagu “tak sebebas merpati”.  Di lagu ini kahitna kembali menarik salah satu penonton perempuan yang beruntung untuk naik ke atas panggung dan ikut bernyanyi. Lagu yang sangat romantis karena menceritakan tentang seseorang yang melamar kekasihnya ini berhasil membuat para penonton “baper” dengan “stage act” mereka yang sangat menggoda ala - ala lelaki yang melamar kekasihnya di atas panggung.


Puncaknya adalah ketika tiba – tiba RAN muncul untuk kembali berkolaborasi dengan kahitna menyanyikan lagu yang pernah di remake  oleh RAN “Andai Dia Tahu”. Kemunculan RAN kembali membuat penonton menjadi histeris karna sama sekali tak menduga akan terjadi kolaborasi kembali untuk kedua kalinya di panggung yang sama. Usut punya usut ternyata kolaborasi ini memang menjadi surprise bagi penggemar RAN dan Kahitna yang hadir malam itu. Belum cukup sampai di situ, Ran kembali mengamini permintaan penonton untuk menyanyikan lagu kedua bersama kahitna setelah lagu andai dia tahu. Kejutan ini dipercantik dengan koreografi kecil yang RAN dan Kahitna lakukan. Kejutan tersebut memang sangat berhasil membawa penonton terus menerus memuji penampilan mereka.

Setelah hampir satu jam menghibur, tibalah di lagu terakhir kahitna yang selalu sukses membuat para penonton terus tersenyum. Cantik menjadi lagu pamungkas penampilan kahitna di steroids 2017.

 

Terakhir, Diskoria menjadi penutup Steroids 2017 dengan musik disko tahun 90an mereka. Semua penonton terbawa suasana tahun 90 dengan lampu disko yang berkerlap kerlip di panggung. Sambil bergoyang – goyang kecil, sayup – sayup terdengar penonton yang ikut menyanyikan playlist yang dibawakan oleh Diskoria.

Acara Steroids 2017 ini berakhir kira – kira jam 23.00, lagu terakhir Diskoria penutup perjumpaan malam itu dan mengiring penonton untuk keluar venue.

Steroids tahun ini membawa kenang – kenangan manis untuk para penonton setia mereka. Semoga Steroids 2018 juga bisa menghadirkan line up – line up yang oke ya guys. See you in the next party guys!!!

Penulis :
Fika @hestyrafika

Foto :
Dewe @iamdewe 

Kampoeng Jazz 2017 : Trio Tandingan Tulus dkk

|

padapanik.com - Acara Internasional Kampoeng Jazz kembali digelar untuk ke-9 kalinya, acara tahunan yang selalu ditunggu ini diselenggarakan pada tanggal 29 April 2017 lalu yang masih dilaksanakan di Unpad Dipatiukur dan tetap sukses menarik perhatian penikmat musik khususnya kota Bandung dengan memadukan susunan line up dan kemasan acara yang selalu ditunggu tiap tahunnya.

Acara tahunan yang selalu ramai di padati penonton ini adalah acara yang dilaksanakan oleh BEM Fakultas Hukum Universitas Padjajaran. Dengan menggabungkan unsur jazz dan kebudayaan, Kampoeng Jazz selalu ditunggu karena selalu ada kejutan di line up nya. Beberapa musisi luar negeri pun hadir dalam acara kali ini. 

Pada pagelaran tahun 2017 ini, International Kampoeng Jazz mengumumkan line up nya yaitu Trio Lestari, Tulus, Kunto Aji, Teddy Adhitya, Sore, Bonita and the HusBand, Scrapbeat, 5 Petani, Full Lights Out, Titik Awal, Albert Dragtan Quintet, dan guest star dari luar seperti Sun Rai (Aus), PREP (Uk), dan beberapa performance lainnya. 



Kampoeng Jazz ke-9 terbagi dua stage. Yaitu Dago Stage dan Dipatiukur Stage. Dimana di kedua stage tersebut di meriahkan oleh performer band yang berbeda. Penonton tidak harus memilih sebenarnya, karena jam tampil tidak begitu berdekatan sehingga antara stage satu dan stage lainnya tidak begitu bentrok. Hanya ada beberapa penampilan yang bentrok, hal ini bikin sebagian penonton bingung untuk memilih.


Salah satu momen menarik dari acara International Kampoeng Jazz yang ke-9 kemarin adalah kolaborasi kejutan Tulus dengan solois handal seperti Kunto Aji dan Teddy Adhitya. Hal ini seperti kolaborasi tandingan para musisi jazz muda yang gak mau kalah dengan senior-senior nya di Trio Lestari. Dan tidak kalah menariknya lagi Sore pun berkolaborasi dengan Kunto Aji yang sebelumnya sudah pernah berkolaborasi di panggung lain. Sebuah moment yang jarang sekali dapat disaksikan di tempat lain. Kalian yang gak dateng, nyesel kan?


Reporter :
Fauzan @fauzanavid & Rai @alkohorny
Fotografer :
Dwiki Amanda @iamdewe 

Eksperimen berani Parahyangan Fair 2017

|

padapanik.com - Parahyangan Fair, sebuah festival tahunan Universitas Parahyangan yang masih belum kehabisan ide. Ditengah semakin banyaknya festival kampus maupun pensi yang beradu kemegahan tiap tahun, butuh ide yang sedikit lebih fresh untuk menarik perhatian. Gak cuma mengandalkan nama besar pemanggung. 

Dari line up nya saja, saya pribadi tidak begitu tertarik untuk hadir. Sudah bisa dibayangkan, Para penonton akan histeris melihat Elephant kind dan bakal ikut bernyanyi sepuasnya saat menonton Maliq n d'essentials. Dan Bumi Sangkuriang sebagai venue nya sudah kebayang bakal seperti apa. 


Kedatangan saya disambut dengan berbagai macam tenant makanan dan sponsor yang membujuk untuk di datangi. Beberapa menu pun akhirnya menjadi pilihan saya sebelum masuk terus berjalan kaki. Duduk lesehan di rumput, kali ini saya di sambut dengan beberapa film pendek yang ternyata juga bagian dari acara. Film Filosofis berjudul "Box" cukup menarik perhatian saya. Satu lagi, "Mata Uang" yang memanjakan mata tapi arahnya kurang jelas kemana. Beberapa lainnya adalah masalah terbesar dalam produksi film pendek kampus. Audio yang kurang jelas. 

