Banner

Tampilkan postingan dengan label SERIES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERIES. Tampilkan semua postingan

Akhir yang mengesankan, Terimakasih Money Heist

|


padapanik.com - Apa yang menyenangkan di tahun 2021 mu? Selain akhirnya kita kembali bisa nonton bioskop sambil makan popcorn, dan tidak lagi nonton konser via zoom. 2021 ditutup dengan berakhir nya salah satu series netflix terfavorit sepanjang masa. Yang mungkin menjadi teman kalian melewati pandemi Covid 19 ini. Memang "Money Heist" sebenarnya sudah tayang di Netflix sejak tahun 2017. Namun, tanpa perlu mendebatkan siapa yang udah nonton duluan dan siapa yang ketinggalan zaman. Serial Money Heist menjadi sangat hype di tahun 2020 disaat orang-orang di dunia sedang berada dirumah aja dan akhirnya mayoritas mulai melirik Netflix sebagai pilihan menonton karena tutupnya bioskop. Ditambah lagi, Hype nya meningkat karena di tahun itu juga rilis season ke-empat. 

Series asal spanyol yang katanya ratingnya terus turun saat pertamakali tayang di TV spanyol ini malah menjadi salah satu ikon pop culture dunia yang akan terus diingat hingga 20 tahun kedepan. Bahkan menjadi ikon dari spanyol itu sendiri. Dalam interview para cast, mereka bersyukur kalau saat ini jika orang spanyol bertemu orang asing tidak lagi hanya membicarakan soal klub bola Real Madrid atau Barcelona. Tapi tentang serial TV perencanaan perampokan yang fenomenal! Money Heist! Mari kita ulas 5 episode terakhirnya yang ditulis dengan sangat jenius. 

Setelah kematian Tokyo, para perampok masih harus berjuang untuk menyelesaikan misi dan keluar dari gedung bank. Sedangkan kematian 6 tentara akibat bom bunuh diri Tokyo hanya menyisahkan 3 tentara dengan kondisi 1 orang yang membutuhkan penanganan medis. Diluar bank, Professor dan Alicia masih saja tidak saling percaya. 

Lagi-lagi Money Heist mengingatkan penonton kalau serial ini bukan soal perampokan belaka. Mereka melawan sistem suatu negara dengan mempermainkan logika dan psikologis dari pihak kepolisian, badan keamanan negara, hingga masyarakat sipil nya sendiri. Di season ini mereka lebih gila lagi dengan mempermainkan negara-negara lain diluar spanyol. Bisa dibilang, 5 episode terakhir ini dieskekusi dengan sangat brilian dan diluar ekspektasi. 

Mari kita patahkan teori beredar dahulu. Tokyo sebagai pembaca narasi ternyata tetap menjadi pembaca narasi hingga akhir cerita. Money Heist tidak peduli dengan logika pembaca narasi yang ada hubungannya dengan film atau si pembaca narasi sedang membaca sebuah catatan peninggalan. Narasi hanyalah narasi, tidak ada hubungan nya dengan film. Sama seperti pembaca narasi dalam sebuah pertunjuan teater. Teori kalau semuanya akhirnya mati atau teori ending lainnya yang lebih gelap memang tidak akan rela diterima fans money heist, karena semua nya ingin geng perampok menang. 

Secara mengejutkan, 2 karakter baru yang diprediksikan menjadi karakter kunci malah menjadi plot twist yang sangat menarik. Sayangnya memang karena waktu terbatas jadi penyelesaian konflik nya seperti dipercepat gitu. Season ini juga masih belum lepas dari konflik drama percintaan yang sebenarnya sudah tidak perlu mengingat di 5 episode terakhir harusnya jauh lebih padat lagi khususnya untuk konflik baru antara geng perampok dan duo dari masa lalu. Money Heist masih saja mempertahankan konsep drama percintaan yang tidak memiliki premis kuat. Anehnya, Karakter Rio yang sedang galau-galau nya ditinggal tokyo malah terlihat cepat normal kembali. Malah Denver yang masalah nya biasa saja harus dipanjang-panjangkan untuk melengkapi durasi. 

