Banner

Tampilkan postingan dengan label RILISAN FISIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RILISAN FISIK. Tampilkan semua postingan

ALBUM REVIEW : ADRIAN YUNAN - SINTAS

|

padapanik.com - Nama Adrian Yunan Faisal sebenarnya bukan nama yang asing di scene musik lokal. Ia dikenal sebagai bassist Efek Rumah Kaca yang bisa di katakan sebagai salah satu grup indie dengan massa terbanyak saat ini. Ditengah nama besar ERK yang semakin melambung, ia memutuskan untuk vakum karena harus berjuang melawan virus yang menyerang penglihatannya. Di tengah perjuangan tersebut, ia masih berhasil menyelesaikan tugas mengisi suara bass dalam album Sinestesia. 

Selama ini, banyak yang mengira kalau lirik-lirik jenius dari ERK adalah tanggung jawab Cholil Mahmud sang vocalist sekaligus guitarist. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Di beberapa lagu, Adrian ikut menulis lirik. Salah satunya di lagu "Keberagaman" yang menjadi salah satu fragmen lagu "Kuning". Single terbaru ERK berjudul "Merdeka" juga adalah hasil buah pikiran Adrian Yunan. 

Disalah satu Konferensi Pers, Cholil mengungkapkan bahwa selama ERK vakum, ia berharap Adrian bisa mengisi kekosongan. Menurutnya, lagu-lagu Adrian sangat banyak dan layak untuk di publikasikan. 

Sintas akhirnya dirilis. Sebuah album full perdana dari project solo Adrian Yunan. Dengan keterbatasan yang dimilikinya saat ini. Adrian meninggalkan Bass nya sementara dan bermain gitar akustik lalu bercerita dari panggung ke panggung. 

Folk Akustik adalah jalur yang diambil. Sederhana dan jujur adalah benang merah dari genre ini. Jalur ini menjadi sangat mainstream di kalangan indie akhir-akhir ini. Sebuah hal yang kontradiktif. Pria bijak dengan Gitar akustik akan datang dan bercerita dengan kesyahduhannya.

Oleh karena itu orang-orang akan men-generalisasikan album ini sebelum mendengarkan. 

Nuansa akustik dalam album ini malah tidak begitu kental seperti yang lain. Hal ini karena musiknya dikemas juga dengan nuansa Elektronik dari tangan dingin Muhammad Asranur. Ternyata hasilnya menarik. Perpaduan yang aneh tapi seru. Selain itu didukung juga dengan permainan perkusi dan bass yang apik. 

Album ini sepertinya telah melewati proses panjang dalam setiap tema yang diangkat maupun liriknya. Terdiri dari 10 lagu yang sangat spiritual. Adrian Yunan berhasil mematangkan album ini sebelum akhirnya di dengarkan secara umum. Setelah mendengarkan sebulan penuh, penulis mereview album ini dengan sangat yakin.

Mikrofon menjadi track pembuka, lalu Lari keduanya akan mempermainkan imajinasi dan gambaran visual di otak pendengar. Merdu, Syahdu, Bijaksana, dan haru. Kedua lagu ini sepertinya tidak butuh video klip. Dengarkan dengan headset, maka bayangan visual nya akan muncul.

Parti & partner adalah lagu yang sangat personal, Lagu ini di hadiahkan untuk teman nya yang saat itu menikah. Kesannya lagu ini hanya di buat untuk moment tertentu. Hanya spesial untuk mereka yang ditujukan. Bukan buat orang lain. Dan pastinya lagu ini dibuat dalam waktu singkat. Ternyata tidak sama sekali. Ini mungkin akan menjadi salah satu track favorit di album ini. Lirik dan musik dikemas sangat sesuai. Ketukannya akan mudah di tangkap oleh otak. Nuansa nya juga cocok untuk jadi backsound video pernikahan.

Terminal Laut mungkin akan jadi lagu yang cocok buat anak-anak. Tentang sahabat diujung perpisahan yang berjanji akan bertemu kembali. Liriknya adalah contoh penempatan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Di sesuaikan dengan latar laut yang di hubungkan dengan tema sebelumnya. Tidak lupa pesan moral yang tidak maksa.

Komedi Situasi dan Mainan adalah eksplorasi unpredictable di album ini. Bermain tempo yang jarang di gunakan di genre ini. Di Komedi Situasi, Adrian memainkan beat layaknya musik hip hop yang swag dibawakan oleh Elda Suryani (Stars and Rabbit) ternyata bukan eksperimen yang ngasal. Kapan lagi mendengarkan Elda bernyanyi lagu berbahasa Indonesia setelah keluar dari Evo? Apalagi dengan cara bernyanyi nya hampir seperti Rapper. Unik, dan liriknya pun magis. Kematangan penulisan lirik ke level yang lebih tinggi. Lagu Mainan memainkan tempo yang lebih cepat, Tentang rasa bersalahnya ke pada sang anak saat merusak mainan. kedua lagu ini sepertinya adalah part yang easy listening atau dikemas dengan mood yang ceria.

Setelah melewati part tadi, akhirnya masuk lah ke part yang sulit dan spritual seperti yang sudah dituliskan sebelumnya. Mimpi Seperti Hidup akan menurunkan mood pendengar jauh menjadi sendu, lemah, dan gelap. Entah kenapa, nuansa lagu nya seperti Dewa 19 di album-album awal. Mungkin cuma perasaan atau karena effect vokal yang digunakan sama. Ruang Yang sama akan datang sebagai penasehat yang menyenangkan. Kedua lagu ini adalah fase-fase perenungan yang sangat spritual. Pendengar di bawa untuk merasakan kegelapan yang dirasakan oleh penulis lirik. 

Tak ada Histeria menjadi sebuah pelipur lara. Setelah melewati perjalanan dalam album ini, salah satu track terbaik datang dengan suasana easy listening. Tak ada Histeria seperti menghibur bahwa apa yang baru saja kita lewati adalah hal yang biasa-biasa saja, anggap saja sebuah pengalaman dan terapi menuju kematangan pikiran dan iman. 

Alzheimer menjadi track penutup. Lagi-lagi menyedihkan. Tapi setelah melewati masa-masa panjang sebelumnya, Alzheimer hanya akan menjadi sesuatu yang mungkin akan datang ke pribadi yang telah siap. Lebih jauh dari itu, di lagu ini menggambarkan sikap seseorang yang mau tidak mau harus siap menghadapi takdirnya. Semua yang lahir akan kembali, Jangan takut. Sambutlah. 

"Selamat datang hari tua, bercumbulah dengan jenaka"
"Selamat datang masa lelah, dan tunggulah aku disana". 

Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, Album ini adalah album folk yang harus nya dijadikan referensi bagi yang baru akan memulai menulis lagu nya sendiri. Lirik indah dan puitis tanpa makna mendalam hanya akan di dengarkan dalam waktu singkat. Album ini adalah sebuah kematangan. Penulisan lirik, Penataan Musik, hingga Penyusunan track. Album yang ditunggu dan layak. 