Menempatkan film pendek sehabis magrib tentunya menjadi ide brilian, karena penonton mulai merapat dengan jajanan nya masing-masing. Mereka berharap idola nya akan segera naik ke panggung. Nyatanya film pendek dijadikan appetizer yang cukup dilirik. Fasilitas pemutar film pun cukup niat. 


HMGNC tampil menjadi pembuka di malam hari. Trio elektro pop ini tengah menyelesaikan album baru mereka. Malam tersebut menjadi momen berharga karena ada 2 bocoran lagu baru yang dibawakan. Bahkan salah satunya belum punya judul. Di lanjut dengan idola anak muda masa kini. Elephant Kind yang kali ini membawa nama "Elephant Kind x Sand Painting" yang tidak begitu menarik perhatian saya. Bukan karena tidak suka, saya punya album mereka loh. Tapi penampilan band dalam sebuah acara seperti ini, hanya memprioritaskan untuk menghabiskan setlist mereka. Sehingga mudah di tebak. 

Sebelum penampilan mereka, Film Pendek berjudul "Julian Day" karya Gianni Fajri sangat menarik perhatian. Mungkin karena kualitas nya diatas beberapa film pendek sebelumnya. Film ini akhirnya bisa saya saksikan setelah mendengarkan promosi nya di salah satu TV swasta. Film ini diangkat dari EP Elephant Kind. 


Harusnya saya sudah pulang ketika Elephant kind menyelesaikan lagu terakhirnya. Penonton mulai semakin merapat menunggu band headliner nya. Tiba-tiba dari sisi timur panggung hadir sebuah pertunjukan tambahan. Seorang wanita mungil bermain ukulele dan beberapa orang lain yang berperan sebagai pekerja. Satu lagi, wanita yang berperan sebagai mandor galak dan tegas. Mereka memainkan teater? Ini gila sih.


Yang pertama, mereka semua adalah mahasiswa yang jelas bukan pemain teater (kelihatannya), ya kedua mereka memainkan teater yang pastinya punya pesan yang berat dan tersirat. Sehingga penonton diajak berpikir untuk memahami. Yang ketiga! Mereka tampil sebelum band utama! Bayangkan betapa tidak sabarnya penonton menunggu Maliq n' d'essentials malam itu. Dan betapa beban nya para pemain dan panitia. Gimana kalau penonton ngamuk? Untung saja tidak terjadi, hanya keluhan-keluhan tanpa henti yang terdengar di telinga.

Sebenarnya pesan yang dibawakan sangat positif. Meskipun banyak adegan slaptick dan kata makian. Tapi mereka sedang menjalankan fungsi sebagai mahasiswa yang kritis dan peka terhadap masalah sosial. Terdapat papan bertuliskan "dilarang, kecuali pribumi" sudah mewakili banyak hal. Ditambah lagi yel-yel "ser geser-geser, sur gusur-gusur" begitu nempel dikepala. Banyak hal yang tidak dimengerti, tapi yang bisa saya tangkap adalah keberanian. Setelah pertunjukan yang kurang lebih 15 menit tersebut, dilanjutkan dengan penampilan tarian daerah. Masih nekat aja..

"Untung Band terakhir Maliq n d'essentials. Bukan Slank.."

Hingga tiba saatnya yang dinanti-nanti. Band spesialis lagu-lagu hits tersebut akhirnya manggung dan menyenangkan penonton. Sayang sekali, resiko dari eksperimen sebelumnya membuat band yang dinanti tersebut harus di cut karena sudah pukul 23.00 malam. Dan acara harus segera dibubarkan.
Terlihat para penonton masih kecewa hingga beberapa menit masih setia di depan panggung meskipun sang idola sudah tidak di hadapan mereka.


Setidaknya keberanian tersebut harus diacungi jempol sih. Saya (pribadi penulis) butuh kejutan ketika datang ke acara kampus atau pensi semacamnya. Karena festival harusnya menyatukan berbagai hal. Bukan suguhan musik saja. Parahyangan Fair sepertinya memahami itu.

Penulis :
Ashari @arhieashari.  
Foto : 
Dwiki @iamdewe.

Piknik dan Musik, Formula terbaik Focal Point

|

padapanik.com - Beberapa tahun kebelakang kita terbiasa mendengar istilah ‘kurang piknik’, bukan? Isitlah tersebut biasanya digunakan untuk menyindir seseorang yang mudah tersinggung atau rese, karenanya mereka yang cukup piknik dianggap lebih terbuka pikirannya alias open minded.
Hmm, hari gini mau piknik? Emang ada tempatnya ya? Buat kalian yang bertanya-tanya seperti itu, berterima kasihlah kepada Focal Point! Acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa SBM ITB ini tiap tahunnya mengusung tema piknik, musik, dan kuliner.


Pada Sabtu tanggal 18 Februari 2017 lalu, Focal Point untuk kedua kalinya berhasil diselenggarakan di Bumi Sangkuriang. Cukup banyak bintang tamu yang akan menghibur teman-teman FoPo yakni, KLAV, Oscar Lolang, TIGAPAGI, The Sastro, Pure Saturday, Polka Wars, Elephant Kind, Danilla, Stars & Rabbit, dan juga The Trees & The Wild. Atmosfer piknik langsung terasa sore itu begitu saya melewati gate. Teman-teman FoPo terlihat duduk diatas alas piknik berwarna merah kotak-kotak ditemani keranjang sembari menikmati alunan musik dari The Sastro yang saat itu sedang tampil. Sembari mengamati sekitar, akhirnya saya terpaku melihat mural yang sedang dilukis cukup jauh dari panggung.

Setelah TIGAPAGI, giliran Pure Saturday naik keatas panggung dan menghibur teman FoPo. Saya, yang masih berjalan-jalan mengamati sekitar, akhirnya bergeser ke arah game booth yang  telah disediakan. Inilah salah satu keunikan lainnya yang dimiliki oleh Focal Point, acara musik mana lagi yang menyediakan game booth? Disini kita dapat bermain basket dan juga foosball. Tidak hanya itu, kita juga dapat membaca peruntungan atau nasib kita melalui stand tarot yang disediakan oleh LightGivers.