Meskipun begitu, penyelesaian terhadap serial ini benar-benar sangat memuaskan. Jenius dan logis, tidak tekesan memaksa bahkan twist-nya tidak kepikiran sama sekali. Konsep logika yang dipaparkan oleh professor tentang "emas sebagai simbol negara" menjelaskan logika berpikir yang menarik tentang bagaimana sebuah negara memamerkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, namun menjadi sesuatu yang superpower yang bisa menyelamatkan negara. Emas disini dijadikan suatu komunikasi non verbal yang menjelaskan keadaan suatu negara. Menarik, tidak hanya tembak-tembakan intens atau perampokan yang dimenangkan tapi jauh lebih dari itu Money Heist mengajarkan bagaimana sistem dibuat dan bagaimana sistem itu bisa dipermainkan atau bahkan di hancurkan. 

Akhir yang sangat menarik dimana keduanya dimenangkan bersama-sama. Pilihannya berubah menjadi dua pihak menang atau dua pihak kalah benar-benar tidak terduga, meskipun sudah terlihat sejak awal kalau kolonel Tamayo sudah tersudut dengan berbagai ancaman. Ending yang mengesankan dan memuaskan banyak pihak adalah ending yang paling tepat untuk sebuah serial yang sangat dicintai. Terimakasih Money Heist. 

Penulis :

 Ashari @arhieashari 

SQUID GAME, FORMULA LAMA DENGAN RAMUAN NETFLIX YANG VIRAL

|

padapanik.com - Dengan premis yang cukup simple dengan menang hidup dan kaya, lalu kalah dan mati, Squid Game mengingatkan kita akan film atau series yang serupa. sebut saja Battle Royale, SAW, ataupun Alice in Borderland yang akan hadir season 2 nya di Netflix tahun ini. Bagi kami, ada satu hal yang sangat memukau dari menonton secara marathon series ini selama semalam, yakni production design nya yang ciamik dengan tendensi menghadirkan pesan - pesan simbolik dan memiliki arti di masing - masing permainannya. Mulai dari arena permainannya yang ikonik, kamar tempat mereka saling menyusun rencana, sampai tangga dan ruangan yang ada di dalam ruangan kontrol gamenya memberikan kesan yang nempel di mata penonton series yang disutradarai oleh Hwang Dong-hyuk ini.

Para pecundang di Korea Selatan mendapatkan undangan untuk mengikuti permainan dimana mereka harus bertarung hidup mati demi mendapatkan uang milyaran won dengan memainkan permainan khas anak - anak di Korea.

Cast dalam series yang digadang - gadang menjadi series paling trending di Netflix ini sangat loveable. Kekacauan yang Gi-hun buat atas keegoisannya pun membuat kita merasa orang ini harus mati duluan, tapi semakin berjalannya series ini, kita menjadi simpatik dan pelan - pelan menyimpan harapan. Tapi bagi kami, Gi-hun adalah tetap bapak paling kampret di dunia. Sang-woo adalah sebenar - benarnya character development yang paling membuat penonton emosi, dari yang biasa saja ke simpatik, berubah ke mode “ini orang bangke” sampai diakhir kita memaklumi dan menghapus dosa - dosanya walaupun dengan gerakan blunder dengan pengorbanan yang sia - sia itu. Antagonisnya pun memerankan peran yang sangat baik. Bagi kalian yang sudah menonton series ini, plot-twist diakhir, aktor dibalik semua ini bisa dibilang mengingatkan kami terhadap ikoniknya John Kramer yang diperankan oleh Tobin Bell diakhir film SAW franchise

Tidak banyak yang bisa kami bahas akan sound design nya, selain suara permainan green light, red light yang lagi viral di TikTok saat ini. Namun satu hal yang pasti adalah konsep dari series ini dipikirkan dengan sangat matang. Beberapa adegan gore pun ditampilkan secara eksplisit walaupun masih dalam batas kemanusiaan. Film dengan konsep survival dengan memainkan permainan masa kecil ini sebenarnya sudah di mulai dengan satu film Jepang berjudul As The Gods Will di tahun 2014 kemarin, namun Squid Game menurut kami lebih menitik beratkan kepada pengembangan karakter dan intrik antar peserta di dalam game.