Review Singkat : 
  • Packaging : 7.0
  • Materi : 9.0
  • Hits : "Tak ada Histeria"
  • Rekomendasi : "Terminal Laut"
  • Musik terbaik : "Lari"
  • Lirik terbaik : "Komedi Situasi"

Penulis :
Ashari @arhieashari

ALBUM REVIEW : PLAYFVL CAB "Hide and seek"

|

padapanik.com - “Cadas!” mungkin jadi kata pembuka yang cocok nih buat ngebuka review album satu ini. Playfvl Cab adalah band asal kota kembang yang beranggotakan 4 personil yaitu Wiwendo Ramadony, Arief Ismail, Krisna Rinaldi dan Raden kresna yang memainkan musik alternative rock.

Pertama kita bahas packaging album ini dulu deh. Packaging dibuat simple dengan wadah cd yang terdiri dari karton tebal diluarnya dan mika seperti biasa di dalamnya. dilengkapi artwork seorang manusia dengan tangan yang menutupi seluruh muka beserta pohon layu, perosotan dan bangku disekitarnya seperti menggambarkan ketakutan atau penyesalan seseorang yang ditinggalkan tanpa ada siapapun kecuali benda mati disekitarnya. Warna langit yang kelabu memperkuat pesan tersebut.

Mari kita dengarkan materi nya. Album ini berisi 5 track, yaitu "Silver fork", "What if I die tomorrow", "Warfare", "Hide and seek" sama "Reckless". Semua lagu terdengar mateng dengan hasil mixing dan mastering oleh Irsyad Ali, Pokonya cukup seru deh buat didengerin!

Distorsi yang dimainkan oleh duo gitaris Arief ismail dan Krisna Rinaldi, hentakan drum Raden Kresna lah yang bertanggung jawab dari lagu-lagu yang termuat dalam album "hide and seek" ini. Riff gitar yang tersaji menjadi bagian yang menarik untuk didengar. Gak lupa juga sama vokalnya Wiwendo yang makin bikin lagu ini terdengar tegas dengan makna makna yang tersurat.

Di track 1 ada "silver fork" nih, sentuhan nada arabic yang dituangkan dibagian sesudah verse awal menjadi sensasi tersendiri buat pendengar (duhh jadi pengen naik haji). Lagu ini bercerita tentang  kebencian yang mendalam pada sesuatu. Kolaborasi Playfvl Cab dan Trisna Bestari sukses menjadi pembuka album yang ciamik.

Single utama yang dijadikan nama album ini juga ga kalah serunya nih. "Hide and Seek" menjadi lagu yang paling memorable di album ini. Lagu ini ngebahas kritik buat seseorang yang tidak mau melangkahkan dirinya untuk maju, kalian jangan kaya gitu yah guys hihi. Lagu ini juga easy listening apalagi dibagian chorusnya, pokonya cocok buat yang lagi kurang semangat biar makin mau maju dan gak males melakukan sesuatu.

Overall album Playfvl Cab ini cocok buat ngelengkapin koleksi musik alternative rock kalian guys, cocok banget buat yang suka Audioslave dan sebangsanya. Kalau kalian suka, Jangan lupa cek media sosial mereka @playfvlcab

Penulis :
Rizal Ramadhan @rzllzrrzl

ALBUM REVIEW : FIGURA RENATA

|

"Makhluk sosial tanpa sosial.”


padapanik.com - Sepenggal lirik yang diramu oleh duo folk pop Figura Renata ini menyentil pendengaran saya. Makhluk sosial tanpa sosial, katanya. Lalu saya meneruskan mendengarkan lagu yang memuat lirik di atas. Benar saja, lagu bertajuk Elegi ini ternyata bercerita tentang generasi sekarang yang sibuk dengan kehidupan sosial dunia maya ketimbang kehidupan sosial dunia nyata. Jika didengarkan hingga selesai, Figura Renata juga menyelipkan sebuah kalimat, “dan ragamu tergeletak diantara lantai retak. Terlewati terinjak dan kau hilang tak berjejak.” Sadis sekali bagaimana duo asal Semarang ini mengkritik gaya hidup generasi zaman sekarang yang memilih berkomunikasi di dunia maya daripada berinteraksi langsung dengan masyarakat di dunia nyata. Singkatnya, Elegi bercerita tentang Generasi Menunduk.

Elegi adalah salah satu karya Figura Renata yang sukses membawa duo ini dikenal publik. Perlahan tapi pasti, Figura Renata mulai mengambil hati para penikmat musik, terutama mereka yang menggemari musik sebagai media berpendapat. Tanpa basa-basi, Figura Renata menelurkan album perdana yang diberi nama sesuai nama duo ini.

Album ini memuat 8 lagu, dimana Elegi yang menjadi batu loncatan juga termasuk di dalamnya. Album ini dibuka oleh Mala, sebuh track sendu dengan lirik repetitif “dan pagi itu, seketika jiwa tak berdosa sirna.”  Jelas, Mala sudah menampilkan identitas Figura Renata yang tegas namun tetap implisit. Berlanjut pada track kedua yaitu Benalu yang juga menghadirkan sebuah kritikan. Dikemas dalam sebuah suasana amarah yang penuh dengan keputusasaan, Benalu bercerita tentang rusaknya lingkungan akibat ulah oknum yang mencari keuntungan semata. Pelukis Dendam, Gersang, dan Balada Penerka tidak kalah sadis. Ketiga track tersebut memuat kritikan yang pedas namun tetap rapi dan berkelas. Terutama Gersang yang berkaitan dengan isu yang sedang ramai saat ini, yaitu penolakan petani Kendeng terhadap pembangunan pabrik semen. Singkatnya, Figura Renata berhasil mengubah orasi berapi-api menjadi lirik ciamik yang menggelitik.

Track selanjutnya sejenak meninggalkan sisi kritis Figura Renata. Hingga Tenang, sesuai judulnya, memang menenangkan. Figura Renata bermain lebih santai di lagu ini, seakan-akan mengimbau kita untuk tetap tenang di tengah gempuran isu sosial yang bertubi-tubi. Selanjutnya ada Rasa dan Karsa yang meyakinkan bahwa selalu ada harapan baru setelah masalah yang berlarut-larut. Dibandingkan lagu-lagu sebelumnya, Rasa dan Karsa ini lebih ‘manis’, tidak lagi dibalut kesedihan dan kekecewaan.

Hal yang menarik dari album Figura Renata yaitu cover album yang memuat ilustrasi dari track yang bertajuk Mala. Apabila dilihat sekilas, artwork album Figura Renata ini terlihat seperti kumpulan objek-objek yang disatukan. Namun ternyata, masing-masing objek dalam artwork karya Andy Sueb tersebut mengandung makna yang kompleks. Proses kreatif penggabungan antara lagu dan cover album menjadi nilai tambah pada rilisan perdana Figura Renata ini.

Sebagai pendatang baru, banyak yang beranggapan bahwa Figura Renata sedikit banyak mirip dengan Banda Neira. Namun pada suatu wawancara Figura Renata menepis anggapan tersebut. Menurut mereka, yang mengingatkan Figura Renata pada Banda Neira mungkin adalah format duo yang sama-sama diusung kedua grup tersebut. Namun meskipun berkiblat pada formasi dan genre yang sama, Figura Renata berhasil menciptakan orisinalitas yang mudah terciri pada duo ini. Melalui vokal Deviassita Putri yang kuat namun tetap sendu dan petikan gitar Bima Sinatrya, Figura Renata tidak perlu waktu lama untuk melekatkan sebuah identitas pada diri mereka, yaitu duo yang menyajikan kritikan berkelas dan beretika.