Saat break maghrib terlihat teman-teman FoPo mulai kesana-kemari mencari pengganjal perut. Sesuai dengan salah satu tema yang diusung yaitu kuliner, disini terdapat banyak sekali stand penjual makanan dan minuman. Mulai dari kuliner khas barat seperti pasta hingga kuliner khas asia seperti rice bowl serta minuman berasa seperti greentea dan thai tea. Tak lama setelah break tersebut, muncullah Polka Wars yang berhasil menghibur penonton.

Penampilan selanjutnya datang dari band asal Jakarta yaitu; Elephant Kind! Ini adalah penampilan yang paling pecah menurut saya. Terutama saat mereka membawakan salah satu lagu dari album “City J” yang berjudul Montage. Bam Mastro sang vokalis tidak segan turun dari panggung hingga duduk di pagar pembatas saat penampilan tersebut agar dapat bernyanyi lebih dekat bersama para teman FoPo. Salute!


Beberapa saat setelahnya giliran musisi cantik idaman seluruh orang muncul; Danilla Riyadi. Ia membawakan delapan lagu dari album “Telisik” yang rilis pada 2014 lalu. Salah satu lagu lain yang dibawakan adalah Kalapuna. Seperti biasa, pianika kesayangannya pun tak lupa ikut dimainkan diatas panggung. Penampil kedua terakhir adalah duo folk pop dari Kota Pelajar. Tebak siapa? Yak, tentu saja Stars and Rabbit. Panggung Focal Point terasa cukup panas karena penampilan yang cukup energik dari Elda Suryani. Mereka membuka panggung dengan lagu Old Man dan menutupnya dengan pembawaan Man Upon The Hill yang amat apik.

Save the best for last, sampailah kita ke penampilan terakhir yaitu dari The Trees And The Wild. Tampil dengan suasana hitam-hitam ditambah angin malam yang sejuk, mereka berhasil menghipnotis semua penonton. Malam itu Focal Point berhasil meninggalkan kesan yang sangat kuat di benak saya. Untuk kamu yang kurang piknik jangan lupa tahun depan ajak teman, gebetan, pacar, atau keluarga kesini. Sampai jumpa lagi, Focal Point!

 Penulis :
Tiwi @indayanipratiwi 
Fotografer :
Rai @alkohorny 

SMILEMOTION jadi ajang reuni NOAH.

|

padapanik.com - Memasuki penghujung tahun 2016, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Unpad (Universitas Padjajaran) kembali menggelar charity konser bertajuk Smilemotion 2016. Tidak berbeda dengan tahun sebelumnya, event ini digelar dengan tujuan amal yaitu membantu penderita bibir sumbing dalam melakukan operasi secara gratis. Sejak 3 tahun lalu, pertama kali Smilemotion dikampanyekan beberapa artis papan atas seperti Raisa, Sheila on 7, Nidji, Isyana Sarasvati, Rossa, Tulus, dan Syahnaz. Dan kini Sheila on 7 kembali dipercaya menjadi guest star ditemani oleh musisi lain sekelas Glenn Fredly dan NOAH.

Di kota Bandung, penghujung tahun memang seringkali dimanfaatkan berbagai Universitas untuk menggelar konser musik. Jadi bukan sebuah kebetulan jika Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 17 Desember 2016, Padapanik.com berkesempatan untuk menjalin kerja sama dengan dua event besar yaitu Fikom Fest Unisba yang digelar di Dago Tea House. Tapi siapa sangka kalo ternyata pada waktu yang sama ternyata timnas Indonesia juga harus berlaga melawan Thailand di ajang piala AFF. Itulah moment dimana loe mulai ngerasa kalo punya kemampuan membelah diri itu keren!

Terlahir sebagai seseorang yang tidak memiliki fanatisme yang besar terhadap bola, rupanya memudahkan saya untuk memutuskan berangkat ke Sabuga dan melupakan sejenak perasaan dilematis untuk menonton timnas Indonesia bertanding. Memotret musisi beraksi dibawah sorotan lampu panggung nyatanya terasa lebih menggiurkan bagi saya yang notabene sangat menyukai dunia fotografi.

Sesampainya di Sabuga, berita kurang mengenakan nampaknya harus diterima penulis dan beberapa rekan media yang saat itu sedang menunggu di gate media partner. Sama seperti event sebelumnya Steroids, lagi-lagi penulis tidak bisa memotret Glenn Fredly dari spot barikade. Entah apa yang membuat panitia menjadikan spot terdepan itu seolah eksklusif bagi pantia dan seakan enggan berbagi dengan rekan media . Ya meski media diberikan space dari tribun sekitar VVIP, jujur saja hal ini mengundang rasa badmood bagi saya yang tentu ingin mengabadikan aksi sang musisi dari spot terdepan.

Menanggapi hal tersebut, akhirnya saya bersama Rizal (reporter media sebelah) memutuskan untuk melayangkan pertanyaan yang sedikit menyindir kepada salah satu panitia mengenai peraturan media. Ya meskipun pada akhirnya langkah yang kami ambil ini tidak mendapat jawaban memuaskan. Tapi ya sudahlah kalo kata Om Duta (SO7) kita harus bisa berlapang dada dan ambil hikmahnya. Sedikit saran saja bagi panitia penyelenggara, sebagai media informasi sungguh kami juga ingin mendapatkan foto dari berbagai sudut terbaik.

Selepas adzan maghrib, Glenn Fredly mulai beraksi di atas panggung dan membuka penampilannya dengan lagu Belum Saatnya. Seperti biasa, lewat suara khas beraksen Ambon maniseeee, Glenn mampu menyihir penonton yang hadir dengan beberapa nomor hitsnya seperti Terpesona, Malaikat Juga Tahu, Pada Satu Cinta, dan You are MyEverything. Keberhasilan Glenn membangun suasana venue menjadi lebih intim juga berhasil diteruskan oleh band yang besar di era 90’an Sheila on 7. Lagu-lagunya yang everlasting, memang menjadi salah satu faktor yang membuat band asal Jogja ini mampu menjadi magnet bagi masyarakat Bandung untuk hadir ke acara gigs tersebut. Tak heran, jika setiap hits yang mereka bawakan selalu hafal dilantunkan penonton.