Cukup bagi kami memberikan skor 8 untuk series ini. Mungkin tidak sempurna, namun series ini bisa mengobati kerinduan kamu dengan pengalaman menonton series yang menyenangkan sekaligus penuh dramatisasi ala Korea Selatan. 

penulis :
Iryansyah Nasir @iyannasr_ 

GENK KOSAN IMPERFECT YANG RUSUH. REVIEW IMPERFECT THE SERIES (2021)

|

padapanik.com - Keberhasilan film dan buku "Imperfect" karya Meira Anastasia dan Ernest Prakasa menjadi salah satu contoh penulisan drama komedi yang sangat tepat dan cocok untuk pasar Indonesia. Bahkan, Imperfect (2019) bisa dikatakan menjadi film Ernest Prakasa yang paling bisa bersaing dengan karya film terbaiknya, Cek Toko Sebelah (2016). Ernest prakasa meyakini film komedi dengan drama yang menyentuh menjadi formula yang paling tepat untuk Indonesia. hal ini cukup tepat karena untuk era ini, sepertinya masih sangat sulit untuk mengadaptasi film CGI ala hollywood. Jika ingin bersaing khususnya di Asia. Film drama komedi lah yang paling memungkinkan. Hal ini bisa dilihat dari karya-karya film Thailand beberapa tahun terakhir yang sangat kuat dengan genre Drama-Komedi nya. Indonesia lewat film-film Ernest Prakasa sepertinya sangat cocok. Asal, kurang-kurangin jokes internal. Biar bisa Go International.

Begitupula dengan series, setelah "Cek Toko Sebelah series" yang ditayangkan di Hooq, platform yang sudah almarhum itu loh. Sayangnya, sepertinya series di Indonesia baru-baru mulai diminati saat awal pandemi, menonton series menjadi hobi umum apalagi dengan adanya Netflix dan Disney+. Jika Indonesia membuat series, Drama-Komedi adalah genre yang tepat yang bisa dikembangkan saat ini di negara kita. Imperfect The Series membuka hype series di Indonesia. Sebelumnya, salah satu original series We TV yaitu "My Lecture My Husband" sudah memulai hype nya sendiri.  

Sayangya, WeTV sendiri masih cukup asing di kalangan penonton Indonesia, sebagai sebuah platform nonton atau OTT, WeTV tidak sebegitu populer Netflix atau Disney+. Meskipun begitu, banyak yang belum tahu kalau menonton series di WeTV sebenarnya bisa diakses gratis, bedanya kita hanya harus menunggu sedikit lebih lama untuk menonton episode terbaru karena aplikasi nya mendahulukan user VIP yang berbayar tentunya. Jika ingin membayar pun, sangat murah. Sekitar Rp.20.000,- perbulan. Kalian juga bisa menyaksikan Imperfect The Series di iflix. 


Sebelum kita masuk ke ulasan nya, Padapanik mau mengajak kalian untuk ikut terlibat mengulas film "Imperfect" (film yah, bukan series nya) di website terbaru padapanik yaitu ulas.id caranya gampang, tinggal daftar, bikin username kamu, lalu pilih film yang ingin kamu ulas (pastikan mengulas film yang sudah kamu tonton yah). Tentuin ratingnya versi kamu, lalu tulis ulasan singkat tentang film nya. Terimakasih sudah #bantufilmindonesia

Imperfect Series mengambil timeline sebelum pertemuan antara Rara dan Dika. Saat itu, Dika (Reza Rahadian) sedang bekerja di Surabaya sedangkan ceritanya berfokus pada geng kosan diantaranya Neti, Prita, Endah, dan Maria sebagai anak terakhir yang masuk ke dalam keluarga kosan nya Bu Ratih. Setiap anak kosan memiliki warna nya masing-masing. Neti seorang make up artist yang bucin, Prita seorang agen pulsa yang doyan main game, Endah seorang mahasiswi yang doyan K-pop dan Maria, cewek papua yang sedang fokus mencari kerja. 
Keempat karakter utama tersebut memiliki konflik nya masing-masing namun dalam 12 episode ini, cerita lebih banyak berfokus pada kisah cinta Neti (Kiky Saputri) yang menjadi 'bucin' setelah berpacaran dengan Doni atau Don don (Bintang Emon) seorang artis figuran. Sedangkan Neti berprofesi sebagai make-up artis. 