Kemunculan Figura Renata di blantika musik Indonesia menambah semarak daftar musisi berkualitas yang tidak hanya berbicara tentang nada namun juga makna. Figura Renata telah membuktikan bahwa kritik sosial tidak melulu harus dikaji dengan serius, tapi bisa didengarkan sambil santai sore-sore. 

Penulis :
Andi Hana M. E. @andihaname, Mahasiswa Pertanian yang lebih tertarik mengamati perilaku manusia daripada perilaku belalang sembah. 

ALBUM REVIEW : PARAHYENA - ROPEA

|

padapanik.com - Review rilisan fisik masih menjadi rubrik yang paling ditunggu di padapanik.com! Terimakasih yang selalu setia membaca review nya. Semoga setelah membaca review, ada keinginan untuk membeli rilisan fisiknya. Mohon maaf bila review rilisan fisiknya selalu terlambat, karena butuh waktu menikmati materi nya berminggu-minggu sebelum akhirnya di olah menjadi sebuah tulisan review yang (kami usahakan) kompleks. 

Rilisan fisik kali ini akan membahas tentang album perdana dari Parahyena, satu lagi sentuhan folk dengan warna traditional asal bandung yang siap di dengarkan lebih luas lagi dengan album bertajuk "Ropea" yang dalam bahasa sunda berarti "mengubah" atau "memperbaharui". Diambil juga dari penggalan kata "Rope" dalam bahasa inggris yang artinya "mengikat" sebagai sebuah pertanda kelahiran album perdana menjadi ikatan yang kuat antar personilnya agar terus bersama-sama dalam format band.

Album ini cukup menarik untuk di koleksi. Packaging nya cukup menarik dengan di bungkus sebuah wadah berbahan dasar kanvas dan bonus stiker. Wadah album nya sendiri berbahan karton tebal yang di percantik dengan artwork yang menggambar seorang wanita yang di kelilingi oleh kupu-kupu dan hyena. Album ini seperti biasa di lengkapi dengan beberapa halaman yang terdiri dari halaman thanks to, lirik dan credit yang warna warni di lengkapi dengan foto-foto para personil. 

Album ini berisi 9 lagu. Dengan 3 single yang sudah di rilis lebih dulu. Penari (2014), Ayakan (2015) dan Di bawah rembulan (2016). Hanya ada 5 lagu yang ditulis langsung oleh Sendy dan Parahyena. Sisanya adalah sumbangan lagu dari teman-teman musisi seperti Efiq Zulfikar & Deden Sutris (Cibaduyut), Ade Suntara (Sindoro Sumbing), Dimas Wijaksana (Penantian di perempatan tiongkok) dan Olan (Lebih senang). Wajar kalau di album ini terdapat banyak nuansa yang berbeda. 

Padapanik.com sendiri bertemu Parahyena pertama kali di festival Summer and Rain di tahun 2015. Dengan guitalele dan contra bass mengingatkan kami dengan format Payung teduh. Sayangnya karena terlalu banyak nya band yang tampil pada festival itu dengan dominasi folk. Satu-satunya lagu yang berbekas adalah "Cibaduyut" yang unik, nyeleneh, simple dan mengandung pesan pariwisata di kota Bandung haha.. 

Hingga akhirnya kami sangat sering bertemu Parahyena di berbagai gigs dan menyimpulkan kekuatan dan keunikan Parahyena ada pada nuansa suling sunda, suara biola yang sangat sopran dan suara khas sang vokalis yang terdengar sangat natural dan effortless bahkan tidak begitu "hampura kang" merdu namun sangat sesuai dengan musiknya. Identitas musiknya melekat dengan khas suara sang vokalis.

Meskipun sama-sama identik dengan nuansa sunda, sebenarnya sangat berbeda dengan Tigapagi atau Mr. Sonjaya yang secara format band hampir sama namun tetap dengan rasa khas masing-masing. Ada 2 lagu yang berbahasa sunda yaitu "ayakan" dan "Sindoro sumbing". 

Ada beberapa output musik nya yang terkesan kurang harmoni atau saking banyak nya instrument jadi terkesan balap-balapan. Dengan banyaknya instrument yang sudah ada, di beberapa lagu terdapat penambahan Tabla, Bangsing hingga Beatbox.

Di album pertama, sepertinya para personil Parahyena membebaskan semua ide untuk di masukan. Salah satunya adalah penambahan Beatbox di lagu "Sindoro Sumbing". bahkan di awali dengan penggalan lagu berbahasa inggris yang tidak di jelaskan lagu siapa karena tidak ada penjelasan di lirik ataupun di credit. Lalu di lanjutkan dengan keanehan output suara biola yang aneh di detik 40 (seperti tersendat-sendat). Menurut salah seorang teman sih itu kesalahan pada mixing. Atau bisa aja itu memang kesengajaan dari parahyena itu sendiri.

Kalau suka, kalian bisa membeli album ini dengan harga 45.000 di toko-toko CD terdekat atau langsung menghubungi mereka di instagram.com/parahyena. 

Review singkat.
  • Packaging : 7.5
  • Materi : 7.0
  • Lagu paling reccomended : "Penari"
  • Lirik terbaik : "Penantian diperempatan tiongkok"
  • Musik terbaik : "Berlalu" 
*penilaian secara pribadi, rawan berbeda.

Thanks to : Parahyena.. 

Penulis :
Ashari @arhieashari, kadang sok tau nya berlebihan. Jangan di terlalu percaya! 

Review album lainnya klik disini 

ALBUM REVIEW : TULUS - MONOKROM

|

padapanik.com - Tidak terasa sudah setahun lebih tidak ada yang mengisi konten review rilisan fisik. Padahal konten ini paling banyak mendapatkan views. Sayangnya mereview musik adalah hal yang menegangkan, saat proses menulis dan saat di baca orang lain. Semuanya menegangkan. Tapi mari kita biasakan. Selamat menikmati! 

Album "Monokrom" baru keluar bulan lalu, pasti single nya masih jadi jagoan di radio-radio dan playlist favorit di handphone kalian. Album ketiga mahakarya Tulus ini sebenarnya tidak mudah untuk di sukai dalam waktu yang singkat. Album ketiga jauh lebih banyak eksplorasi dan tingkat kesulitan yang tinggi sehingga tidak se pop di album sebelumnya. 

Mari kita mulai dengan packaging nya. Seperti biasa Tulus tidak mau begitu fokus pada kemasan nya. Masih menggunakan foto nya sebagai cover dan kaca mika sebagai wadahnya. Sepertinya Tulus sedikit pesimis dengan penjualan CD dan tidak berani membuat kemasan yang lebih ekslusif dengan resiko harga rilisan nya ini naik sedikit. Album ini masih dijual dengan harga Rp.25.000,- tentunya masih dibawah rata-rata rilisan fisik yang keluar akhir-akhir ini. Hal ini juga mungkin menjadi alasan kenapa semua lagu di upload di channel youtube "musiktulus" yang pastinya membuat nya bisa didengarkan dan di download secara cuma-cuma. 