Tampil sebagai line up artist penutup, nampaknya sebuah pertunjukan spesial dikemas begitu matang oleh panitia penyelenggara. Lampu disko berbahan serpihan-serpihan cermin yang semula hanya dipajang sebagai property di sekitar lampu rupanya telah disiapkan untuk mepercantik penampilan NOAH malam itu. Dalam sekejap, suasana venue menjadi gelap. Lampu panggung yang berjarak cukup tinggi dengan permukaan panggung mulai turun dan membuat penonton yang hadir berteriak histeris menyambut salah satu band besar asal Bandung tersebut.


Setelah Uki, David, dan Lukman telah bersiap di atas panggung sang empunya vokal Ariel pun naik ke atas panggung. Tampil dengan formasi lengkap, lagu Cinta Bukan Dusta yang menjadi single ketiganya pun mejadi lagu pembuka di penampilannya malam itu. Dan yang spesial pada penampilan NOAH kali ini adalah hadirnya sang penggebuk Drum yang belum lama ini memutuskan untuk keluar dari band yang telah membesarkan namanya. 

Setelah membawakan kurang lebih sebelas lagu, Reza yang semula berdiri di sekitar venue di tarik ke atas panggung oleh Ariel dan disambung dengan pelukan hangat dari para personil lainnya. Rasa rindu dan haru nampak jelas terpancar dari wajah mereka. Hal ini sontak mengundang rasa canggung dari Reza yang sudah lama tidak tampil di depan masa. “Karena di sini ada Reza, gimana kalo dia ikut bawain satu lagu terakhir dari NOAH, setuju?”, kata Ariel. Melihat antusias yang besar dari penonton, akhirnya Reza pun mengiyakan ajakan Ariel dan membawakan tembang Walau Habis Terang sebagai penutup. Secara keseluruhan acara Smilemotion terbilang sukses, meski hanya mengundang tiga line up artis besar, hal ini membuat penonton bisa menikmati Glenn, Fredly, Sheila on 7 dan NOAH lebih lama dari biasanya. Tak heran jika event ini berhasil mendatangkan 4.000 lebih penonton yang hampir memenuhi kapasitas Sabuga.

Penulis dan Foto : 

Feari Krisna @fearikrisna, memilih liputan dari pada final AFF dengan mudah.

Bergoyang sepuasnya di PR Festival

|

padapanik.com - Sudah hampir mendekati akhir tahun, biasanya event-event kampus mulai menghabiskan sisa tenaga nya untuk event penutup yang di harapkan megah. Persiapan panjang, mulai dari konsep hingga menemukan relasi dan sponsorship dilakukan habis-habisan. Salah satu event yang menutup akhir tahun ini adalah PR Festival (Public Relations). Event tahunan yang dilaksanakan anak-anak HIMA PR UNISBA ini mulai menemukan pola festival yang ideal. Beberapa tahun terakhir mulai mendapat respon yang tinggi. Sajian Musik dan Rangkaian acara yang matang dan rapih membuat PR Festival mungkin menjadi salah satu yang ditunggu di akhir tahun depan. 


Setelah 2 tahun terakhir mencoba untuk menemukan venue yang ideal, di tahun ini akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke area kampus. Mengusung tema "Chemistree", PR Fest kembali mengidentikan diri dengan kepedulian terhadap lingkungan. Pra event yang dilakukan di Car Free Day Dago juga merupakan momentum yang baik. Mereka menukarkan tiga buah botol plastik bekas dengan totebag cuma-cuma. Simple tapi berkesan. 

Hingga akhirnya Minggu (11/12) menjadi puncak acara. Line up yang di tampilkan tentu tidak main-main. Beberapa festival tidak berani mengambil resiko dengan line up yang itu-itu saja. Dana besar dan performer besar hampir semuanya sama. Tidak hanya penonton, mungkin media partner juga bosan? Meskipun festival-festival tersebut tetaplah ramai. 


Panda Selecta, Fourtwnty, RNRM, dan O.M. PMR bagi kami cukup dan mengenyangkan. Tidak berlebihan tapi tidak ingin di lewatkan. Apalagi ini acara gratis. Pastinya tidak hanya empat band itu saja, ada banyak performer lainnya yang mungkin menarik perhatian penonton lain. 

Sempat break panjang dan diguyur hujan. Akhirnya Fourtwnty naik keatas panggung. Ini pengalaman pertama menonton mereka, padahal mereka mengaku hampir tiap bulan tampil di Bandung. Beberapa penikmat mereka pun terlihat mulai maju ke barisan depan. Tanpa malu-malu bergoyang bersama. Musik band Ari lesmana dkk ini membuat kepala melayang-layang sampai akhirnya berjoget, di lanjutkan lagi dengan RNRM yang pastinya tidak akan membuat penonton diam. 


Hanya break sebentar, Orkes Moral Pengantar Minum Racun naik ke stage, penonton dan panitia kini berbaur menjadi satu kelompok dan menikmati performer terakhir bareng-bareng. Musik Orkes legenda ini memang mudah untuk berjoget. Di hajar dengan lagu-lagu andalan seperti "Yang Hujan Turun Lagi", "Judul-Judulan" dan "Malam Jumat kliwon". Bisa dibayangkan betapa padat nya penonton di venue. Tidak lupa, Joni Iskandar dkk menampilkan lagu parodi dari lagu Naif, Efek Rumah Kaca dan Seringai yang sebelumnya di masukan ke dalam EP mereka.

Sebelum lagu terakhir, PMR memberi kejutan dengan memparodikan lagu Kunto Aji "Terlalu lama sendiri" menjadi "Too long to be alone" yang mengambil sudut pandang bahwa umur mereka yang sudah tidak muda lagi, bahkan beberapa teman mereka sudah pergi (meninggal dunia). Lagu yang sedih tapi terdengar tetap lucu karena di bawakan oleh PMR. Lagu ini sempat di bawakan di beberapa panggung sebelumnya, bahkan di Synchronize fest pernah di bawakan dan berduet langsung dengan pemilik lagu asli.