Produser, Sutradara, Tim Penulis dan Konsultan Komedi

Secara mengejutkan, Ernest Prakasa mencoba nama-nama baru dalam proyek nya kali ini. Biasanya, Ernest lebih banyak memberikan kesempatan untuk talent-talent dibawah manajemen nya seperti di series Cek Toko Sebelah yang di kerjakan oleh 3 sutradara diantaranya Bene Dion, Arie Kriting dan Soleh Solihun (Ketiganya dibawah manajemen milik Ernest). Untuk proyek kali ini, Hanya Ardit Erwandha sebagai konsultan komedi yang di ajak oleh Ernest. Di posisi sutradara, Naya Anindhita dipilih. Mungkin karena Imperfect lebih banyak bercerita tentang perempuan, maka Ernest memilih sutradara perempuan agar ada sentuhan khusus. Naya sendiri sudah pernah mengerjakan film "Sundul Gan : The Story Of Kaskus" (2016) dan Eggnoid (2019). Sedangkan penulis, duo stand up comedian Erwin Wu dan Sigit Exit menjadi tandem yang sangat baik. 

Sekali lagi jika di bandingkan dengan "Cek Toko Sebelah The Series" rasanya sangat jauh kualitasnya. Imperfect The Series begitu padat dengan komedi, meskipun ceritanya sederhana, tapi sangat berhubungan satu sama lain. Selain itu, proses menyambungkan cerita nya dengan timeline asli di film Imperfect terasa sangat mulus. 

Jika kalian mengharapkan porsi drama yang lebih besar, series ini cukup imbang antara porsi komedi nya yang padet dengan drama nya yang menyentuh. Formula ini jelas adalah formula andalan film-film Ernest. Setiap karakter nya memiliki potensi komedi nya masing-masing, khususnya karakter Bu Ratih yang harus diacungi jempol karena mau ngapain aja disuruh-suruh sutradara melakukan hal-hal yang mungkin gak pernah dia lakukan, bahkan mungkin beliau gak ngerti. Minusnya di potensi komedi karakter yang diperankan oleh Ari Irham seringkali miss, bukan kesalahan aktornya. Tapi entah direct nya, penulisan komedi nya atau editor nya yang kurang tepat. Sehingga humor ala Jepang atau Thailand tersebut tidak masuk. Atau emang karena gak lucu dan ngebosenin aja momen nya. 

Karena karakternya di develop dengan baik, rasanya banyak formula komedi yang diulang berkali-kali namun tetap lucu. Misalnya formula komedi Maria yang selalu salah menempatkan penggunaan kata pada kalimat yang diucapkan, hal ini pernah dilakukan di scene terlucu film Imperfect dulu saat membahas kosakata sunda "meuren". Neti yang komedi nya vulgar dan ceplas ceplos serta pronounciation bahasa Inggris nya yang selalu salah. Endah dengan kepolosan nya sebagai gadis garut yang kuliah di Jakarta dan Prita yang ngomong apa aja lucu. Diluar itu, akting keempat pemain nya sangat luar biasa. Beberapa mimik wajah yang ditampilkan membuat detail nya menjadi komedi. Menarik sekali. Ditambah lagi, kalau kalian familiar sama komedi-komedi dari Ardit Erwandha, kalian akan lebih mudah tertawa saat menonton serial ini. 

Kesuksesan Imperfect Series membawa mereka menjadi series paling laris di WeTV. Hal ini pula yang membuat tim Ernest langsung men-develop naskah untuk season 2 nya. Selain itu, Ernest Prakasa juga baru saja selesai membuat series terbaru dari salah satu film nya "Susah Sinyal". 


Penulis : 

Ashari @arhieashari

The Devil All the Time : Semua Orang Punya Garis Akhir

|



padapanik.com - Film terbaru Netflix The Devil All the Time diangkat dari novel berjudul sama karya Donald Ray Pollock. Uniknya, sang penulis novel juga bertindak sebagai narator di film ini.

The Devil All the Time dibintangi oleh banyak aktor papan atas Hollywood, mulai dari Tom Holland, Bill Skarsgård, Sebastian Stand, Robert Pattinson, Jason Clarke, hingga Mia Wasikowska. Maka dari itu, tidak heran jika film ini cukup mudah dalam menarik minat penonton.

Namun, kita semua tahu film bertabur bintang tidak selamanya menjanjikan. Lalu, bagaimana dengan The Devil All the Time?

Film ini fokus pada banyak karakter dengan masalah dan timeline hidupnya masing-masing. Sedari awal, kita disajikan konflik dari berbagai karakter yang nantinya akan saling bersinggungan satu sama lain.