Single pertama "Pamit" sudah di upload videoklip nya sejak bulan februari 2016 dan sudah ditonton hampir 10 juta views. Kemunculan "Pamit" membuat sebagian pendengar terkejut karena dinamika vokal nya yang unik dan nuansa string nya kental sekali. Tidak mudah untuk menyanyikan lagu ini, salah satu alasan mungkin kenapa album ini tidak se pop sebelumnya. Dan lagu-lagu lainnya menyusul seperti single kedua "Ruang Sendiri" yang di buat "bersahut-sahutan" antara vokal utama dan backing vocal yang terbagi beberapa suara. Yang ini jauh lebih sulit dinyanyikan karena peran backing vocal itu tadi. Pola seperti itu kembali digunakan di beberapa lagu seperti "Manusia kuat", "Tukar Jiwa", dan "Lekas". Sepertinya Tulus akan ditemani backing vocal setiap live di panggung-panggung selanjutnya. 

Jangan khawatir untuk yang belum siap, penulis butuh beberapa hari untuk menemukan kenikmatan mendengarkan lagu-lagu dalam album ini. Coba dengarkan "Tergila-gila" dan "Monokrom" yang masih kental dengan nuansa tulus di album selanjutnya. 

Lagu-lagu Tulus dalam album ini memang menantang, kualitas lagu nya di sokong komposisi chord yang ribet dan unik, dinamika vokal yang sulit, dan nuansa string megah nya membungkus sebuah album yang menjadi pembuktian 5 tahun perjalanan tulus di Industri musik tanah air. Berat tapi loveable. Lagu "Manusia kuat" menjadi pembuka track yang kuat seperti lagunya. Jangan lupa, yang unik di lagu ini adalah eksplorasi instrument yang mencoba menggunakan Ukulele di lagu "lekas" dan Harmonika di beberapa lagu. Nuansa string nya sendiri diisi oleh The city of prague philharmonic Orchestra yang direkam langsung di Smecky Studio, Prague, Czech Republik.

Lirik? Jangan ditanya lagi. Tulus menunjukan kematangan penulisan lirik bahasa Indonesia yang baik dalam album ini. "Ruang sendiri" adalah salah satu track dengan lirik yang jenius. Track yang dijadikan single kedua ini memiliki perspektif yang unik. Bagaimana kalian jika di minta menulis lagu tentang "cewek posesif?" saya yakin akan keluar sound yang meriah ala pop punk dengan lirik yang blak-blakan dan offensive. Tulus merubah cara berkomunikasi dengan sang wanita sehingga terdengar lebih baik. 

"Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin, Hingga aku lupa rasanya sepi"
"Aku butuh tahu, seberapa ku butuh kamu, percayalah rindu baik untuk kita"
"Jika kau ingin tahu seberapa besar rasa yang kita punya, kita butuh ruang"

Hal yang terdengar "akal-akalan" aja bagi cowok, tapi sebaliknya terdengar begitu "melted" bagi cewek. Jenius! Tidak tanggung-tanggung videoklipnya diisi oleh Seniman kontemporer Melati Suryadarmo yang mendapat banyak di luar Indonesia. Bahkan masuk dalam "10 young artist to watch by Marina Abramovic". Yang cukup aneh, videoklip ini tidak diizikan berkomentar pada kanal youtube nya atau di non aktifkan. Apakah takut terjadi multi tafsir dari penonton?

Sisi romantis seorang Tulus bisa di dengarkan di track "Cahaya" dan Track tergalau ada pada "Langit abu-abu" yang miris. Liriknya gila, yang melankolis pasti langsung berkaca-kaca. Gosipnya sih, lagu ini mengarah ke seorang penyanyi cantik (Kebanyakan gosip sama ibu-ibu). 
"Ayo tulis di buku harianmu, kelak jelaskan bila engkau punya waktu" 
Tulus menutup album ini dengan track "Monokrom" yang bercerita tentang teman-teman kecilnya yang kini terpisah. Lagu ini juga menjadi perwakilan rasa terimakasih Tulus terhadap siapa saja yang mendukung nya hingga menjadi seperti saat ini. Lagu ini manis sekali bagi siapapun yang mendengarnya. Tulus menunjukan sisi romantisme nya di luar kisah percintaan. 

Selamat membeli dan mendengarkan album nya :) Saya dengan bangga merekomendasikan album ini untuk dibeli dan dinikmati mana saja.

Penulis : 
Ashari @arhieashari, masih berusaha mengcover lagu "cahaya" tanpa fals..
Review Rilisan fisik lainnya, klik disini

ALBUM REVIEW : STARS AND RABBIT - CONSTELLATION

|
via : facebook.com/starsandrabbit
Padapanik.com - Mungkin jika ada nominasi "album yang paling ditunggu" album ini pastilah akan menjadi salah satu dari nominasi nya atau bahkan jadi pemenangnya. Sejak kemunculan duo folk Stars and Rabbit 2011 lalu saat beberapa video live mereka di unggah di situs Youtube. Sosok nyentrik Elda Suryani dengan suara unik, lucu namun begitu emosional menyampaikan pesan-pesan dalam lagu yang liriknya ia tulis sendiri dari cermin pengalaman pribadinya ternyata begitu menarik perhatian. Jika mendengar suaranya, beberapa mungkin ingat seorang vokalis wanita yang memenangkan ajang pencarian vokalis sekitar tahun 2006-2007 di sebuah televisi swasta.Vokalis Evo yang memainkan musik rock alternatif atau vokalis Stars and Rabbit yang melantunkan musik pop folk adalah sosok yang sama. Kali ini dengan partnernya Adi Widodo, maka lahirnya duo indie idola baru yang cukup menarik perhatian para penikmat musik. Tidak perlu waktu lama, Stars and rabbit akhirnya membentuk pasarnya sendiri, hal itulah yang akhirnya membuat album ini berhasil di selesaikan.

Full album perdana mereka berjudul "Constellation". Dalam album ini sebenarnya tidak ada lagu yang berjudul serupa, satu-satunya kata Constellation terselip dalam lirik lagu "Man upon the hill". Constellation dalam bahasa Indonesia berarti Konstelasi atau yang lebih dikenal dengan "rasi bintang". Mungkin ini adalah bagian imajinasi Elda tentang bintang dan bagaimana ia melihat sifat tersebut ke dalam kehidupannya sehari-hari. Pastinya bakalan imajinatif dan dipenuhi lirik-lirik yang multi tafsir.

Seperti biasa, review akan dimulai dengan packaging nya! Seperti judulnya, tulisan Stars and rabbit berlatar belakang rasi bintang, jadi buat yang belum tau judulnya, mungkin akan mengira judulnya self tittled. Karena hanya background tersebutlah yang mewakili judul (atau tulisan constellation di bagian sisi). Ketika membuka cd ini juga berbeda karena membukanya seperti membuka sebuah amplop (atau apa yah? penulis susah menjelaskannya) di buka dari belakang secara vertikal, tidak seperti kebanyak CD yang dibuka dari depan secara horisontal. Uniknya, Setiap lirik lagu di pisah-pisah, semua lirik ditulis tangan (mungkin ditulis langsung oleh Elda) dengan sederhana, bahkan beberapa lirik terdapat coretan, disertai gambar-gambar kecil. Album ini juga menyertakan Artwork berupa ilustrasi tiap lagu di balik liriknya. Juga terdapat juga foto Elda dan Adi plus tanda tangan keduanya. Cukup menarik.