OM PMR adalah pilihan yang jenius untuk mengakhiri pertujukan malam itu. Meskipun penonton tetap meminta satu lagu lagi. Sajian musik di PR Festival berhasil menghibur dan memuaskan kebutuhan gigs di malam minggu bandung yang selalu hujan. Sampai jumpa tahun depan!

Penulis :
Ashari @arhieashari, penikmat gigs sepi pengunjung
Foto :
Anton @antonekaputra, gitaris yang malang melintang di sudut-sudut kampus.

Menyaksikan Vina Panduwinata di gigs kampus dengan nuansa EDM

|

padapanik.com - Halo kawula muda Bandung, gimana nih malam minggu kamu kemarin? Hmm... kalo malam minggu kamu kelabu dan cuma diem di rumah. itu tandanya loe lagi sial! Gimana engga, tepat pada 26 November 2016 mahasiswa Telkom University ngadain acara tahunan yang keren dan udah konsisten berlangsung selama sebelas tahun yaitu Charity Concert bertajuk STEROID (Stereo Act Against Aids).

Menjelang peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1  Desember 2016. Mahasiswa Telkom University rutin menggelar event ini pada penghujung tahun. Event ini menjadi salah satu gigs musik yang mengusung tema kemanusiaan dan cukup sukses menarik perhatian warga Bandung. Yap berdekatan dengan hari AIDS sedunia, ajang ini memang didedikasikan bagi para korban yang terjangkit HIV. Tujuan digelarnya kegiatan ini juga untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ODHA (Orang Dengan HIV Aids).

Lalu apa yang spesial dari konser ini dibandingkan dengan event musik lain? Kalo kamu menjadi salah satu pengikut setia event ini dari awal, kamu mungkin bakal bisa ngerasain kalo gigs ini tuh selalu menyuguhkan line up artist yang semakin meningkat setiap tahunnya. Setelah berhasil melakukan gebarakan dengan mendatangkan diva yang booming di era 90’an Reza Artamevia tahun kemarin, kini Steroids kembali melakukan hal serupa dengan menggaet salah seorang legenda diva tanah air yaitu Vina Pandu Winata. Meeeen!!! kapan lagi liat Vina Panudwinata di acara pensi anak muda.

Yah inilah menurut saya yang pada akhirnya membedakan event Steroids dengan gigs serupa. Bosan gak sih ngeliat event musik yang menyuguhkan bintang tamu yang itu-itu aja? kehadiran artis yang belum pernah diliput tentu mengundang rasa antusias yang besar bagi saya selaku reporter dan mungkin juga kamu sebagai penikmat musik. Setuju gak kalo sesuatu yang pertama itu selalu mengundang rasa penasaran? seperti pertama kali masuk sekolah, pertama kali mengenal gebetan mungkin, atau pertama kali waktu loe disunat. Dan inilah kali pertama saya menonton Vina Panduwinata secara live setelah bertahun-tahun hanya mendengar suarannya lewat radio, tape, TV atau bahkan suara sumbang ibu dan bapak yang menyanyikan tembang hits Vina di kala saya belum mengenal Raisa Andriana hehehe.

Vina Panduwinata sendiri diagendakan akan menghibur sekitar pukul 19.00 WIB. Sambil menunggu sang burung camar hinggap di atas panggung, pengunjung dimanjakan oleh penampilan band Barasuara dan grup vokal HIVI. Band rock yang masuk ke dalam daftar 20 album terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia tahun 2015 ini sukses meghentak panggung dan menghibur pengunjung yang didominasi oleh anak muda. Energi postif tersebut dilanjutkan oleh HIVI yang sukses menghidupkan suasana venue dengan nomor lagu hits dan gimmick lucu para personelnya. Kehadiran Neilda sebagai anak bungsu yang bergabung bersama HIVI selama 6 bulan ini juga menjadi salah satu hal baru yang terlihat menarik perhatian penonton di event musik besar tahun ini.


Setelah HIVI memberikan salam perpisahan kepada pengunjung lewat lagunya Dari Mata Turun ke Hati, beberapa penonton mulai nampak tak sabar dan meneriakan nama mama Ina sapaan akrab Vina Panduwinata dari berbagai penjuru. Saya pun mulai mencari posisi terbaik untuk menikmati suguhan musik Vina Panduwinata dari spot VVIP. Namun, mengingat tempat duduk yang tersedia di sana sudah tak tersisa, akhirnya saya berdiri di sudut kiri area VVIP bersama juru tulis dan fotografer lainnya. Sayang sekali memang dalam event ini, panitia tidak menyediakan area barikade bagi para jurnalis untuk mengambil gambar. Apa dikata namanya juga gratisan terima aja, gak heran kalo pada akhrinya saya lebih banyak menikmati event ini dari sudut pandang penonton.


Tak lama berselang, suara serak khas mama Ina pun mulai terdengar menggetarkan panggung Steroids. Membuka penampilannya lewat lagu Dia, riuh suara penonton mulai terdengar dari berbagai sudut dan menyambut ramah kedatangan mama Ina di Bandung. Jika pada penampil sebelumnya penonton berusia dewasa lebih banyak diam dan duduk menikmati lagu, hal itu berbanding terbalik saat diva yang mengenakan dress berwarna pink bermotif hitam ini menghibur. Penonton yang umurnya gak beda jauhlah sama bapak dan ibu saya di rumah, nampak mulai asik bernyanyi mengikuti potongan-potongan lirik yang dikicaukan Sang Burung Camar. Beberapa pengunjung di bangku VIP juga mulai berdiri menikmati musik yang dibawakan mama Ina. Namun, ada saja loh penonton yang mungkin terlalu muda dan masih asing mendengar lagu yang dibawakan mama Ina. “Hey kamu, tong cicing wae atuuuuh, nyanyi. Can lahirnya pas Mama Ina nyanyi lagu ieu,” ujar Vina di atas panggung.