The Devil All the Time mengambil latar di dua kota kecil sekitaran Ohio, Amerika Serikat, bernama Meade dan Knockemstiff pada akhir 1940an, pasca perang dunia ke-2. Cerita dibuka oleh Willard Russell (Skarsgård) yang baru pulang perang dan jatuh cinta pada seorang pelayan cantik bernama Charlotte (Haley Bennett). Dari keduanya, lahirlah Arvin Russell (Holland) yang nantinya akan menjadi tokoh utama cerita.

Hidup adalah sekumpulan nestapa yang menunggu giliran untuk datang dan film ini tahu benar cara menyajikannya. Arvin sudah berkenalan dengan duka sejak kecil. Ibunya sakit kanker, lalu anjingnya dibunuh sang ayah yang terbius dengan konsep pengabdian pada Tuhan. Mengorbankan satu untuk menyelamatkan yang lain, mereka malah kehilangan keduanya.

Dibutakan malam, Arvin marah kepada ayahnya dan Tuhan. Dia berlari sambil berteriak di hadapan tanda salib di tengah hutan, untuk menemukan ayah yang sudah mengiris nadinya sendiri. Peristiwa ini menandai pertemuan perdana Arvin dengan karakter penting lain, yakni Sheriff Lee Bodecker (Stan).

Bodecker, berdedikasi namun korup seperti penggambaran polisi di layar Hollywood pada umumnya, dikisahkan memiliki adik perempuan yang gemar bertindak kriminal. Sandy (Riley Keough) dan partnernya Carl (Clarke) kerap mengangkut para pemuda yang butuh tumpangan (hitchhiking) lalu memaksa mereka berfoto cabul.

Setelah berhubungan seks dengan Sandy di alam terbuka, para pemuda itu dibunuh dan fotonya dikoleksi. Carl yang gemar mengoleksi foto sadis tersebut tidak jarang menyiksa korbannya terlebih dahulu. Sudah merasa cukup atau masih perlu karakter problematik lain?



Tenang,
The Devil All the Time juga punya Reverend Preston Teagardin (Pattinson), pendeta baru yang memanfaatkan posisinya untuk memenuhi hasrat seksual. Si pendeta sinis yang menyebarkan nuansa antagonis kuat itu gemar menyitir ayat untuk memperdaya korbannya.

Sejak awal film, nuansa agama hadir begitu kuat. Setiap karakternya juga mengalami transformasi kesucian yang beragam. Bagaimana Willard muda yang tidak berkenan berdoa, namun malah membangun salibnya sendiri di gelap hutan. Arvin, yang menyaksikan kepolosan ayahnya dalam berkorban, justru menjadi sinis. Dia tetap ikut beribadah bersama nenek dan adik tirinya, namun tetap percaya kekerasan adalah jalan keluar semua masalah. Semua punya caranya sendiri, semua juga punya garis akhirnya masing-masing.

Perkembangan beragam karakter yang kuat seperti ini menjadi salah satu poin penting dalam The Devil All the Time. Film yang baik memang harus seperti ini. Dia tidak menunjukkan benar dan salah secara kasat mata, tetapi membuka pikiran penonton akan beragam kemungkinan.

Selain mendalami karakter, penonton juga akan dimanjakan oleh aksen Southern yang memiliki intonasi tinggi. Tentu menarik menyaksikan Robert Pattinson keluar dari cangkangnya dan menjelma menjadi pendeta bersuara lantang. Kita pun mulai bisa belajar mengenali Tom Holland sebagai seorang aktor, bukan hanya superhero Marvel Spiderman.

Tidak perlu menjadi pecinta film berlatar lawas untuk menyukai The Devil All the Time. Film ini menghadirkan paket lengkap sebagai sebuah karya yang paripurna. Konfliknya rumit dan dengan cerdas mencapai klimaks di akhir. Akting para pemainnya juga all out.

Terlepas dari porsi beberapa peran penting yang terasa kurang banyak, film The Devil All the Time dari Netflix bisa menjadi opsi tontonan menarik di akhir pekan.


Penulis:

Rean Hidayat @reanhidayat

Menikmati Kebingungan Konsep Waktu Melalui Serial Dark

|


padapanik.com - Di tangan sineas kreatif, waktu dapat didefinisikan sebagai sebuah elemen subjektif. Waktu bisa jauh dan dekat, tergantung dari mana kita melihatnya. Saat menyelami dunia Dark, kita akan bertemu fase masa lalu, masa kini, serta masa depan yang sebenarnya saling mengisi dan mempengaruhi.