Jika terbiasa mendengarkan Stars and Rabbit dengan musik minimalis. Kali ini akan dikagetkan dengan aransemen full band. Semua lagu kembali di aransemen dengan full band yang secara tidak langsung membentuk ambience yang emosional di bandingkan dengan nuansa folk di EP Live at the Deus. Kecuali lagu "Rabbit Run" yang pada akhirnya dibiarkan dengan format akustik.

"Like it here" yang menjadi lagu pembuka di album ini memang mengagetkan, bass yang menggema dan hentakan drum di awal mungkin akan membuat bingung para pendengar yang terbiasa dengan stars and rabbit yang akustik. Lalu di lanjutkan dengan single pertama dalam album ini, "The House", sebenarnya karena lagu ini adalah satu-satu nya lagu yang baru di publish setelah adanya album ini. Sedangkan lagu lainnya sudah sering dibawakan. Di posting lebih dulu di bulan mei kemarin, cukup mudah lagu ini untuk membuat pendengarnya jatuh cinta dan memutarnya berulang kali. Lalu dilanjutkan "catch me" yang dimulai dengan melodi gitar elektrik tapi masih diiringi oleh suara gitar akustik yang dominan. Juga beat-beat yang ditambahkan suara drum dan keyboard. Lagu ini membawa pendengar ke nuansa folk ala bar-bar Eropa atau Amerika selatan dengan sedikit nuansa reggae (penulis sok tau). Suara backing vocal sang gitaris juga sangat berperan dalam lagu ini. Keputusan yang tepat membuat lagu ini di aransemen full band.

via Instagram @littlesuri
Masih dengan nuansa yang sama, "Worth it" dengan beat drum nya membuat pendengar tidak sadar menggerakan badannya untuk bergoyang mengikuti irama. Lagu pertama yang dikenalkan oleh stars and rabbit ini memang sangat cepat di sukai oleh para fans. Saat tampil di salah satu gigs Bandung, lagu ini tidak di masukan dalam setlist karena Elda mengaku cukup bosan membawakannya (mungkin karena sudah sangat lama dan sudah sering dibawakan), namun akhirnya tambahan lagu terakhir, atas desakan penonton, lagu ini akhirnya di bawakan. Lagu ini juga di eksekusi dengan aransemen full band yang tepat. Lalu di lanjutkan dengan akustik folk ala "rabbit run" yang ceria dan menggemaskan. Harusnya lagu ini bisa di tempatkan di awal album agar pendengar tidak kagok saat musik stars and rabbit full band di track pertama. Dilanjutkan "Cry little heart" yang menyayat, dan "I'll go along" yang kini menghentak, dimulai dengan efek gitar yang kering lalu diikuti drum dan bass yang menyalakan suasana lagu.

"You were the universe" yang terdengar pahit dan emotional love song "summerfall" yang dinyanyikan dengan cukup sulit dan akhirnya sampai kepada "Man upon the hill" lagu ini sebenarnya sudah pernah di aransemen full band dalam video live studio yang di upload beberapa tahun lalu dan akhirnya sempurnakan di album ini. Ambience bahagia dalam lagu ini benar-benar tersampaikan. Dan di tutup dengan "Old man finger", lagu yang paling unik (menurut penulis) mungkin karena nada-nada nya yang liar, salah satu lagu yang terkesan berbeda dan jadi warna musik yang paling menyolok dari musik stars and rabbit.

Salah satu kekuatan stars and rabbit juga ada pada liriknya, semua di tulis oleh Elda dengan perasaan yang berbeda-beda. Tidak hanya cara bernyanyinya, tapi imajinasi nya dalam berbagai hal yang dituangkan dalam seni memang membuat decak kagum. "Elda itu magic banget" ujar Adi saat Signing Sessions Constellation di Omuniuum, Bandung. Mungkin saat ini hanya Adi lah yang bisa menerjemahkan lirik-lirik tersebut ke dalam bunyi yang dia (Elda) mau. Sebenarnya tidak banyak kosakata sulit, penempatan yang tepat dan analogi yang manis, hampir semuanya terkesan pas. Bahkan beberapa kalimat sangatlah memukau. Butuh waktu untuk memahami alur cerita yang coba di ceritakan dalam album ini, Tentang like it here yang menjenuhkan, Hingga jatuh ke titik The House yang sulit, lalu masa-masa sulit lainnya hingga meluapkan semuanya di lagu Cry little heart. Lalu I'll go along yang menjadi pelarian, kesedihan yang coba ditutupi dengan berjalan jauh, dan kembali melihat realita perjalanan hidup yang pahit, masa-masa sulit dimana saat tidak ada keinginan berbuat apa-apa, left me out with nothing, nothing but my pens and paper~ dan akhirnya kembali menemukan cinta di pertengahan musim Summerfall, dan inspirasi baru di atas bukit Man upon the hill sebuah saat yang menyenangkan untuk di lewatkan, And We danced in the room, Grew our heart a blom, I stop right there, You've found a new home, and I should be happy.....

Kebahagiaan di akhiri dengan melihat kembali semuanya, dan menyadari hal-hal yang tidak di terpikirkan sebelumnya, menjadi sebuah proses yang lebih baik. Tentang sang penulis skenario, yang di gambarkan dengan Old man finger. 

Menyenangkan sekali membaca dan mencari makna dari lirik-lirik tersebut, meskipun tidak semuanya benar. Beberapa lagu mungkin jauh lebih galau dari Adele haha. Album ini berisi total 11 lagu dan semuanya ditulis dalam lirik bahasa inggris. Seperti biasa ada pilihan track favorit, penulis memilih Old man finger, Man upon the hill, The House dan You were the universe.

Album ini di produseri oleh mereka sendiri, Artwork nya sendiri di buat oleh Nady Azhry. Keunikan dalam album ini adalah Mastering nya oleh John Davis, Metropolis studios, London yang sudah menangani artis-artis seperti Lana del rey, Led zeppelin, blur dll. Berawal dari mencari nama-nama master engineering dari band-band favorit mereka, dan dengan memanfaatkan email, ternyata John Davis sendiri sangat tertarik dengan album constellation. Hal ini harusnya jadi semangat optimis bahwa album ini harusnya bisa dipasarkan di luar Indonesia. Jika tidak salah, The House jadi salah satu soundtrack film Hollywood Wander yang akan tayang tahun ini. Semoga benar.

Selain itu, album ini juga di promosikan melalui Constellation Asian Tour 2015 di beberapa kota seperti Malang, Bali, Shenzhen, Hong kong, Guanzhou, Manila dan Jakarta. Sekian! Selamat mendengarkan!