Selain berhasil mengembalikan kenangan masa lalu lewat lagu Di Dadaku ada Kamu, Biru, dan Aku Makin Cinta. Mama Ina juga rupanya menggaet musisi kenamaan seperti Ikmal Tobing dan DJ Goeslan di panggung Steroids. Nampaknya Mama Ina sedang mencoba untuk beradaptasi dengan selera musik anak muda jaman sekarang yang sangat akrab dengan nuansa musik EDM. Beberapa lagu pun sukses diaransemen ulang lebih kekinian seperti diantaranya Burung Camar, Logika, dan Surat Cinta. Lewat penampilannya tersebut, Mama Ina nampak energik beratraksi di atas panggung bahkan tak segan melepaskan sepatu yang dikenakannya untuk mengibur penonton.


Acara Seteroidspun akhirnya ditutup oleh penampilan Maliq&D’essentials dan Glenn Fredly. Kedua line up artist tersebut memang tidak pernah gagal membuat penonton kenyang dan puas menikmati dengan suguhan musik yang mereka sajikan. Suasana yang hangat dari penonton bahkan membuat Glenn Fredly rela memberikan satu lagu tambahan di akhri penampilannya secara spontan loh. Melihat jarum jam yang telah menunjukan waktu lebih dari pukul sebelas malam, Glennpun sukses menutup pagelaran Steroids tahun ini lewat tempang Cukup Sudah.


Gak heran kalo event Steroids berhasil menarik penonton dari berbagai kalangan usia, nampaknya kehadiran dua diva yang didatangkan secara berutut-turut setiap tahunnya mampu menjadi nilai tambah dan menambah list penonton berusia dewasa untuk datang ke acara musik yang lazimnya didominasi oleh usia muda. Nah buat warga gigs Bandung yang mungkin gak punya temen untuk diajak ke acara Steroids tahun depan, kehadiran artis sekelas Reza atau Vina yang mungkin bakal hadir juga nanti, bisa jadi peluang dan kamu manfaatin nih nampaknya buat kamu ngajak orang tua ke acara ini. So, pantau terus updatean Steroids 2017 ya warga gigs Bandung, see you!

Penulis :
Feari Krisna @fearikrisna
Foto :
 Dwiki Amanda @iamdewe

THE 3 MARKETHINK : DIGITAL MARKETING ADALAH SOLUSI

|

padapanik.com - hari ini belum melek teknologi? awas ditinggalin zaman loh. Hari ini kalau kalian pakai media sosial kalian hanya biar eksis, sayang sekali. Media sosial kamu diciptakan untuk banyak hal loh. Salah satu nya untuk branding diri kamu. Jika itu berhasil, maka kamu akan dipermudah dalam karir dan hobi kamu. Menyenangkan bukan? coba lebih melek lagi dengan digital marketing deh.

Kayaknya teman-teman Mahasiswa dari Manajemen Komunikasi (Mankom) Universitas Islam Bandung sudah menyadari hal tersebut hingga akhirnya memasukan tema ini kedalam kuliah umum mereka kemarin. Kalau nunggu digital marketing masuk ke dalam kurikulum kampus kayaknya butuh waktu yang lama birokrasi nya. Melalui Studium Generale atau Kuliah umum adalah jalur yang tepat, apalagi dikemas dengan menarik dan tidak membosankan kayak di kelas setiap hari.


Para panitia yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Manajemen Komunikasi (KMMK) ini membentuk tim pembicara / pengajar dalam bentuk trio yang mereka sebut "The 3 Markethink" terdiri dari Niva Widya (Digital Marketing Specialist Bukalapak.com), Sofyana Ali Bindiar (Chief communication officer Sembilan matahari) dan Arie K. Untung (Founder FAM production house) tentu saja menjadi sebuah komposisi yang menarik dalam sebuah kuliah umum yang dikemas dalam bentuk talkshow.


Acara berlangsung singkat dan padat, berhenti dengan tepat karena seperti nya mereka sudah paham cara mentreatment audience di sebuah talkshow. Acara di mulai pukul 08.00 dengan berbagai penampilan hiburan, screening video dan film, juga penampilan video mapping. Dan kuliah pun di mulai pukul 10.00 dan berakhir tepat pukul 11.30 ditutup dengan aksi video mapping dari Sembilan Matahari dengan objek nya seorang Arie Untung.

Kuliah di mulai dengan perwakilan dari bukalapak.com. Sayangnya bukan Achmad Zacky sang founder dan CEO yang nyentrik yang hadir. Tapi seorang Digital marketing wanita bernama Niva Widya. Memiliki specialist digital marketing memang menjadi kekuatan bukalapak yang selama ini fokus beriklan pada media sosial karena keterbatasan dana. Perusahaan startup memang harus irit dengan pendanaan karena butuh waktu yang sangat lama untuk bertahan. Dari kekurangan dana tersebut lah tim digital marketing bukalapak memutar otak dan menemukan ide. Budget mengundang Dian Sastro yang kemahalan akhirnya menciptakan karakter Dian katro, lalu terciptanya iklan-iklan nyentrik lainnya yang di perankan langsung oleh sang CEO. Selain itu, iklan super panjang nya berjudul "Mas Medok" dan juga webseries-webseries nya yang menarik perhatian. Analisis dengan detail soal durasi, konten dan ritme iklan menjadi fokus dalam menciptakan iklan-iklan kreatif dari bukalapak.com

Selanjutnya giliran Sofyana Ali Bindiar sebagai Chief communication officer dari production house yang sangat terkenal di Bandung khususnya dalam bidang video mapping yaitu Sembilan Matahari. Hampir di setiap event-event besar kota Bandung yang menggunakan aksi video mapping sebagai hiburan nya adalah karya mereka. Sembilan Matahari juga aktif di berbagai workshop di Bandung untuk berbagi ilmu.