Dark mengambil latar di sebuah kota kecil di Jerman bernama Winden. Ada sesuatu yang menjadi magnet disana. Winden seperti sebuah petak mistis yang dilupakan dunia. Semua warganya tidak mau meninggalkan kampung halaman, bahkan sampai kakek nenek.

Serial dibuka dengan adegan Michael Kahnwald yang gantung diri dan meninggalkan sepucuk surat untuk anaknya, Jonas. Kematiannya semakin misterius karena di amplop tertulis pesan agar surat jangan dibuka sebelum 4 November 2019, yang berarti lima bulan ke depan.

Jonas, terguncang dan kebingungan, dua bulan absen dari sekolah. Sekembalinya ke sekolah, Winden kembali dirundung duka. Kali ini ada anak bernama Erik Obendorf yang menghilang secara misterius.

Selanjutnya, penonton dihajar oleh rentetan kebingungan yang lain. Semua orang seperti menyimpan rahasia dan dosa. Ada Ulrich Nielsen kepala polisi yang berselingkuh, Ines Kahnwald perawat yang menarik diri dari masyarakat, atau Helge Doppler pasien rumah sakit jiwa yang mengabarkan kiamat ke orang-orang.

Puncak konflik perdana serial Dark di musim pertama adalah hilangnya Mikkel Nielsen di gelap hutan. Anak pendiam berusia 11 tahun ini terpisah dari kakak dan teman-temannya yang sedang mencari drugs di depan mulut gua.

Singkat cerita, saat keluar dari gelap gua, secara misterius Mikkel berada di tahun 1986. Jarak 33 tahun ke belakang tentu cukup jauh untuk mengenali siapa-siapa. Merasa sendiri di dunia yang asing, Mikkel mencari cara untuk kembali pulang. Sama halnya dengan Ulrich Nielsen yang menggali informasi kesana-kemari untuk menemukan sang anak.

Lambat-laun, penonton akan tersadar bahwa persoalan yang terjadi bukanlah soal where, melainkan when. Sampai disini, saya tahu kalau Dark akan memberikan pengalaman sinematik yang unik.

##

Time travel tentu bukan sebuah tema baru di industri perfilman dunia. Sebut saja beberapa film populer seperti Source Code (Jake Gyllenhaal), Edge of Tomorrow (Tom Cruise), hingga Doctor Strange (Benedict Cumberbatch).

Namun, Dark terlihat berbeda karena dia begitu dekat dan nyata. Premis time loop di Winden terasa masuk akal dengan segala konsep fisika yang menyertainya. Terlebih lagi, gua misterius yang menjadi ‘penghubung waktu’ memang berada di lokasi reaktor nuklir.

Bukan hanya di 1986, teka-teki kasus kematian orang juga terjadi di 33 tahun sebelumnya, yakni pada tahun 1953. Oleh karena itu, untuk musim pertama penonton disajikan kisah paralel dari tiga zona waktu tersebut. Penonton dipaksa untuk mengurai korelasi antara satu peristiwa yang terjadi di masa lampau dan masa depan.


Sudah cukup membingungkan?



Menonton Dark memang butuh fokus dan daya ingat yang baik. Kita harus mengerti siapa bertemu siapa, serta apa efek yang ditimbulkannya. Selain kisah yang cukup rumit, ada banyak karakter dengan nama-nama Jerman yang mungkin asing di telinga. Setiap keluarga punya konflik dan rahasianya sendiri.

Tapi dijamin kita akan ketagihan dengan serial ini. Latar muram dan plot twist yang bertebaran disana-sini sangat cukup untuk menahan kita agar tidak beranjak dari kursi. Kadang alur cerita terasa di luar logika, namun biarkan saja diri kita tenggelam di kekacauan plot ala Dark. Perlahan satu per satu benang merah akan terjalin.

Bagi pecinta science fiction, silakan menyelam dalam keindahan Dark. Serial Netflix ini begitu populer, bahkan banyak fansnya yang cukup militan. Tidak heran, Dark mendapat rating 8.7/10 dan tercatat di peringkat 60 dalam daftar Top Rated TV Shows di IMDB. Ide dan plot cerita kuat menjadi modal yang sangat baik untuk menggaet perhatian penonton.


Penulis :

Rean Hidayat @reanhidayat