Note : 
Penulis saat ini hanya mereview album-album yang disukai dan review bersifat subjektif. Jika ada album yang kalian sarankan untuk di review, silahkan tinggalkan komentar di bawah atau contact kami melalui email. Agar album yang kami review lebih variatif. Terimakasih telah membaca, jangan lupa di share :)

Oleh : Ari
Baca juga : 
Review album : Deugalih and Folks "Anak sungai" 
Review album : The Triangle "Self titled"
Review album : Tigapagi "Roekmana repertoire"  

ALBUM REVIEW : DEUGALIH & FOLKS "ANAK SUNGAI"

|
Sumber foto : Twitter @kineruku
padapanik.com - Penantian band folk asal Bandung, Deugalih & Folks selama 5 tahun akhirnya berbuah manis. Sebuah album bertajuk "Anak Sungai" menjadi penyempurna karir mereka setelah seringkali menjadi bintang diberbagai panggung Indie. Judul "Anak Sungai" diambil dari sebuah lagu dengan judul yang sama dalam album tersebut, Judul album ini mengandung filosofi sebagai band yang siap melakukan perjalanan dan mengarungi sungai yang baru.
"Menjadi musisi bukan hanya soal apakah bisa hidup dari musik atau tidak, Tapi apakah kita bisa hidup tanpa musik atau tidak" - Deugalih
Album ini memiliki Packaging yang sangat baik. Bahkan Covernya hasil dari Artwork yang sangat imajinatif dan menyenangkan mata. Warna air sungai yang digambarkan begitu hidup, Dan secara umum menggambarkan bahwa album ini menjanjikan banyak sekali cerita yang harus di dengarkan. Album ini juga sangat cocok untuk dijadikan hadiah kepada sahabat karena tampilannya yang catchy.
Cover album ini juga pernah di jadikan background panggung saat Launching album ini, bahkan di buat bergerak.

Mari memutar CD dan mendengarkan..

Lagu pertama, "Anak Sungai" Dengan tempo yang pelan, Lagu ini sangat tepat untuk menjadi lagu pembuka, sebagai sebuah salam perkenalan terhadap warna musik Deugalih & Folks yang kental dengan nuansa Folk nya. Suara Guitar Akustik dan Konga seperti sangat harmoni, Ditambah Tin Whistle yang membuat suasana serasa di tengah sampan yang sedang mengarungi sungai. "Di bawah bendera" menjadi lagu selanjutnya yang membawa pesan terhadap tercemarnya Sungai Citarum, Meskipun begitu, Nuansa yang dihadirkan lebih cepat, Nuansa Folk Eropa bahkan menurut Deugalih, Musiknya terkesan centil. Lagu ini juga kental dengan Instrumen Mandolin nya.

"Bunga Lumpur" masih dengan tempo yang asik dan mungkin enak untuk sedikit bergoyang. Lagu ini menjadi Single pertama dalam album ini. Ada sensasi aneh dalam lagu ini, Masih dalam lingkaran folk tapi beberapa part terkesan mengandung unsur Jazz. Apalagi dengan Instrument yang megah dan permainan keyboard yang jazzy. Sebuah penggabungan yang unik. Lagu ini dipersembahkan khusus untuk anak-anak Petani di Indramayu

"Minggu pagi" kembali ke nuansa folk yang menenangkan pikiran. Lagu ini diciptakan oleh Abah Donny untuk Rhiannon, putri sulungnya. Di lagu ini, pendengar bisa mendengarkan Vokal yang sederhana dengan harmoni berbagai instrument musik yang baik, dan Lirik yang manis membuat lagu ini seperti menjadi sebuah kesatuan yang utuh. "Sebagai tanda cintanya, pada Bunga dan Rumput, dia santuni sepenuh hati" Sebuah penggalan lirik yang menjadi doa untuk anaknya agar dapat mencintai alam sekitarnya.

"Buat Gadis Rasyid" lagu yang diciptakan Deugalih saat tugas kampus ini merupakan musikalisasi dari puisi yang dibuat Chairil Anwar (Yang terampas dan yang terputus 1949) untuk seorang jurnalis wanita tangguh. Lagu ini mengeksplore kemampuan bernyanyi Deugalih habis-habisan agar lagu ini terasa emosional. Bagian akhir lagu, Deugalih juga berpuisi dan dibait terakhir di ledakan dengan Teriakan ala post rock dari Deugalih (yang notabenenya adalah mantan vokalis band grunge).
Lalu "Ilalang" yang kembali pelan dan menyenangkan. Sebuah fakta unik, lagu ini diciptakan bersama lagu berjudul Sore dan keduanya dinyanyikan langsung secara spontan tanpa ada revisi lirik sampai lagu ini di rekam dan masuk dalam album.

"Heyya Kid" berlirik bahasa inggris dengan nuansa ceria layaknya musik folk yang bercerita. Lagu ini juga sepertinya sangat cocok di dengarkan untuk anak-anak. Lagu ini diciptakan oleh Rasus Ono untuk anaknya agar tegar menghadapi fenomena Bully di sekolah nya.

"When No One Sing This Song" lagu ini hanya diisi oleh Gitar dan Harmonika. Nuansa Folk balada yang pada dasarnya memang berisi pesan atau seruan terhadap orang banyak. Deugalih awalnya sedih ketika menonton berita di CNN yang menyebutkan "Senjata Israel 90% akurat" padahal di balik dibanggakannya senjata tersebut, ada banyak anak-anak yang mati dan kehilangan kebahagiannya. We can share our pain my friend~ "Earth" Lagu ini mungkin sudah sering di perdengarkan disetiap Deugalih & Folk manggung. Dibalik lagu jelas sudah di buat sejak lama, Tahun 1998. Dimana saat itu juga terjadi sebuah kerenggangan antara etnis Tionghoa dan pribumi. saat itu Deugalih merasa dunia tidak lagi tempat yang nyaman. Bahkan Indramayu (tempat lahir Deugalih)."Becoming White" menjadi penutup dari album ini. Kali ini hanya Deugalih yang bernyanyi dan bermain gitar sendiri, Terinspirasi dari buku Cultural Studies dengan judul yang sama karya Aquarini Priyatna. Oh iya, lagu ini adalah satu-satunya lagu yang di rekam secara live di kamar Galant, Bandung.

Hampir di setiap review album di padapanik.com hanya menggambarkan secara umum, Tapi untuk album ini, memang sangatlah sulit. Semua lagu memiliki cerita-cerita hebat dibaliknya. Tidak hanya itu, Nuansa Folk dari Deugalih & Folks seperti tidak kehabisan aransemen sehingga menciptakan musik folk yang sangat berbeda. Nuansa Tin Whistle sangat kental dan menjadi pemanis hampir di setiap lagu. Juga vokal dari Deugalih yang berat tapi merdu, Terasa dari hati dan tulus. Musik Folk juga jadi media untuk menyampaikan keluh kesah mereka (semua personil). Entahlah, tapi semua pujian ini terasa tidak lebay untuk perjuangan dan kerja keras mereka selama lima tahun. Dan 35.000 Rupiah terasa tidak sebanding dengan apa yang mereka sajikan dalam 10 lagu.

Best Track (subjektif) dalam album ini adalah Minggu Pagi, Bunga Lumpur, dan Anak Sungai. 