"Daripada melawan arus, dengan keterbatasan kita akan mati konyol. Lebih baik memilih berselancar diatas arus nya, pandai melihat trend dan memanfaatkan moment" - Sofyana Ali Bindiar, Sembilan matahari

Sedang asiknya berbicang-bincang, Arie K. Untung tiba-tiba masuk tanpa di present dengan gimmick lupa kalau dia hari itu bukan host. Kali ini ia tidak datang sebagai seorang selebriti atau presenter. Tapi sebagai seorang founder FAM production dan pengalamanya menjadi seorang produser di film "3 : Alif Lam Mim" film yang sempat mengikuti festival film di Los Angeles ini harus ikhlas di cut penayangannya di bioskop karena dianggap kontroversial. Film ini juga bisa dikatakan sebagai film futuristic pertama di Indonesia dengan teknologi dan special effect yang semuanya dikerjakan oleh anak Indonesia. Film ini juga menggunakan promosi melalui digital marketing karena alasan yang sama, budget. Film ini di promosikan melalui video-video aksi bela diri yang direkam melalui cctv di berbagai situasi seolah adegan itu kejadian real yang diupload di facebook dan youtube. Arie K. Untung juga berpendapat bahwa "salah satu cara agar orang mencintai film Indonesia adalah dengan cara menyamai kualitas film luar, minimal mendekati". ia juga menuturkan kalau misalnya Indonesia bikin film superhero gak akan bisa menang karena perkembangan teknologi film superhero hollywood yang sudah sangat sulit dikejar. Kekuatan film Indonesia ada pada cerita, buktinya AADC 2 dan My Stupid Boss bisa mencapai diatas 1 juta penonton.


Seperti biasa, ditutup dengan tanya jawab dan pembagian plakat serta doorprize. Saya baru saja menyimak 1,5 jam yang bergizi. Sayang sekali konsentrasi harus terpecah dengan tugas mengambil gambar dan livetweet. Harusnya kampus-kampus lebih banyak membuat event edukasi yang di kemas tepat dibandingkan konten hiburan dengan budget ratusan juta.

Penulis dan Foto :
Ashari @arhieashari, penulis dengan skripsi digital marketing yang belum dimulai-mulai

SE-PEKAN MENEMUKAN PASSION JURNALISTIK

|

padapanik.com - Hampir setiap tahun, Mahasiswa Jurnalistik membuka pintu rumah nya untuk siapapun agar masuk dan mempelajari lebih jauh tentang dunia mereka. Perilaku mahasiswa Jurnalistik memang random tapi seru, mungkin hanya sedikit yang bisa kita lihat dari perilaku mereka sehari-hari. Tanpa tahu bagaimana serunya dunia profesi mereka. Keluarga Mahasiswa Jurnalistik (KMJ) UNISBA di tahun ini kembali membuat "Pekan Jurnalistik" yang dimulai 24-29 mei 2016. Jika mengikuti semua rangkaian acaranya, kalian pasti tahu bagaimana serunya Jurnalistik, bahkan sebagian menemukan passion nya.



Pekan Jurnalistik di mulai dengan "Studium Generale" atau Kuliah umum yang dikemas dengan format Talkshow. Mengangkat tema "Passion Journalism" dalam kuliah kali ini KMJ ingin memperlihatkan pekerjaan lain dari seorang jurnalis yang ternyata sangat fleksibel mengikuti minat dan hobi. Adalah Haryadhi salah satu lulusan Jurnalistik yang sekarang bekerja sebagai komikus, Penulis dan 3D Animator. Dimana sisi Jurnalistik nya? Ternyata selain membuat komik yang entertaining, beliau juga menjadikan komik sebagai media komunikasi nya untuk mengkritisi keadaan sosial atau politik yang menganggu pikiran nya. Ia dikenal dengan komik strip online nya yang berjudul "Kostum (Komik strip untuk umum)" dengan pembahasan dan sudut pandang nya yang berani. Bahkan beberapa komikus lain bingung dengan keberanian nya. Tidak jarang, Komikus yang tidak dapat izin kuliah DKV ini mendapatkan peringatan karena karya nya di banned.


Medina Kamil, menjadi pemateri kedua yang ditampilkan sebagai sosok jurnalis yang mengikuti passion nya yaitu traveling. Namanya mungkin sudah tidak asing di telinga para Traveler atau penonton setia "jejak petualang" karena ia adalah salah satu host nya. Karena mengikuti passion nya, ternyata membuat wanita penerima penghargaan "Perempuan Tangguh" dari salah satu brand shampoo sempat terdampat di pulau tidak berpenghuni selama 4 hari. Ia juga berhasil menyelesaikan misi ekspedisi papua selama 40 hari dengan keadaan sederhana. Menurutnya, pihak TV sangat kesulitan menemukan host untuk program acara ini karena beberapa sebelumnya menyerah dengan cepat. Karena passion lah yang membuat Medina Kamil bertahan sebagai seorang presenter traveling yang mana itu juga adalah bagian dari dunia kerja Jurnalistik.


Pekan Jurnalistik di lanjutkan dengan "Pameran Foto dan Seminar" selama 2 hari. Jika di tahun sebelumnya mereka mengangkat tema "Mayday" di tahun ini mereka kembali dengan tema yang sangat menarik. "Budaya musik punk dalam sosial masyarakat" yang selama ini mendapat stigma negatif di sosial masyarakat. Tidak hanya itu, dihari kedua juga diisi dengan seminar dengan pembicara yang tidak kalah menarik. Heri "Ucok" (Ex Homicide, Grimloc Records), Rio Tantomo (Jurnalis Musik), Reggi Kayong (Aktivis sosial).


Pekan Jurnalistik di tutup dengan menjelajah "Kota Jurnalistik" di rangkaian penutup One day Journalistic dengan coaching clinic diberbagai bidang Jurnalistik seperti Photography, News Anchor, Cameraman, dan Editor. Acara ini juga disuguhi dengan pementasan musik dari band-band lokal bergengsi seperti The Fox and the thieves, 5 Petani, Hollywood Nobody sampai Patrolice. Jangan lupa dekorasi acara yang menarik diperkuat dengan video mapping ala Sembilan Matahari menjadi salah satu daya tarik acara ini. Rasa kekeluargaan dalam acara ini sangat terasa, semua panitia ikut bernyanyi sambil bernafas lega melihat acara yang mereka perjuangkan sejak lama ini. Dihadiri juga para alumni dari berbagai daerah juga dosen. Salah satu nilai plus acara ini adalah panggung dan sound nya sangat baik, sayang sekali apresiasi dari mahasiswa setempat sendiri kurang tinggi. Padahal acara tersebut berpotensi lebih ramai lagi.

Penulis dan foto :
Ashari @arhieashari, sedikit berjiwa jurnalistik
Foto (SG) :
Feari @fearikrisna, anak jurnalistik asli.. 

REVOC : Bersatu di bawah pentas musik..

|

padapanik.com - Setelah resmi menyandang label mahasiswa pada delapan bulan yang lalu, sebuah Malam Puncak Inagurasi digelar oleh mahasiswa baru  Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) 2015 Universitas Islam Bandung (Unisba) di arena Gedung Sasana Budaya Ganesha pada Sabtu, 22 Mei 2016. Event ini menjadi pembuktian atas kekompakan yang selama ini dibangun sekaligus ajang memperkenalkan diri kepada masyarakat luas dengan menunjukan identitas sebagai mahasiswa Fikom Unisba angkatan 2015.


Mengusung tema “Revolution of Communication” (Revoc), acara yang rutin digelar setiap tahun ini berusaha memperkenalkan sejarah komunikasi dalam balutan konser musik. Berbagai nama ahli komunikasi seperti Adinegoro, Harrold Laswell, dan Wilbur Schramm terpampang pada kertas-kertas yang tergantung rapih di salah satu dekorasi acara. Didesain sedemikian rupa, area diluar panggung ini seolah menjadi wahana edukasi bagi pengunjung untuk menelusuri mesin waktu dan mempelajari perkembangan komunikasi dari waktu ke waktu.


Berbeda dengan lazimnya event inagurasi yang dikhususkan untuk internal kampus, acara ini bersifat terbuka untuk umum dengan menyuguhkan line up artis dengan genre beragam.  Acara Revoc terlihat mulai ramai saat Kelompok Penerbang Roket (KPR) yang didaulat sebagai salah satu guest star membuka penampilannya. Nama John Paul Patton, Rey Marshall, dam Viki Vikranata yang kini tengah mengudara bak roket, berhasil memanaskan panggung dan menyebarkan energi semangat ke area penonton. Trio rock ini nampak berhasil memanjakan penonton dengan membawakan tembang andalannya Mati Muda dan sejumlah lagu hits lain miliknya.

Seusai dihibur dengan nunansa musik beraliran rock, penonton kembali dimanjakan dengan penampilan cantik dari Danila Riyadi yang nampak anggun mengenakan kemeja putih dan memainkan pianika pada beberapa nomor lagunya. Danila yang setahun belakangan ini cukup sering melanglang buana di berbagai acara pensi kampus, terhitung sukses mewarnai acara Revoc dengan lantunan suara khasnya. Menyanyikan beberapa lagu seperti Junko Furuta, Berdikstrasi, Terapaut Oleh Waktu, Senja di Ambang Pilu. Musisi muda berkulit putih itu juga menyelipkan sebuah pesan kepada penonton yang hadir untuk lebih aware dan menghargai wanita, mengingat maraknya kasus kekerasan seksual di Indonesia belakangan ini.

Berlanjut menuju line up selajutnya, suasana sedikit mencekam pun tiba-tiba terasa saat Sarasvati menembangkan potongan bait lagu Lengser Wengi dari balik panggung. Sebagian penonton yang penasaran terlihat mulai merapat ke area tengah panggung untuk meyaksikan aksi Risa Sarasvati beserta bandnya lebih dekat. Tidak diduga, sesosok makhluk berambut panjang dan mengenakan kostum putih naik ke atas panggung dan berhasil menakuti sejumlah penonton wanita yang hadir kala itu. Bermaksud menciptakan perasaan merinding pada penonton, aksi Sarasvati ini menjadi kejutan kecil yang meramaikan acara Revoc yang untungnya tidak bertepatan di malam jum’at. Dalam kesempatan itu, Risa Sarasvati juga mengucapkan rasa syukurnya atas penghargaan dan pencapaian yang telah diraih karena hari itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun Sarasvati Family yang ke-10.

Semakin malam, suasana area panggung terlihat semakin meriah dengan hadirnya musisi yang mayotitas digemari oleh kaum adam penyuka musik blues. Ya... Gugun Blues Shelter menjadi salah satu line up artis yang sukses menghentak panggung malam itu. Tampil dengan formasi yang baru, permainan musik berkelas berhasil disajikan ketiga personil tersebut. Betotan bass yang dimainkan oleh Fajar Adi Nugroho berpadu apik dengan permainan gitar dari sang vokalis (Gugun). Kepuasan penonton nampak dari nyaringnya riuhan penonton saat ketiga personil tersebut menutup penampilannya.

Tampil sebagai grup band terakhir, Mocca yang memiliki kedekatan khusus dengan kota kelahirannya (Bandung) nampaknya tidak pernah kehilangan penggemarnya. Meski membawakan lagu yang didominasi bahasa inggris, suara yang dilantunkan oleh adik kandung Dewi Lestari ini selalu berhasil menyihir penonton untuk sekedar bersenandung atau bernyanyi bersama di sepanjang bait lagunya.

Menutup perhelatan Revoc, tren musik Electronic Dance Music (EDM) sepertinya dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk mendatangkan aktor sekaligus DJ Herjunot Ali. Pemeran Jafran dalam film 5cm ini tak kalah sukses menghipnotis penonton lewat kepiawaianannya dalam memainkan jari jemarinya di balik meja DJ. Bermain selama kurang lebih satu jam, Junot tampil begitu atraktif dan sesekali maju ke depan panggung dan menunjukkan sedikit kebolehannya menggoyangkan badan. Sebagai line up penutup, Junot berhasil tampil memukau dan memberikan kesempatan bagi penonton untuk menyalurkan energinya dengan berdansa dan bergoyang menikmati setiap alunan musik bernuansa upbeat yang dimainkannya. 

Penulis :
Feari @fearikrisna, salah satu mahasiswa tingkat akhir yang datang ke acara maba...
Foto : 
Rizal @rizalrmdhn, fotografer siap cepat di beberapa media online..