Jika ditanya adakah kekurangan dalam lagu ini? Cukup bingung sebenarnya, tapi yang tertangkap di telinga penulis hanyalah kurang puas di lagu Buat Gadis Rasyid jika dibandingkan dengan saat live dengan emosi yang lebih meluap. Mungkin karena bagian dari proses editing dan lain-lain sehingga terdengar lebih halus.

CD better than Mp3

Oleh : Ari

Baca juga : 
Konser Anak Sungai "Deugalih & Folks"                                           http://bit.ly/1IP1IME 
Album "Cold Sun" Zaggle Griff                                                        http://bit.ly/1HrtVad
 Album "Roekmana Repertoire's" Tigapagi                                          http://bit.ly/1IDyEo9

ALBUM REVIEW : JUICY LUICY "DANSA MALAM"

|

Padapanik.com - Juicy Luicy, Band indie asal Bandung ini memang beberapa kali menarik perhatian saya ketika menikmati sejumlah gigs yang ada di Bandung. Konsep gatsby style 20an dengan jumlah personil yang keroyokan, genre musik Jazz (atau Soul?) dengan suara Saxophone sebagai pemanis di tiap lagu, membawa pendengar ke suasana yang mewah. Suasana mewah itu kayak gimana? gak tau, saya sendiri bingung, coba dengarkan saja sendiri. 

Packaging yang sederhana, konsep album keseluruhan adalah surat. Album ini di ibaratkan sebagai penyampaian pesan via surat kepada sahabat (pendengar) yang jauh dari mereka. Packaging album berbahan dasar kertas tipis dengan design amplop surat cokelat khas kantor pos, lengkap dengan prangko bergambarkan Gedung sate. Sedangkan bagian dalam amplop bergambarkan peta kota Bandung. Selain CD, ada kartu Pos bergambarkan foto Juicy Luicy dan sebuah surat berisikan ucapan terimakasih dari Juicy Luicy. Album ini benar-benar membawa anda ke dalam suasana zaman kejayaan surat menyurat, saling berkabar satu sama lain melalui Pos kepada teman jauh. Wait, ini baru packagingnya loh.. 

Mari mendengarkan ..

Dari Bandung kami nyanyikan... Salam hangat kami sampaikan...
Kami.. Juicy Luicy... Selamat... Menikmati...

Sebuah Intro berdurasi 1 menit lebih, bernyanyi acapela dengan pembagian suara. Juicy Luicy membuka album ini dengan hangat, kembali membawa suasana album ini yang seolah di buat untuk kawan-kawan mereka dimana pun mereka berada.

Lagu pertama, Dansa Malam. Saya yakin, lagu ini langsung membuat para pendengar jatuh cinta. Suasana dansa sesuai lirik lagu benar-benar terasa disini. Setiap orang yang mendengarnya akan mudah mencerna lagunya yang ringan dan membuat setiap orang ingin berdansa. Dilanjutkan dengan "Terjebak Persahabatan". Track ini membahas tema Friendzone yang sedang ramai di kalangan anak muda, masih dengan suasana khas Juicy Luicy. dan beberapa lagu terus berputar hingga tidak terasa, 6 Track dalam album ini telah dimainkan. Permainan Bass yang manis, Backing vocal yang asik, dan Saxophone yang megah bikin lagu-lagu Juicy Luicy sangat cocok untuk di dengarkan saat melepas penat sepulang kuliah atau kerja.

Album ini full berbahasa Indonesia dengan tema kehidupan anak muda pada umumnya. Secara keseluruhan, album ini bisa dibilang kaya akan suasana. Dengar kan saja track "Kejar daku kau ku tangkap" yang lebih terdengar slow dan swing, lalu "Lagi-Lagi" yang seketika kembali lebih ramai dan meriah dengan tempo yang up beat.

Album ini secara keseluruhan sangat reccomended buat kalian pencinta musik Indie lokal namun terdengar easy listening. Diantara sejumlah band yang mengusung genre yang sama, musik Juicy Luicy terdengar paling mudah di cerna. Sangat mudah di konsumsi oleh siapa saja, bahkan bukan penikmat musik Indie sekalipun.

Oleh : Ashari

ALBUM REVIEW : DANILLA "TELISIK"

|

Album " Telisik " menjadi sebuah debut album seorang Penyanyi Wanita bernama Danilla Jelita Poetri Riyadi ini. Kedatangannya dalam acara SABOTAGE di Demajors Radio menumbuhkan rasa penasaran untuk segera membeli dan mereview Album dari seorang Wanita yang punya pribadi aneh ini (kesimpulan diambil setelah menyimak Sabotage). Nah, bagaimana hasilnya? mari kita bahas pelan-pelan. 

Jujur sedikit kecewa dengan packaging albumnya yang biasa. Plastik bening padat (entah apa namanya) dengan sebuah cover beserta kumpulan lirik yang menjadi sebuah kumpulan catatan. Cukup tebal, 14 lembar. Sehingga ketika dikeluarkan, begitu sulit untuk dimasukan kembali ke pembungkus CD nya. Beberapa layout dari kumpulan lirik tersebut juga sedikit kacau. Terkesan seperti lirik yang di copy, lalu menggunakan efek Justify (rata kiri kanan) sehingga ada spasi-spasi yang lebar. salah satu yang kacau ada di bagian lirik Buaian. Foto dan lirik hampir tidak ada spasi. Entah mungkin konsepnya seperti itu atau kenapa, entahlah. Dari segi covernya, perpaduan warna biru (atau hijau?) dan foto dengan simplenya memang bikin penasaran gambaran dari isi album ini. 

Oke cukup bahas tentang Packaging nya. Keinginan untuk mendengar satu persatu Track dalam album ini sudah tidak bisa di bendung. Lagu pertama berjudul "Penutupan", 16 Detik, judul yang tidak cocok dijadikan track awal, dua kalimat tanpa musik. Wanita ini sangat aneh. Imajinasinya liar, setidaknya itulah yang tergambar di 16 detik awal. "Ada di Sana" sebuah track kedua langsung membuat keheningan, mungkin ini seperti Jazz, atau Swing sekitar tahun 50an. Sulit sebenarnya menentukan genre nya. Yang jelas. Track kedua ini langsung membuat terciptanya Cinta pertama pada album ini. 

Track utama dalam album ini adalah "Buaian". Temponya lebih cepat dari lagu pertama. kali ini terdengar lebih easy listening, ala era 50-60an dan tentunya di perkuat dengan lirik-liriknya yang khas. Setelah lagu "buaian" lanjut ke sebuah track berjudul "Reste Avec Moi" yaitu sebuah lagu berbahasa Prancis yang ditulis oleh ibunya sendiri, Ika Ratih Poespa. Sangat membawa pendengar ke suasana muram dan mendung. meskipun tidak paham makna liriknya. "Wahai kau" selanjutnya menjadi track paling "manis" di album ini, masih dengan nuansa yang sama, lirik yang romantis. kali ini berduet dengan Lafa Pratomo, seorang partner yang banyak menulis lagu dalam album ini. 

"Terpaut oleh waktu", dan "Bilur" jadi track yang menghanyutkan dengan irama yang ballad. selanjutnya "my favorit things" sepertinya akan menjadi salah satu track yang banyak di sukai. Terdengar seperti Mocca atau semacamnya, namun suara Danilla yang alto dan terdengar seperti berbisik dan galau, menjadi pembeda dalam album ini. Di akhir track, sebuah track berdurasi 16 detik kembali berjudul, "Pendahuluan" (apakah ini terbalik?) atau jadi sebuah akhir yang akan berlanjut lagi? 

"Tiada lagi yang bisa.. Temani ragaku.. Tiada lagi yang bisa.. Bekali Jiwaku" 
Track terakhir, 16 detik. Tanpa musik, suara Danilla di akhir track ini seketika membuat suasana suram, merinding dan gelap. Dan berakhirlah album ini. Jika mendengar track terakhirnya, akan membuat pendengar jadi kembali ketagihan dengan suara merdu Danilla. "ah kok habis sih?" "gantung banget nih endingnya". "Pendahuluan" benar-benar menjadi Pendahuluan, dimana para pendengar akan kembali memutar ulang lagu-lagu dalam album ini.

Ciri khas vokal yang menarik, dan Pribadi yang unik.
I Really love this album..

CD more than Mp3

Penulis : Ari


ALBUM REVIEW : ZAGGLE GRIFF "COLD SUN"

|
Cover Depan 
Penantian Panjang band rock asal Bandung, Zaggle Griff akhirnya mengeluarkan sebuah album bertajuk "Cold Sun" september 2013 kemarin. masih dengan nuansa alternative rock yang memacu, Zaggle Griff membuka album ini dengan pelan. lagu pertama Cold Sun dimulai dengan intro yang cukup lama (sekitar 1 menit lebih) yang membawa pendengar mencoba menebak-nebak lagu seperti apa yang akan dimainkan ketika masuk vokal. setelah Cold Sun, pendengar dibawah ke nuansa asik dari lagu Live The Dream. nuansa alternative rock nya sangat segar dan asik. lagu tersebut adalah lagu dengan durasi terpanjang yang ada di album ini. 5.26 menit telinga kita dimanjakan oleh musik rock bertempo cepat dengan komposisi distorsi gitar yang cukup asik. Di lagu selanjutnya, dengan tempo yang seimbang dan mood yang baik penempatan lagu Never Find That Floor di awal.

Tempo diturunkan dan suasana yang sedikit lambat di mulai di Track 4 berjudul Darkside On You dan beberapa judul setelahnya. bagi kalian penggemar Zaggle Griff, lagu Leather Jacket and Shoes yang sebelumnya sudah sering diputar di radio juga ada di album ini. Menurut beberapa media, Single Kedua dari album ini adalah The Sun Behind The Rain. lagu ini bernuansa pop rock, temponya diawal sedikit lambat tapi sangat easy listening.

Jika ditanya tentang single Rekomended, disekian banyak lagu yang nuansanya terdengar hampir sama dan harus memilih satu, Father in Nowhere Land jadi pilihan saya.

Oh iya sedikit tambahan, lagu The Sun Behind The Rain di album ini ada dua versi. versi satunya lagi versi akustik, terdengar lebih manis memang. tapi versi full bandnya juga masih terdengar lebih baik.

Untuk Packaging, Cover album ini di dominasi warna cokelat muda. artwork di covernya juga cukup menarik. ada bonus poster kecil juga.

CD better The Mp3 :) 

Penulis : Ari


ALBUM REVIEW : THE TRIANGLE

|

Album The Triangle, hasil perpaduan Riko Prayitno (Mocca), Fikri Ardiansyah (Vincent Vega) dan Cil  ini menghasilkan sebuah album yang mengusung rasa Indie Pop-rock dengan khas Gloomy. lembut dan suram, sepertinya itulah rasa yang coba di gambarkan dalam album ini.

Dari segi Packaging sendiri, The Triangle memilih artwork yang keren sebagai covernya dan sebuah celah segitiga ditengahnya, Album ini di dominasi warna hijau. Hijau Mint, Hijau Tua, hingga Tosca. entah ini membawa kesan apa, tapi secara keseluruhan. artwork dan desain album ini sangat mewakili isi albumnya.

10 lagu dalam album ini terkesan hampir sama. sepertinya karena ini album pertama, maka The Triangle mencoba menguatkan karakter mereka agar diingat pendengar. masih dalam suasana gelap dan galau, lagu ini dibuka dengan suasana yang tenang namun datar lewat track Great Below. "Tentang Kita" adalah satu-satunya lagu dengan bahasa Indonesia di album ini, tapi sepertinya bukan lagu jagoan di album ini. Should I? menjadi salah satu track yang menonjol (atau mungkin track jagoan?). lagu ini terkesan sangat minor, suasana gelapnya terasa bertambah dengan suara distorsi gitar yang berisik sebagai backsoundnya.    One-sided Affair juga menghadirkan rasa yang lembut, salah satu track recomended di album ini. selain itu, How Could You? track ini sepertinya bakal menjadi track favorit banyak pendengar di album ini. Album ini di akhiri dengan Track Tranquility of Solitude Sebuah track Instrumen guitar.
oh iya, album ini diperkuat bunyi-bunyian terompet. sulit dibayangkan bukan?

CD Better Than Mp3 

Penulis : Ari

ALBUM REVIEW : TIGAPAGI "ROEKMANA'S REPERTOIRE"

|
Cover Roekmana's Repertoire


Album tigapagi ini memiliki packaging yang keren dan unik, cover depan hanya merah maroon bertuliskan TIGAPAGI yang berperan sebagai bingkai. sebagai gambar utamanya, sebuah foto bergaya vintage. tidak hanya itu, terdapat beberapa foto vintage lainnya yang memperkuat nuansa folk dalam album ini. tidak hanya lagu, packaging album ini juga sangat menarik dan mendukung.

Album perdana Tigapagi ini bertajuk Roekmana's Repertoire. menceritakan tentang perjalanan seseorang tokoh bernama Roekmana yang menggambarkan kegelisahannya yang terjebak dalam situasi kekacauan pada saat itu. hal ini juga dihubung-hubungkan dengan situasi kekacauan politik di Indonesia beberapa tahun silam.

Suasana kelam tersebut coba digambarkan oleh Sigit Pramudita, Eko Sakti dan Prima Dian Febrianto dalam satu track yang terdiri dari 14 lagu, Nuansa Folk dan tambahan unsur musik sunda, lirik - lirik cerdas yang membawa para pendengar pada persepsi masing-masing, dan dikemas dengan sendu. Karena dijadikan satu track, tidak ada jeda antara satu lagu dan lagu lainnya. Menurut Sigit sendiri, Album ini terbagi atas suasana tiga waktu yaitu Sore, Malam dan Dini Hari yang diibaratkan sebagai waktu yang terus berjalan tanpa jeda.

Dibuka oleh lagu "Alang-alang" langsung membawa pendengar ke nuansa yang sendu, di lanjutkan dengan "Erika", dalam lagu Erika yang berduet dengan Ida Ayu Made Paramita Saraswati terdengar seperti Cranberries. Lagu "Tangan Hampa dan Kaki Telanjang" juga masih menjadi lagi favorit dalam album ini.

CD Better than Mp3 :)  

Penulis : Ari